Tampilkan postingan dengan label partai gerindra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label partai gerindra. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 April 2013

Prabowo Subianto : Empat Tantangan Berat Indonesia

Indonesia menghadapi empat tantangan berat, yaitu menyusutnya cadangan minyak bumi, gas alam, dan batubara; ledakan penduduk; pemerintahan yang lemah, tidak efisien, dan korupsi yang meluas, serta ketimpangan struktural yang menimbulkan ketidakadilan. 
 Oleh: Budi Sucahyo

Kursi yang tersedia di tempat berlangsung ceramah umum Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto di Hotel Mandarin Marina, Singapura, sudah terisi penuh. Masyarakat Singapura dan Indonesia yang berada di sana tampak begitu antusias ingin menyaksikan ceramah umum itu. Bahkan, banyak aplikasi pendaftaran untuk mengikuti ceramah umum itu ditolak karena kuota kursi sudah habis.
Pada 1 Agustus 2012, Rajaratnam School of International Studies (RSIS) Nanyang Technological University (NTU), Singapura, mengundang Prabowo Subianto untuk berbicara dalam sebuah ceramah umum. Prabowo menyampaikan ceramah umum bertema “Indonesia Facing the Future: Challenge for the Next 20 Years”. Prabowo Subianto adalah orang Indonesia pertama diundang memberi ceramah umum dalam kapasitas sebagai salah satu calon kuat pemimpin Indonesia 2014. RSIS juga berencana akan mengundang beberapa calon pemimpin lainnya.
Sekitar 200 tamu menghadiri ceramah umum ini. Mereka antara lain Duta Besar Indonesia untuk Singapura Andri Hadi dan wakilnya Kenssy D. Ekaningsih; Duta Besar Timor Leste untuk Singapura dan Brunei, Roberto Sarmento de Oliveira Soares; Sudradjat Djiwandono dan Bianti Djiwandono; Hashim Djojohadikusumo; Didit Hadiprasetyo; Fadli Zon; serta para akademisi, masyarakat bisnis, dan wakil organisasi masyarakat.
Mengenakan jas dengan dasi berwarna merah, Prabowo mengawali ceramah dengan menyampaikan pandangannya tentang Indonesia. “Saya ingin menyampaikan pandangan saya kepada forum ini bahwa Indonesia memang memiliki potensi riil untuk menjadi sebuah negara maju, sejahtera, dan modern pada abad ke-21 dan sesudah itu,” katanya.
Namun, lanjut Prabowo, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa potensi itu dapat diwujudkan hanya jika sejumlah tantangan besar dapat diatasi. Inilah inti ceramah Prabowo Subianto: Indonesia menghadapi empat tantangan berat, yaitu menyusutnya cadangan minyak bumi, gas alam, dan batubara; ledakan penduduk; pemerintahan yang lemah, tidak efisien, dan korupsi yang meluas; serta ketimpangan struktural yang menimbulkan ketidakadilan.
Mengenai tantangan pertama, Prabowo menjelaskan bahwa Indonesia saat ini menghabiskan sekitar 500 juta barel setiap tahun dengan kenaikan sebesar 10 juta barel per tahun. Cadangan minyak Indonesia yang sudah terbukti saat ini berjumlah 4,3 miliar barel. “Tanpa penemuan sumber minyak baru, cadangan minyak Indonesia akan habis dalam waktu 12 tahun. Ini berarti bahwa pada 2024 Indonesia harus mengimpor semua kebutuhan minyaknya dari negara lain atau menggantinya dengan sumber energi alternatif,” paparnya.
Tantangan kedua yang dihadapi Indonesia adalah ledakan penduduk. Prabowo mengungkapkan, sekarang Indonesia berpenduduk 241 juta jiwa. Menurut badan statistik Indonesia, setiap tahun penduduk naik 1,6%. Artinya, dalam jangka waktu 10 tahun, pertambahan penduduk Indonesia setara dengan enam kali penduduk Singapura. Dalam kurun waktu 10 tahun, pertambahan penduduk Indonesia melebihi jumlah penduduk Malaysia saat ini.
“Dalam waktu 20 tahun yang akan datang, penduduk Indonesia akan bertambah 76 juta mulut baru yang harus diberi makan. Akan ada tantangan untuk menyediakan perumahan, klinik, rumah sakit, dan paling penting lapangan kerja dan pangan,” kata Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia itu.
Jika Indonesia tidak mampu mengontrol pertumbuhan penduduk melalui program keluarga berencana, lanjut Prabowo, terjadi kesenjangan antara jumlah penduduk dan penyediaan pangan. Krisis pangan ini bisa menimbulkan goncangan, pergolakan dan disintegrasi.
Berikutnya, tantangan ketiga adalah pemerintahan yang tidak efisien dan korupsi. Prabowo menggambarkan, tantangan ketiga ini sebagai sebuah lingkaran setan. Mengapa? Sebab, pemerintahan yang lemah mengakibatkan kerja yang tidak efisien. Kerja yang tidak efisien mengakibatkan korupsi. Korupsi mengakibatkan tidak adanya pembangunan, tidak adanya pertumbuhan ekonomi, dan tidak adanya layanan dasar masyarakat. “Kesenjangan dan ketimpangan biasanya menyebabkan negara lemah atau bahkan gagal,” ucapnya.
Terakhir, tantangan keempat adalah struktur perekonomian yang tidak seimbang. Prabowo mencontohkan sirkulasi uang di Indonesia. Sebanyak 60% dari seluruh uang di Republik Indonesia beredar di ibukota Jakarta. Sebanyak 30% beredar di 32 kota lainnya. Hanya 10% dari uang yang beredar di seluruh Indonesia ada di pedesaan. Sementara 60% penduduk Indonesia tinggal di pedesaan. “Ini berarti 10% dari seluruh uang yang beredar di Indonesia dinikmati 60% penduduk Indonesia,” ujarnya.
Prabowo juga memberi ilustrasi lain, yaitu persebaran uang di antara penduduk dilihat dari rekening di bank-bank seluruh Indonesia. Hanya 0,1% dari jumlah rekening menguasai 37% deposito. Mayoritas rekening memiliki tabungan di bawah Rp 100 juta tetapi hanya menguasai 18,5% dari uang itu. “Adalah sebuah kenyataan bahwa 0,17% warga Indonesia mengontrol 45% dari Pendapatan Nasional Bruto Indonesia,” kata putra Begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo itu.
Data anggaran negara juga menunjukkan ketidakseimbangan struktur ekonomi Indonesia. Buktinya, dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia tahun 2012 sebesar Rp 1.200 triliun, hanya 3% atau sebanyak Rp 36 triliun disediakan untuk sektor pertanian. Padahal, 60% warga Indonesia hidup di sektor pertanian.
Ketidaksemimbangan itu menunjukkan adanya kesenjangan struktur dalam perekeonomian Indonesia. Ketidakseimbangan ini akan menimbulkan perasaan tidak puas yang dalam, rasa ketidakadilan, dan rasa kesenjangan di kalangan warga miskin dan remaja. Ada perasaan bahwa setelah 67 tahun merdeka, kemajuan ekonomi hanya dinikmati oleh segelintir orang.

Strategi Dorongan Besar
Terhadap empat tantangan itu, Prabowo Subianto menawarkan sebuah strategi yang dinamakan sebagai Strategi Dorongan Besar. “Rencana itu saya namakan Strategi Dorongan Besar. Strategi ini untuk mencapai sejumlah tujuan secara serempak,” kata mantan Danjen Kopassus ini. Yaitu: Pertama, strategi itu memastikan persediaan pangan Indonesia. Kedua, strategi itu akan memungkinkan Indonesia untuk mandiri di bidang energi.
Lalu, ketiga, strategi itu akan menciptakan lapangan kerja, menurunkan kemiskinan secara besar-besaran, menciptakan daya beli, meningkatkan konsumsi, dan mendorong pertumbuhan seluruh perekonomian Indonesia. Keempat, menurunkan kemiskinan, menciptakan daya beli, meningkatkan konsumsi, dan mendorong pertumbuhan seluruh perekonomian.
Kelima, menciptakan sumber pendapatan baru, pendapatan pemerintah, dan kemampuan anggaran nasional untuk memperbaiki tingkat gaji dan kualitas hidup pegawai negeri dan pejabat-pejabat penting pemerintah, yang pada gilirannya akan meningkatkan upaya untuk melenyapkan korupsi dari birokrasi dan aparatus pemerintah Indonesia.
Keenam, dengan tercapainya pemerintah yang kuat dan bersih, selanjutnya melaksanakan transformasi perekonomian Indonesia dari perekonomian berbasis komoditas/bahan mentah menjadi perekonomian industri maju modern berbasis ilmu pengetahuan.
Prabowo mengatakan, prioritas pembangunan Indonesia adalah menyediakan energi dan pangan yang sekaligus memberikan lapangan kerja. Untuk menjawab empat tantangan itu dibutuhkan pemimpin yang berani dan kuat. “Yang kita perlukan adalah solusi kreatif,” ujarnya.
Pada bagian lain ceramahnya, Prabowo memuji pencapaian para pemimpin Indonesia yang berhasil membawa Indonesia keluar dari krisis ekonomi 1998 dan menjadi negara demokrasi. Namun, ia juga menyayangkan para pemimpin mulai lengah menghadapi empat masalah besar itu.

Sumber: Gema Indonesia Raya

Sejarah Partai Gerindra

Bermula dari Keprihatinan, Partai Gerindra lahir untuk mengangkat rakyat dari jerat kemelaratan, akibat permainan orang-orang yang tidak peduli pada kesejahteraan.
Dalam sebuah perjalanan menuju Bandara Soekarno-Hatta, terjadi obrolan antara intelektual muda Fadli Zon dan pengusaha Hashim Djojohadikusumo. Ketika itu, November 2007, keduanya membahas politik terkini, yang jauh dari nilai-nilai demokrasi sesungguhnya. 
Demokrasi sudah dibajak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan memiliki kapital besar. Akibatnya, rakyat hanya jadi alat. Bahkan, siapapun yang tidak memiliki kekuasaan ekonomi dan politik akan dengan mudah jadi korban. Kebetulan, salah satu korban itu adalah Hashim sendiri. Dia diperkarakan ke pengadilan dengan tudingan mencuri benda-benda purbakala dari Museum radya Pustaka, Solo, Jawa tengah. “Padahal Pak Hashim ingin melestarikan benda-benda cagar budaya,“ kata Fadli mengenang peristiwa itu. 
Bila keadaan ini dibiarkan, negara hanya akan diperintah oleh para mafia. Fadli Zon lalu mengutip kata-kata politisi inggris abad kedelapan belas, Edmund Burke: The only thing necessary for the triumph [of evil] is for good men to do nothing.” Dalam terjemahan bebasnya, “kalau orang baik-baik tidak berbuat apa-apa, maka para penjahat yang akan bertindak.“ terinspirasi oleh kata-kata tersebut, Hashim pun setuju bila ada sebuah partai baru yang memberikan haluan baru dan harapan baru. Tujuannya tidak lain, agar negara ini bisa diperintah oleh manusia yang memerhatikan kesejahteraan rakyat, bukan untuk kepentingan golongannya saja. Sementara kondisi yang sedang berjalan, justru memaksakan demokrasi di tengah himpitan kemiskinan, yang hanya berujung pada kekacauan.
Gagasan pendirian partai pun kemudian diwacanakan di lingkaran orang-orang Hashim dan Prabowo. Rupanya, tidak semua setuju. Ada pula yang menolak, dengan alasan bila ingin ikut terlibat dalam proses politik sebaiknya ikut saja pada partai politik yang ada. Kebetulan, Prabowo adalah anggota Dewan Penasihat Partai Golkar, sehingga bisa mencalonkan diri maju menjadi ketua umum. Namun, ketika itu Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla adalah wakil presiden mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. “Mana mau Jusuf Kalla memberikan jabatan Ketua Umum Golkar kepada Prabowo?” kata Fadli.
Setelah perdebatan cukup panjang dan alot, akhirnya disepakati perlu ada partai baru yang benar-benar memiliki manifesto perjuangan demi kesejahteraan rakyat. Untuk mematangkan konsep partai, pada Desember 2007, di sebuah rumah, yang menjadi markas IPS (Institute for Policy Studies) di Bendungan Hilir, berkumpulah sejumlah nama. Selain Fadli Zon, hadir pula Ahmad Muzani, M. Asrian Mirza, Amran Nasution, Halida Hatta, Tanya Alwi dan Haris Bobihoe. Mereka membicarakan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) partai yang akan dibentuk. “Pembahasan dilakukan siang dan malam,” kenang Fadli. Karena padatnya jadwal pembuatan AD/ART , akhirnya fisik Fadli ambruk juga. Lelaki yang menjabat sebagai Direktur Eksekutif di IPS ini harus dirawat di rumah sakit selama dua minggu.
Fadli tidak tahu lagi bagaimana kelanjutan partai baru ini. Bahkan dia merasa pesimistis bahwa gagasan pembentukan partai baru itu akan terus berlanjut. Namun diluar dugaan, ketika Hashim datang menjenguk di rumah sakit, Hashim tetap antusias pada gagasan awal untuk mendirikan partai politik. Akhirnya, pembentukan partai pun terus dilakukan secara maraton. Hingga akhirnya, nama Gerindra muncul, diciptakan oleh Hashim sendiri. Sedangkan lambang kepala burung garuda digagas oleh Prabowo Subianto.
Pembentukan Partai Gerindra terbilang mendesak. Sebab dideklarasikan berdekatan dengan waktu pendaftaran dan masa kampanye pemilihan umum, yakni pada 6 Februari 2008. Dalam deklarasi itu, termaktub visi, misi dan manifesto perjuangan partai, yakni terwujudnya tatanan masyarakat indonesia yang merdeka, berdaulat, bersatu, demokratis, adil dan makmur serta beradab dan berketuhanan yang berlandaskan Pancasila sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD NRI tahun 1945.
Budaya bangsa dan wawasan kebangsaan harus menjadi modal utama untuk mengeratkan persatuan dan kesatuan. Sehingga perbedaan di antara kita justru menjadi rahmat dan menjadi kekuatan bangsa indonesia. Namun demikian mayoritas rakyat masih berkubang dalam penderitaan, sistem politik kita tidak mampu merumuskan dan melaksanakan perekonomian nasional untuk mengangkat harkat dan martabat mayoritas bangsa indonesia dari kemelaratan. Bahkan dalam upaya membangun bangsa, kita terjebak dalam sistem ekonomi pasar. Sistem ekonomi pasar telah memporak-porandakan perekonomian bangsa, yang menyebabkan situasi yang sulit bagi kehidupan rakyat dan bangsa. Hal itu berakibat menggelembungnya jumlah rakyat yang miskin dan menganggur. Pada situasi demikian, tidak ada pilihan lain bagi bangsa indonesia ini kecuali harus menciptakan suasana kemandirian bangsa dengan membangun sistem ekonomi kerakyatan.
Nah, Partai Gerindra terpanggil untuk memberikan pengabdiannya bagi bangsa dan negara dan bertekad memperjuangkan kemakmuran dan keadilan di segala bidang.

 http://partaigerindra.or.id