Sabtu, 23 Juni 2012

rumah kecil milik mandor peninggalan kolonial Belanda

TAKENGON – Dua rumah kecil bekas milik mandor penjaga kebun kopi di masa Belanda hingga kini masih utuh di Kampung Wih Porak, Silih Nara, Aceh Tengah. Rumah kecil berukuran sekitar 7x9 meter itu sampai kini masih utuh. Rumah itu kini dihuni warga setempat.Sujarno, staf Dinas Perkebunan dan Kehutanan Aceh Tengah, mengatakan utuhnya rumah itu karena sejak ditinggal Belanda langsung dihuni penduduk setempat secara turun-temurun sehingga ada yang merawat.
“Kayu dan seng dari dua rumah itu masih peninggalan kolonial Belanda dan tidak pernah diganti oleh penghuninya karena memang masih layak pakai hingga sekarang," ujar Sujarno. Hanya lantainya saja, kata dia, yang diganti.

Belasan tahun lalu, kata Sujarno, masih banyak rumah peninggalan Belanda di Kampung Wih Porak. "Tetapi habis dihancurkan masyarakat karena dianggap ada harta karun peninggalan Belanda."
Tapi di Wih Porak, kata dia, juga masih ada bukti sejarah berupa pondasi  pabrik pengeringan kopi, bak penampung air, dan pondasi tempat memantau perkebunan kopi masa kolonial Belanda yang dibangun tahun 1904 silam.Sepekan lalu The Atjeh Post mencoba menjelajahi peninggalan masa kolonial Belanda di Kampung Wih tersebut. Dulunya di kampung ini Belanda membangun 100 hektare kebun kopi beserta pabrik dan perumahan.

Menurut informasi, setelah kemerdekaan Indonesia, pabrik tersebut pernah terlantar. Selanjutnya sekitar tahun 1960-an hingga 1979 pabrik tersebut pernah dikelola oleh PNP I.
Kemudian kepemilikannya berpindah ke PT Ala Silo dan hingga kini lahannya kini dimiliki Dinas Perkebunan Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Tengah.
Sekarang perkebunan kopi yang dikelola Pemerintah Daerah hanya tinggal 40 hektare. "Kebun itu kini dikelola masyarakat setempat, tetapi bagi hasil dengan Pemerintah Daerah," ujar Sujarno[http://atjehpost.com]

Jumat, 22 Juni 2012

wanita afrika tergugah dengan aceh

JAKARTA - Duta Besar Zimbabwe untuk Indonesia, Alice Mageza, punya kesan mendalam ketika mengunjungi Aceh, tahun 2004 silam. Saat itu ia baru sepekan tiba di Indonesia. Begitu mendapat kabar Aceh dilanda gempa dan tsunami, ia dan beberapa diplomat negara Afrika di Indonesia berangkat ke Medan, kemudian ke Banda Aceh.

“Kami dari pemerintah Zimbabwe membantu penyediaan air bersih, menyumbangkan selimut dan buku-buku. Saya mendapat gambaran yang sangat menyentuh atas apa yang terjadi, pertamakalinya dalam tugas diplomatik ke Indonesia,” ungkap Alice Mageza, usai menerima para wartawan di kediamannya di Jakarta, Kamis malam, 21 Juni 2012.

Ia mengunjungi penampungan sementara untuk menemui anak-anak korban tsunami dan melihat semangat warga Aceh yang masih ada. “Meskipun merka sedang ditimpa musibah sangat berat,” katanya
“Saya bertemu anak-anak yang kehilangan orangtuanya, mereka tinggal di rumah-rumah penampungan sementara yang dibangun pemerintah setempat. Mereka tetap bahagia dan itu yang paling penting untuk bertahan hidup, tanpa menangisi keadaan, kita harus bergerak ke depan.

Ozil Baca Fatihah Sebelum Bertanding

MADRID-Pemain Jerman, Mesut Ozil, dikenal sebagai pemain sepakbola muslim yang taat pada agamanya. Hal itu bukan sekadar isapan jempol belaka. Hampir setiap menjelang pertandingan, dia selalu tidak lupa memanjatkan doa agar bisa bermain apik di lapangan.

Kalau selama ini aksi berdoa yang dilakukan Ozil hanya terekam di lapangan sebelum wasit meniup peluit tanda pertandingan dimulai, kali ini lain lagi. Pemain Der Panzer tersebut juga tertangkap kamera berdoa ketika para pemain tengah menunggu di lorong stadion guna menuju lapangan.

Sembari menanti instruksi wasit, Ozil terlihat tidak menyia-nyiakan waktu yang ada untuk mengingat Sang Pencipta. Jika Cristiano Ronaldo membuang waktu di lorong stadion sebelum berjalan ke lapangan dengan cara melakukan pemanasan dan peregangan kaki, Ozil lebih memilih mendekatkan diri kepada Allah swt.

Pemain keturunan Turki tersebut, seperti dikutip dari keterangan di bawah video yang diposting ke Youtube, tertangkap tengah menengadahkan tangannya ke atas sembari membaca surat Al Fatihah.

Ozil dikenal tidak ragu untuk menunjukkan identitas muslim di depan rekan-rekannya. Ia disebut-sebut berdoa karena ingin mendapat ketenangan dan dimudahkan selama merumput 90 menit di lapangan dengan berkostum Los Blancos.

Setelah menyelesaikan bacaan Al Fatihah, Ozil pun mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajahnya, sebagaimana ritual yang dilakukan muslim lainnya di seluruh dunia. 



| sumber:republika

Alhamdulillah, Ibu Mesut Ozil Berjilbab

Gelandang  Real Madrid dan timnas Jerman, Mesut Ozil dikenal sebagai salah satu pemain sepak bola Muslim.
Ozil memeluk Islam sejak lahir lantaran kedua orangtuanya merupakan imigran Turki yang berpindah ke Jerman, yang notabene memeluk Islam. Berkat didikan ketat keluarganya dalam menjalankan agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW itu, nilai-nilai Islam melekat dalam diri Ozil.

Hal itu terlihat ketika di lapangan, entah di lorong stadion, pinggir lapangan, maupun tengah lapangan, ia masih sempat berdoa atau membaca surat Al Fatihah sebelum bertanding.
Mantan pemain Werder Bremen ini menyatakan, keislaman yang tertanam dalam dirinya itu lantaran sejak kecil dididik ibunya untuk tidak lupa mengamalkan ajaran Rasulullah itu dimanapun berada.
Kalau melihat sosok ibunya Ozil, Gulizar Ozil, kita pantas bersyukur bahwa ibunya bisa menjadi teladan yang tepat bagi anaknya. 

Dalam wawancara dengan salah satu stasiun televisi Spanyol, Gulizar tampak mengenakan jilbab dan berbaju lengan panjang.
Ketika video menyorotnya sedang menyirami kebun bunga di taman rumahnya, semua aurotnya tertutup. Hanya saudara perempuan Ozil, Nese Ozil yang berpakaian terbuka mengikuti fashion setempat.

Dari video Youtube berjudul, Entrevista a la madre y hermana de Mesut (Wawancara dengan ibu dan saudara perempuan Mesut Ozil) ini terlihat kalau Ozil merupakan hasil didikan ibunya. “Mata ibu dan saudaranya mirip Ozil,” kata salah satu komentar setelah melihat video itu.


| sumber: republika


Selasa, 12 Juni 2012

21 Wasiat Sultan Aceh untuk Rakyat Aceh

Sebuah translaterisi manuskrip dari kerajaan Islam Aceh Bandar Darussalam telah ditemukan di perpustakaan Universiti Kebangsaan Malaysia. Manuskrip ini merupakan ‘Wasiat Sultan Aceh’ kepada pemimpin-pemimpin Aceh pada 913 Hijriah pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal hari Ahad bersamaan 23 Juli, 1507.

Isi buku tersebut ialah sebuah kunci untuk rakyat yg di simpan oleh Raja-Raja aceh terdahulu untuk generasi Aceh di masa yang akan datang, isi dalam buku tersebut hanyalah seuntaian wasiat sekaligus nasehat yg dipersembahkan kepada anak cucu generasi Aceh selanjutnya.

Apa yang dilakukan oleh Rakyat Aceh dahulu dalam keseharian mereka sehingga Aceh punya hari yang indah nan gemilang. Satu hal yang perlu dicermati bersama adalah pada saat Kerajaan Aceh Bandar Darussalam berdiri, Sultan Ali Mughayat Syah mengistiharkan “The Aceh Code” atau “Pohon Kerajaan Aceh”. “Aceh Code” ini merupakan 21 kewajiban yang harus dilakukan oleh seluruh rakyat Rakyat Aceh pada saat itu.

Beginilah transliterasi manuskrip dari Kerajaan Islam Aceh Bandar Darussalam yang bertajuk:

KEWAJIBAN RAKYAT KERAJAAN ISLAM ACEH BANDAR DARUSSALAM

Bismillahirrahmanirrahim, Amma Ba’du
1. Diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh yang lelaki lagi mukaallaf dan bukan gila iaitu hendaklah membawa senjata ke mana-mana pergi berjalan siang-malam iaitu pedang atau sikin panjang atau sekurang-kurangnya rincong tiap-tiap yang bernama senjata.

2. Tiap-tiap rakyat mendirikan rumah atau masjid atau baleeh-baleeh atau meunasah maka pada tiap-tiap tihang di atas puting di bawah bara hendaklah di pakai kain merah dan putih sedikit yakni kain putih.

3. Diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh iaitu bertani utama lada dan barang sebagainya.

4. Diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh mengajar dan berlajar pandai emas dan pandai besi dan pandai tembaga beserta ukiran bunga-bungaan.

5. Diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh yang perempuan iaitu mengajar dan belajar membikin tepun (tenun) bikin kain sutera dan kain benang dan menjaid dan menyulam dan melukis bunga-bunga pada kain pakaian dan barang sebagainya.

6. Diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh belajar dan mengajar jual-beli dalam negeri dan luar negeri dengan bangsa asing.

7. Diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh belajar dan mengajar ilmu kebal.

8. Diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh yang laki-laki mulai taklif syarak umur lima belas tahun belajar dan mengajar main senjata dengan pendekar silek dan barang sebagainya.

9. Diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh dengan wajib ain belajar dan megajar ilmu agama Islam syariah Nabi Muhammad SAW atas almariq ( berpakaian ) mazhab ahlu-sunnah wal jamaah r. ah ajmain.

10. Diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh menjauhkan diri daripada belajar dan mengajar ilmu kaum tujuh puluh dua yang di luar ahli sunnah wal jamaah r. ah ajmain.

11. Sekalian hukum syarak yang dalam negeri Aceh diwajibkan memegang atas jalan Mazhab Imam Syafi’i r.a. di dalam sekalian hal ehwal hukum syarak syariat Nabi Muhammad SAW. Maka mazhab yang tiga itu apabila mudarat maka dibolehkan dengan cukup syartan ( syarat ). Maka dalam negeri Aceh yang sahih-sah muktamad memegang kepada Mazhab Syafi’i yang jadid.

12. Sekalian zakat dan fitrah di dalam negeri Aceh tidak boleh pindah dan tidak diambil untuk buat bikin masjid-masjid dan balee-balee dan meunasah-meunasah maka zakat dan fitrah itu hendaklah dibahagi lapan bahagian ada yang mustahak menerimanya masing-masing daerah pada tiap-tiap kampung maka janganlah sekali-kali tuan-tuan zalim merampas zakat dan fitrah hak milik yang mustahak dibahagi lapan.


13. Diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh membantu kerajaan berupa apa pun apabila fardhu sampai waktu datang meminta bantu.

14. Diwajibkan diatas sekalian rakyat Aceh belajar dan mengajar mengukir kayu-kayu dengan tulisan dan bunga-bungaan dan mencetak batu-batu dengan berapa banyak pasir dan tanah liat dan kapur dan air kulit dan tanah bata yang ditumbok serta batu-batu karang dihancur semuanya dan tanah diayak itulah adanya.

15. Diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh belajar dan mengajar Indang Mas di mana-mana tempatnya dalam negeri.

16. Diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh memelihara ternakan seperti kerbau dan sapi dan kambing dan itik dan ayam tiap-tiap yang halal dalam syarak agama Islam yang ada memberi manfaaf pada umat manusia diambil ubat.

17. Diwajibkan ke atas sekalian rakyat Aceh mengerjakan khanduri Maulud akan Nabi SAW, tiga bulan sepuluh hari waktunya supaya dapat menyambung silaturrahmi kampung dengan kampung datang mendatangi kunjung mengunjung ganti-berganti makan khanduri maulut.

18. Diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh bahawa hendaklah pada tiap-tiap tahun mengadakan Khaduri Laut iaitu di bawah perintah Amirul Bah yakni Panglima Laot.

19. Diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh mengerjakan Khanduri Blang pada tiap-tiap kampung dan mukim masing-masing di bawah perintah Penglima Meugoe dengan Kejrun Blang pada tiap-tiap tempat mereka itu.

20. Diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh bahawa tiap-tiap pakaian kain sutera atau benang atau payung dan barang sebagainya yang berupa warna kuning atau warna hijau tidak boleh memakainya kecuali yang boleh memakainya iaitu Kaum Bani Hasyim dan Bani Muthalib yakni sekalian syarif-syarif dan sayed-sayed yang turun menurun silsilahnya daripada Saidina Hasan dan Saidina Husin keduanya anak Saidatina Fatima Zahra Nisa’ Al-Alamin alaihassalam binti Saidina Rasulullah Nabi Muhammad SAW; dan warna kuning dan warna hijau yang tersebut yang dibolehkan memakainya iaitu sekalian kaum keluarga ahli waris Kerajaan Aceh Sultan yang raja-raja dan kepada yang telah diberi izin oleh kerajaan dibolehkan memakainya; kepada siapapun.

21. Diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh bahwa jangan sekali-kali memakai perkataan yang hak kerajaan: titah,  sabda, Karunia, anugerah, murka, daulat, Seri Pada (Paduka), Harap Mulia, Paduka Seri, Singgahsana, tahta, Duli Hadrat, Syah Alam,  Seri Baginda, Permaisuri, Ta.

Maka demikianlah sabda muafakat yang sahih-sah muktamad daripada Kerajaan Aceh Bandar Darussalam adanya.
[003-mataram351.wordpress.com]

PARTAI NASIONAL ACEH (PNA )Terima Caleg

Partai Nasional Aceh (PNA) ternyata sudah sekitar dua minggu lalu menerima pendaftaran calon legislatif (caleg) sementara untuk anggota DPRA dan DPRK kabupaten/kota di Aceh. Padahal partai ini baru kemarin diverifikasi faktual oleh tim verifikasi ke Kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PNA, Banda Aceh, bersamaan verifikasi faktual ke Kantor DPP Partai Damai Aceh (PDA), Banda Aceh.   

Jubir PNA Thamren Ananda menyampaikan hal itu ketika menjawab Serambi di sela-sela verifikasi faktual di Kantor DPP PNA, Ulee Kareng, Banda Aceh, Senin (11/6). “Insya Allah kita optimis PNA lolos verifikasi faktual, karena yang kita laporkan dalam verifikasi administrasi yang lalu, apa adanya di lapangan. Sudah dua minggu dibuka pendaftaran caleg sementara dan sudah ada yang mendaftar,” kata Thamren.

Thamren mengatakan PNA menerima semua warga Aceh untuk menjadi caleg di partai itu, termasuk tokoh Aceh di luar daerah ini, tanpa harus dari kader partai yang melibatkan mantan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf sebagai penasihat itu. “Yang penting memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk kepentingan Aceh,” ujarnya.

Ditanya sudah berapa banyak yang mendaftar, Thamren menyebutkan belum merekap data pasti sesuai jumlah caleg DPRA dan DPRK yang mendaftar melalui DPD PNA kabupaten/kota di Aceh dan yang mendaftar di Kantor DPP PNA Banda Aceh. Menurutnya, pendaftaran dibuka lebih awal agar semakin banyak bergabung dengan PNA, sekaligus memberi kesempatan caleg bersangkutan agar lebih banyak waktu memperkenalkan diri pada masyarakat, terutama di daerah pemilihan masing-masing.

“Penetapan caleg PNA sementara pada Oktober 2012. Artinya nanti penetapan mereka juga berdasarkan verifikasi pengurus PNA di daerah pemilihan. Ya, tentu yang paling memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk Aceh, di samping sudah dikenal dan dianggap layak oleh masyarakat. Selanjutnya, ketika mendaftar ke KIP pada 2013 nanti, tentu sesuai jumlah ditetapkan lembaga penyelenggara pemilu itu,” jelas Thamren.

Kemarin, tim verifikasi ke Kantor DPP PNA dipimpin Kakanwilkumham Aceh selaku penanggungjawab tim, Dr Yatiman Eddy SH MHum. Mereka yang tiba sekitar pukul 09.30 WIB disambut Ketua Umum DPP PNA Irwansyah bersama Sekjen Muharram, serta pengurus inti lainnya. Di kantor itu juga tampak mantan Wakil Ketua DPRK Banda Aceh yang di-PAW dari PA, Basyaruddin alias Abu Sara dan mantan Wali Kota Sabang Munawarliza.(sal) 

Editor : bakri

Zidane: Shalat Membuat Hatiku Tenang

TIDAK ada yang meragukan bila Zinedine Yazid Zidane adalah pesepakbola muslim tersukses di Eropa, bahkan dunia. Meski cukup banyak pesepakbola muslim yang sukses mengadu nasib di liga-liga Eropa, tapi belum ada yang mampu menyamai prestasi Zidane di kancah sepak bola Benua Biru.

Ya, tak sedikit yang memuji penampilan Zidane. Bahkan Direktur Teknik UEFA, Andy Roxburgh menyanjung pria keturunan Aljazair tersebut adalah produksi dari surga. "Saya percaya di kepalanya (Zidane) ada tulisan 'made in heaven'. Dia benar-benar anugerah dari Tuhan," ujar Andy di satu kesempatan.
Eks pengatur serangan Les Bleus ini dikenal sebagai pemilik gaya menggiring bola sembari meliukkan badan. Tidak seperti Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo yang ketika mendapat peluang langsung menggiring si kulit bundar menusuk ke jantung pertahanan lawan kemudian menceploskan bola. Zidane tampil laiknya maestro seniman lapangan dengan memperagakan penampilan elegan dan indah. Namun, lawan dibuat tidak berkutik lantaran sulit merebut bola dari kakinya.

Pria yang kini menjabat Direktur olahraga Real Madrid ini merupakan sosok playmaker yang sempurna bagi klub maupun timnas. Pada masanya, hanya Ronaldo Luiz Nazario de Lima yang dapat dikatakan sejajar dengannya. Pria berkebangsaan Prancis itu mampu mengolah bola dengan baik dan memberikan operan maut yang bisa menembus pertahanan lawan.
Kemampuannya mengocek bola membuat lawan terpana, sebab seolah-seolah bola lengket di kakinya. Alhasil hampir semua kejuaraan, baik di klub maupun timnas berhasil direbut mantan pemain Juventus ini. Tak heran bila Zidane mampu meraih gelar tiga kali Pemain Terbaik Dunia FIFA (1998, 2000, dan 2003).

Pecinta sepakbola dunia pasti masih ingat dengan partai puncak Liga Champions 2001/2002, yang mempertemukan Madrid kontra Bayer Leverkusen. Skor ketika itu sama kuat, 1-1. Menerima umpan dari Roberto Carlos yang menyisir sisi kanan pertahanan Leverkusen, Zidane melakukan tendangan first time dan membuat kedudukan menjadi 2-1. Madrid meraih gelar Liga Champions kesembilan. Gol tersebut dinilai gelandang Chelsea dan Timnas Inggris, Frank Lampard sebagai gol terbaik sepanjang masa.

Meski capaiannya di lapangan luar biasa, namun Zidane tidak lupa untuk memposisikan dirinya sebagai seorang Muslim. Ia disebut-sebut sebagai atlet dunia yang taat menjalankan kewajiban shalat lima waktu. Dengan menunaikan perintah yang menjadi tiang agama tersebut maka Zidane mengaku penampilannya di lapangan bisa semakin baik. “Shalat adalah sumber kekuatanku. Karena setelah shalat, hati serasa tenang,” tandas pria berkepala plontos tersebut.

Prestasi Zidane:
Scudetto Liga Italia Serie-A musim 1996/1997 dan 1997/1998 bersama Juventus
Piala Dunia 1998 bersama Timnas Prancis
Piala Eropa 2000 bersama Timnas Prancis
Liga Champions 2002 bersama Real Madrid
Piala Toyota (sekarang Piala Dunia Antarklub) pada 1996 (bersama Juventus) dan 2002 (Bersama Madrid)
La Liga Spanyol musim 2002/2003 bersama Madrid
Runner Up Piala Dunia 2006 bersama Timnas Prancis
Pemain Terbaik Dunia FIFA pada 1998, 2000, dan 2003.
Pemain Terbaik Eropa pada 1998.
| sumber: republika.co.id

Isu Akan Terjadi Keributan, Kampanye AMAR Dijaga Ketat

BIREUEN – Sebelum pasangan Amiruddin Idris-Muhammad Arif kampanye di lapangan bola kaki Keude Jeunieb, Selasa siang 12 Juni 2012 sempat beredar isu akan terjadi keributan. Hasilnya, kampanye pasangan nomor urut 8 itu dijaga ketat oleh puluhan anggota polisi.

Pantauan The Atjeh Post, biasanya pada kampanye di beberapa lokasi lain, sejumlah aparat hanya duduk di warung dan atau berdiri di sekitar lapangan. Tetapi tadi sore jauh beda. Puluhan personil Brigade Mobil (Brimob) disebar ke sekeliling lapangan.

Bahkan Kepala Polres Bireuen AKBP Yuri Karsono SIK turun langsung memantau kampanye tingkat kecamatan tersebut. Sejumlah Kepala Satuan (Kasat) dan Kepala Polsek terlihat memantau kampanye dari Markas Polisi Sektor Jeunieb yang berada di sisi selatan lokasi kampanye.

Selain Kepala Polres, Ketua Panwaslu Kabupaten Bireuen juga menyusul ke lokasi kampanye. Sejumlah polisi berdiri dengan mata awas ke sekeliling lokasi. “Laporannya hari ini rawan bang, semoga kabar itu tidak benar,” ujar seorang anggota polisi berpakaian preman.

Kesibukan aparat juga terlihat saat massa AMAR meninggalkan lapangan lokasi kampanye. Polisi lalu lintas dan polisi dari satuan lainnya mengawal jalan keluar lapangan dengan jumlah personil yang cukup banyak.

Hingga kampanye usai dan seluruh massa AMAR meninggalkan lokasi, tidak terjadi peristiwa sebagaimana yang dikhawatirkan banyak pihak sebelumnya.



 http://atjehpost.com

Pilkada Bireuen, Seribuan Massa Hadiri Kampanye AMAR

BIREUEN – Sekitar seribuan massa tampak menghadiri kampanye Amiruddin Idris-Muhammad Arif, pasangan calon Bupati-Wakil Bupati Bireuen periode 2012-2017 di lapangan bola kaki Desa Kubu, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Minggu, 10 Juni 2012.
Pasangan nomor urut 8 itu menampilkan jur kampanye Rasyidi Jeunieb dan sejumlah juru kampanye lainnya. Massa turut dihibur pagelaran seni seudati serta penampilan Dek Cut dan Dek Oya yang merupakan penyanyi Aceh serta komedian Aceh.

Rasyidi dalam orasinya mengajak masyarakat Peusangan sekitarnya memilih pasangan nomor 8 Amiruddin-Arif. Sebab, katanya, pasangan tersebut orang-orang berpendidikan dan yang peduli kepada rakyat.
"Jangan takut kepada ancaman dan intimidasi dari siapa pun, karena Bireuen ini bukan milik sekelompok orang saja, pilihlah orang yang berpendidikan supaya Kabupaten Bireuen ke depan sejahtera," tegasnya.

Sementara Amiruddin Idris, didampingi Muhammad Arif, berjanji jika terpilih nanti ia akan memperbaiki keuangan Bireuen yang menurutnya selama ini tidak tertata dengan baik sehingga mendapat opini disclaimer dari BPK-RI.
"Bila kami dipercayakan memimpin Bireuen, kami akan melakukan pembenahan bidang keuangan, sebab sangat kita sayangkan selama ini belanja aparatur Bireuen melebihi dari belanja pembangunan untuk rakyat,” ujarnya.

Amiruddin yang juga Rektor Universitas Almuslim (Umuslim) Bireuen itu menyebutkan Kabupaten Bireuen terletak di segi tiga emas yang sangat strategis dan berpotensi untuk dikembangkan ke arah yan lebih baik dan maju.
Kampanye pasangan bubar sekitar pukul 17 dan ditutup dengan doa. Seribuan massa yang menumpang kendaraan roda dua dan roda empat dengan ditempeli atribut pasangan tersebut bubar dengan tertib.

Sesuai jadwal yang ditetapkan KIP Bireuen, pada Minggu 10 Juni 2012, selain pasangan calon Amiruddin Idris-Muhammad Arif, tiga pasangan lain yaitu nomor urut 2 Saifuddin Muhmmad-Rosnany Bahruny kampanye rapat umum di lapangan bola kaki Samalanga.
Lalu pasangan nomor urut 4 Husaini Ilyas-Razuardi Ibrahim kampanye di lapangan bola Gandapura. Sedangkan pasangan nomor urut 6 Nurdin Abdul Rahman-Zakwan Usman yang dijadwalkan kampanye di lapangan bola kaki Jeunieb tidak melaksanakan kampanye.


 http://atjehpost.com

Jika Terpilih, Amiruddin-M Arif Akan Menyelamatkan Bireuen

BIREUEN – Pendidikan dan penyelamatan Kabupaten Bireuen menjadi isu penting ketika Amiruddin Idris-Muhammad Arif, pasangan calon Bupati-Wakil Bupati Bireuen periode 2012-2017 berorasi di lapangan bola kaki Keude Jeunieb, Bireuen, Selasa 12 Juni 2012.

“Bidang pendidikan di Kabupaten Bireuen hanya akan maju dan berkembang jika dipimpin oleh orang yang berpendidikan,” ujar Amiruddin.Selain dua masalah tersebut, mereka juga akan melakukan peningkatan pemberdayaan ekonomi masyarakat dan menyatukan mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Amiruddin juga berjanji akan melakukan perbaikan bidang keuangan, karena Kabupaten Bireuen terancam bergabung kembali dengan kabupaten induk Aceh Utara jika tidak bisa menyeimbangkan keuangan antara belanja aparatur dengan belanja publik dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK).

“Saat ini belanja aparatur mencapai 75 persen sementara belanja untuk publik (rakyat) hanya 25 persen, kami akan berupaya untuk menyelematkan Bireuen dari ancaman bergabung kembali dengan kabupaten induk,” katanya..

Amiruddin-Arif yang disingkat AMAR itu, jika terpilih akan membuat Bireuen menjadi dua zona di bidang pendidikan yaitu kawasan timur untuk pendidikan umum dan kawasan barat sebagai kawasan dayah yang berorientasi teknologi.

Sementara bidang kesehatan meningkatkan pelayanan prima kepada masyarakat, meningkatkan bidang pemberdayaan ekonomi masyarakat, lalu bidang sosial memfokuskan pembangunan rumah dhuafa.

“Untuk tiga bulan pertama menata kembali birokrasi Pemerintahan Bireuen yang sudah rusak baik dari segi manajemen dan keuangan,” katanya.


 http://atjehpost.com

Mahfud MD: Indonesia Bukan Negara Agama

Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD, menyatakan, Indonesia bukan negara agama, namun Indonesia juga bukan negara sekuler.

Hal itu dikemukakan Mahfud MD saat membuka Pusat Studi Konstitusi dan Kebijakan Publik, Selasa (12/6/2012) di Universitas Yapis Jayapura.

Indonesia, ungkap Mahfud, adalah negara kebangsaan yang religius. Indonesia mendasarkan gagasan filsafatnya pada Pancasila, yang menjadi idiologi hidup berbangsa dan bernegara.

Nilai-nilai Pancasila sendiri bersumber dari kebenaran-kebenaran falsafati, yang dihidupi oleh Bangsa Indonesia, salah satunya adalah agama.

Oleh karena itu, ungkap Mahfud, setiap warga negara haruslah saling menghormati dan menghargai. Ia menilai, kehidupan toleransi umat beragama di Papua baik. " Tidak ada konflik yang bersumber dari perbedaan agama," tuturnya.
|sumber: kompas

Jumat, 08 Juni 2012

Bertutur Setelah Tengku Hasan Tiada…

SOSOK kontroversial deklarator Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ternyata tidak hanya jadi pembicaraan semasa ia masih hidup, tetapi juga setelah ia tiada. Bahkan, melihat kharismatiknya yang jadi buah bibir itu, ia layak diberikan gelar pahlawan nasional.

Sejak Aceh Merdeka (AM) yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Gerakan Aceh Merdeka dideklarasikan, 4 Desember 1976, nama Teungku Muhammad Hasan Di Tiro memang dikenal dunia luas. Nama “Hasan Tiro” kian jadi ‘buah bibir’ media sejak Aceh diterapkan sebagai Daerah Operasi Militer (1989-1998).

Bagi sebagian orang, nama ini seperti genderuwo—orang Aceh menyebutnya ma’op—tetapi bagi sebagian lainnya, terutama di kalangan GAM, nama Tgk. Hasan hidup sebagai spirit perjuangan sekaligus panutan. Oleh karena itu, kadang nama ini ‘dijual’ untuk kepentingan sesuatu, termasuk menjaga perdamaian.

‘Penjualan’ nama Hasan Tiro untuk suatu kepentingan tersebut diungkap oleh salah seorang penulis dalam buku “Hasan Tiro, The Unfinished Story of Aceh”. Buku setebal 308 halaman ini memuat 44 artikel sederhana yang menceritakan tentang Hasan Tiro dan perjuangannya. Ke-44 artikel tersebut ditulis oleh 44 orang, ditambah satu obituari oleh Nezar Patria dan satu artikel wawancara ekslusif Harian Serambi Indonesia bersama Prof. James P Siegel, tentang karakter Hasan Tiro.

Kendati buku terbitan Bandar Publishing ini muncul setelah Hasan Tiro meninggal dunia, beberapa artikel yang dihimpun di dalamnya merupakan catatan lama para penulis pengisi buku itu. Ada tulisan yang membicarakan Hasan masih di Amerika atau Swedia, ada pula saat kepulangannya pertama ke Aceh, Oktober 2008.

Selain itu, terdapat pula beberapa artikel yang ditulis sejumlah orang setelah deklarator GAM itu ‘pergi’ ke dunia lain. Melalui catatan kaki di beberapa tulisan dalam buku bersampul wajah Tgk. Hasan itu, dapat diketahui pula bahwa sebagian artikel sudah pernah dipublikasikan di media cetak dan online. Dengan demikian, buku ini tak lebih dari kumpulan catatan sejumlah orang dalam memandang Hasan Tiro.

Banyaknya jumlah penulis di sini menjadikan pula beragam jenis tulisan yang muncul. Ada yang menulis dalam bentuk esai/opini populer, ada dalam bentuk reportase, ada pula dalam bentuk potongan biografi sekilas, dan ada bentuk catatan pertemuan si penulis dengan Tgk. Hasan.

Cara pandang para penulis yang bervariasi melahirkan tulisan beragam tema pula. Ada yang menulis kepribadian tunggal Hasan, ada yang menulis pendapat orang lain tentang Hasan dan keluarga, ada yang menulis semacam surat kerisauan yang ditujukan entah kepada siapa, ada pula yang menulis keresahan akan perdamaian Aceh setelah Hasan tiada.

Tak diragukan lagi, kumpulan artikel dalam buku ini seakan hendak membeberkan tentang Hasan Tiro yang selama hidup hingga menjelang ajalnya selalu kontroversi. Oleh karenanya, para penulis buku ini mewakili berbagai kalangan, ada dari akademisi, jurnalis, analis politik, aktivis NGO, mantan kombatan, dan bloger.

Penulis dalam buku ini ternyata tidak semuanya orang Aceh, ada penulis dari pulau Jawa bahkan dari luar Indonesia, seperti Lilianne Fan (Bangkok, Thailand) sehingga buku ini menjadi komplit membicarakan kepribadian Hasan dari berbagai kalangan.

Bongkar Rahasia
Disadari atau tidak, kebanyakan tulisan dalam buku ini mencoba membongkar ‘rahasia Hasan’ yang selama ini jarang diketahui publik. Sebut saja di antaranya pada obituari Nezar. Secara serampangan, Nezar membeberkan kehidupan Hasan sejak masih mahasiswa di Universitas Islam Indonesia (IUU) hingga ia ke Amerika dan kembali lagi ke Aceh.

Dari sini dapat diketahui bahwa sebelumnya Hasan merupakan seorang nasionalis Indonesia. Paparan hampir sama juga terlihat pada beberapa tulisan lainnya. Akan tetapi, ada juga tulisan yang mencoba membongkar tabir kematian Hasan dengan segala polemiknya yang menerima sertifikat WNI, sehari sebelum ia menghembuskan napas terakhir.

Hal itu secara detail dikupas oleh Raihal Fajri (hlm. 95-200). Fajri mencoba membandingkan mudahnya sertifikat WNI yang diperoleh Hasan tinimbang Susi Susanti dan suaminya, Alan Budikusuma. Susanti, atlet bulu tangkis nasional yang telah mengharumkan nama Indonesia juga pernah mengajukan permohonan sertifikat WNI pada tahun 1988, tetapi baru keluar pada 1996. Semacam ada ‘permainan’ dalam pe-WNI-an Hasan, meskipun di satu sisi pemerintah mengaku tidak ada keistimewaan pada seorang Hasan Tiro.

Perlahan tapi nyata, singkat tapi jelas, itulah yang tersirat pada setiap artikel dalam buku ini. Kendati demikian, tentu saja tidak sepenuhnya sempurna. Banyaknya jumlah penulis yang melahirkan beragam anggle tetang Hasan sangat menuntut kelihaian penyunting. Misalnya, terjadi ketidakkonsistenan dalam sapaan nama mantan deklarator GAM tersebut. Beberapa tulisan menyapa dengan “Hasan”, tetapi ada juga dengan sebutan “Tiro”.

Tidak konsistennya penyunting juga terlihat dalam hal ejaan, terutama pemiringan sejumlah kata (termasuk frasa) atau kalimat. Hal paling jelas ditemukan dalam catatan tentang para penulis, ada yang dimiringkan; ada yang dibiarkan tegak; ada pula pemiringan yang keliru, misalnya untuk kata “penulis buku” dimiringkan, tetapi keterangan tentang judul buku yang seharusnya miring malah tidak dimiringkan.

Dari sisi tataletak, juga masih perlu diperbincangkan. Untuk kutipan syair atau puisi yang sudah ditulis per bait dengan ketentuan jumlah baris—misal, satu bait ada empat baris—seharusnya layouter tidak memenggal baris dalam bait tersebut apalagi hanya satu baris yang disisihkan.

Hal ini seperti pada halaman 25 dan 26. Satu baris pada bait kedua puisi yang dikutip oleh salah seorang penulis ‘tercampak’ ke halaman 26 sehingga terkesan sisih dan berdiri sendiri, sedangkan tiga baris lainnya masih di halaman 25. Kemiripan yang sama terjadi pada halaman 180, yang ungkapan salam dalam sepucuk surat Hasan ‘terasing’ pada halaman 181.

Menyunting buku yang isinya merupakan bunga rampai memang membutuhkan kejelian mendalam. Untuk itu, kehati-hatian patut jadi landasan. Namun demikian, buku ini tetap menarik dari segi isi dan tema yang diusung. Tak berlebihan jika disebutkan bahwa buku ini telah menjadi fragmen biografi perjuangan Hasan Tiro sehingga penting dibaca, terutama bagi mereka yang mau tahu ideologi GAM.

Sederhananya, para penulis di si ini berkiblat langsung pada buku fenomenal Hasan Tiro, The Price of Freedom: The Unfinished Diary of Teungku Hasan Di Tiro,  yang merupakan buku fenomenalnya deklarator GAM itu.
Herman RN, peminat sastra lokal



http://atjehpost.com





Senin, 04 Juni 2012

Mengenang Dua Tahun Meninggalnya Hasan Tiro

MENGENANG Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Sosok cerdas, berani, dan pantang menyerah
Sebagian besar orang Aceh tentu masih ingat, pada peristiwa langka Kamis 3 Juni 2010 lalu. Saat itu ribuan masyarakat Aceh berkabung, berkumpul, lalu mengiringi jenazah dari Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) menuju tempat pemakaman di Desa Meureu, Aceh Besar. Jenazah almarhum (alm) DR. Teungku Hasan di Tiro.

Iring-iringan dan raut berkabung ribuan orang hari itu, cukup memberi penjelasan, sosok yang akan dimakamkan adalah tokoh kharismatik, yang dihormati.
Seingat saya, di Aceh, peristiwa berkabung seperti  pada 3 Juni 2010 itu adalah satu-satunya selama 23 tahun terakhir. Pada 1987 silam, orang Aceh juga kehilangan tokoh besarnya, (alm) Teungku Muhammad Daud Beureueh.

Tak hanya sama-sama sebagai tokoh kharismatik Aceh, Daud Beureueh  dan Hasan Tiro juga memiliki kesamaan lain. Sama-sama pernah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, lalu sama memimpin perjuangan melepaskan Aceh dari Indonesia. Lahir di bulan yang sama, meninggal di bulan dan tempat yang sama pula.
Daud Beureueh lahir di Pidie pada 17 September 1899 dan meninggal 10 Juni 1987.
Alm Hasan Tiro. Bagi saya, kharisma yang dimiliki beliau tidak semata karena jabatan Wali Nanggroe, atau karena darah biru pejuang Aceh yang mengalir dalam tubuhnya, lebih dari itu. Dan saya juga tidak akan menyebutnya sebagai sosok yang sempurna. Namun harus diakui, ia memiliki semuanya, kecerdasan, keberanian, dan pantang menyerah.
Gelar doctoral (DR) yang disematkan pada nama depannya tentu saja menjadi indikasi, ia memiliki tingkat akademisi yang tinggi. Apalagi jika dibandingkan dengan orang-orang seangkatannya. Sejumlah buku dan artikel juga dengan tegas memberikan klaim, Tgk Hasan memang sosok yang cerdas.
T. Nasruddin Syah dalam bukunya “Aceh Negeri Bayangan” menyebut Alm Hasan Tiro sebagai intelektual muda Aceh yang revolusioner, ketika pada 1970-an mulai memperjuangkan Aceh merdeka.
Van Dijk, sejarawan asal Rotterdam, Belanda, menyebut Hasan Tiro disebut sebagai seorang yang memiliki tingkat inteligensi tinggi, berpendidikan baik, yang diberkahi dengan kombinasi yang jarang terdapat pada orang kebanyakan, yakni pesona dan keteguhan hati.
Azhari, kawan sepermainan Alm Hasan Tiro pada masa kecil di Desa Tanjong Bungong, Tiro, mengaku tak habis pikir, karibnya itu mendapat bonus melompat kelas saat menempuh pendidikan di Madrasah Diniyah Islamiyah Blang Paseh, Kota Sigli. Dari kelas empat ke kelas enam. Kesempatan langka yang dimiliki oleh murid-murid sekolah saat itu, bahkan di zaman sekarang ini.
Banyak hal menarik yang diungkap Azhari, mengenai masa kecil Alm Hasan Tiro, saat saya mewawancarainya akhir November 2009 lalu, di Desa Tanjong Bungong. Hari itu, untuk pertama kali sejak sejak 30 tahun terakhir Alm Hasan Tiro pulang ke kampung halamannya. Azhari menyebut Hasan Tiro dengan sebutan Tengku Hasan.
Di masa kecil, Tengku Hasan suka bermain bola, bahkan dipercayakan menyandang ban kapten. Azhari selalu menjadi rekan satu timnya.
“Bola dari boh giri (jeruk bali),” kata Azhari.
Tengku Hasan pemain bola yang handal, sering menciptakan gol, dan sulit menerima kekalahan. Azhari kadang kewalahan memenuhi keinginan Tengku Hasan. Jika timnya kalah, selesai pertandingan, Tengku Hasan langsung merencanakan pertandingan untuk keesokan hari.
“Singeh tapeutaloe awaknyan!”
“Besok kita kalahkan mereka!”
Sikap kepemimpinan juga telah ditunjukkan Tengku Hasan sejak kecil. Selesai bermain bola, ia memobilisasi beberapa pemuda gampoeng, mengumpulkan kerikil dari sungai, lalu menaburinya di jalan-jalan desa yang berlubang. Hasilnya, tak ada lagi lubang jalan yang dapat mencelakai pengguna jalan di desa itu.
Di malam hari, Tengku Hasan mendampingi ibunya seumebeut (pengajian) di balee semeubeut yang ada di rumahnya. Pulang sekolah, ia dan Azhari mengajari anak-anak di desa belajar membaca dan berhitung. Tempat belajar itulah yang menurut Azhari menjadi cikal bakal Madrasah Ibtidayah Negeri (MIN) Tanjong Bungong saat ini.
Tengku Hasan berpisah dengan Azhari ketika ia melanjutkan pendidikan ke sekolah normal, Bireuen. Tahun 1945, ketika remaja, kemampuan kepemimpinannya dibuktikan dengan menjadi Ketua Muda Pemuda Republik Indonesia (PRI) di Pidie, PRI adalah organisasi kepemudaan yang gencar memperjuangkan kemerdekaan Indonesia pada masa itu.
Kesempatan yang diperoleh Hasan Tiro untuk melanjutkan pendidikan ilmu hukum di Universitas Columbia, Amerika Serikat dan diperbantukan sebagai staf penerangan kedutaan besar Indonesia di PBB tentu saja tak terlepas dari kecerdasan yang dimilikinya.
Lalu lihat sederet pengalaman Hasan Tiro lainnya. Mendirikan Institut Aceh di Amerika Serikat, menjabat Dirut Doral International Ltd di New York, punya andil di Eropa, Arab, dan Afrika dalam bisnis pelayaran dan penerbangan.  Diangkat oleh Raja Feisal dari Arab Saudi sebagai penasehat agung uktamar Islam se-dunia, dan pernah menjabat sebagai Ketua Mutabakh, Lembaga nonstruktural Departemen Dalam Negeri Libya (Tempo: Juni 2000).
Sebuah kisah hidup yang langka, bocah dari desa pedalaman yang dahulu bermain bola boh girie, kemudian dipercayakan menjabat posisi penting di negara super power Amerika Serikat, Eropa, Arab dan Afrika. Tentu saja, hal itu juga tidak tertutup kemungkinan bagi bocah-bocah Aceh lainnya.
Sebagai orang yang memiliki gelar doctor, Tgk Hasan tak semata-mata hanya menyandang gelar tersebut. Ia melaksanakan tradisi-tradisi inteleketual sebagaimana lazimnya yang dilakukan oleh kaum intelektual lain di seluruh dunia, menulis; buku dan artikel.
The Unfinished Diary, Demokrasi Untuk Indonesia (1958), The Prince of Freedom, adalah judul-judul buku yang ditulis Hasan Tiro semasa hidup.
***
DUTCH Commander: ”Which one is Tjut Njak Dien?” (No one volunteers to show. Everyone stands up in silent disbelief of what is unfolding before their eyes – but no one shows any sign of panick. Everyone stands on his her ground.)
Dutch Commander: ”Will someone show me which one is Tjut Njak Dien!”
(More silince)
Dutch Commander: ”Bring Waki Him here!”
All camp members (almost in unison): ”Oh, you, Waki Him! We spit upon you Waki Him!”
(Waki Him is pushed forward to the front. He is obviously very reluctant to show his traitorous face to his former friends. Waki Him lamely points his fingers at Tjut Njak Dien, and he slowly walks to wards her, and when he stands precisely in front of her, he says):
WAKI HIM: ”Forgive me, Your Highness, but I did this for your sake, so that your suffer no more. Your illnesses can be cured. You will not have to suffer hunger anymore!”
Tjut Njak Dien: ”I do not ask for your pity, Waki Him! Do you think we are domestic animals whose primary requipment is only full belly? No Waki Him, we are Free Achehnese, free human beings whose primary requipment is not full belly, but full honor and dignity. We die for honor and dignity, and not for food in the belly!”
Dialog tersebut adalah salah satu bagian cerita dari The Drama of Achehnese History, sebuah buku drama. Ini adalah satu-satunya buku naskah drama tentang sejarah Aceh yang saya ketahui. Karya Hasan Tiro, bukan oleh seniman atau sejarawan Aceh yang lain yang namanya terkenal itu. Ditulis tahun 1978, saat ia bergeriliya di Gunung Petisah, Pidie.
Saya belum pernah melihat buku itu. Sebagian dialog dari cerita tersebut saya peroleh dari postingan salah seorang member di sebuah milis komunitas orang Aceh.
Arif Zulkifli, dalam laporannya di Majalah Tempo edisi Mei tahun 2000 yang berjudul “Dua Jam Bersama Hasan Tiro” memberikan beberapa gambaran tentang buku itu.
Bukunya bersampul kuning, seukuran diktat kuliah, 56 halaman.  Materi cerita tentang sejarah Aceh, dipadu dengan musik klasik. Adegan dibuka dan ditutup dengan komposisi musik,  Purcell, Johann Sebastian Bach, Beethoven, dan beberapa komposer Barat lainnya. Beethoven, atau Ludwig van Beethoven adalah komponis terbesar di dunia asal Jerman yang hidup pada tahun 1770-1827.
Sampai sekarang, karya seniman besar ini masih menjadi rujukan para pelaku dan penikmat seni di seluruh dunia.
Halaman pengantar buku itu diisi Husaini Hasan, tokoh yang kemudian menempuh jalur perjuangan sendiri dengan mendirikan Majelis Pemerintahan (MP) GAM. Pengantar buku drama itu berisi suka duka saat Hasan Tiro menulis buku tersebut.
Saya kutip laporan yang ditulis Arif Zulkifli
"Tengku (Hasan Tiro) menulis dari pukul 7 pagi hingga 6 petang. Kami tak punya lampu jika malam. Itu semua dilakukannya sewaktu kami semua berhari-hari menunggu suplai makanan dari kampung."
Bagi saya, sejumlah buku-buku yang ditulis Tgk Hasan memberi bukti, ia tak sekedar menyandang gelar kosong, seperti yang dilakukan sebagian intelektual Aceh saat ini. Hasan Tiro benar-benar mengisi gelarnya itu dengan karya-karya intelektual.
Tulisan ini tentu saja bukan sekedar untuk memuja-muji Hasan Tiro. Tapi untuk mengingatkan orang Aceh, khususnya pengikut dan pengagumnya. Demi Aceh, Hasan Tiro telah berhasil memainkan perannya hingga ke tingkat internasional. Semua itu dengan kecerdasan, keberanian dan sikap pantang menyerah yang dimiliki.
Beliau telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk Aceh. Mengajarkan tentang banyak hal. Tentang bagaimana memperjuangkan martabat Aceh, bagaimana cara bersungguh-sungguh dalam memperjuangkan apa yang diyakini, mengajarkan tentang bagaimana seharusnya menjadi intelektual, bahkan mengajarkan kita bagaimana semestinya menjadi seniman.
Apakah semua pelajaran itu hanya untuk dikenang? Sebaiknya mari kita “mengamalkannya”.