Rabu, 26 September 2012

Rocky : Kombatan Double Gardan yang Menjadi Bupati

Semasa gerilya, Rocky menjadi kombatan kesayangan Ishak Daud. Sosok yang taat perintah Muzakir Manaf, kini menjadi Bupati Aceh Timur.
___________________________________
BANGUNAN tua itu hanya satu lantai. Luasnya cuma dua kali lapangan badminton. Tempat parkir tak begitu tertata, beralas tanah yang jika hujan akan berlumpur. Di sisi kiri gerbang pagar yang tak berpintu, ada satu pos jaga.
Terletak di jantung Kota Idi, rasanya tak pas disebut kantor bupati. “Ya ini dulunya kantor camat,” kata Hasballah M. Thaib, Bupati Aceh Timur, yang pelantikannya masih seumur jagung, pekan lalu.
Lantas di mana nantinya kantor bupati? Hasballah yang akrab disapa Rocky menunjuk ke arah kanan kantor. Di atas perbukitan di seberang jalan utama ada beberapa gedung yang belum jadi. Beberapa di antaranya juga masih berupa pondasi.
Untuk menuju ke situ pun harus memakai kendaraan agar dapat melaju di jalan yang masih berupa tanah dan berbukit-bukit. Lokasi perkantoran ini sudah mulai dibangun sejak Bupati Muslim. Namun, pembangunan pusat pemerintahan Aceh Timur ini terbengkalai bertahun-tahun.
Tentu saja pekerjaan itu menjadi salah satu kewajiban Rocky untuk menyelesaikannya. “Di samping soal manajemen kantor yang juga perlu banyak pembenahan,” kata Rocky.
Selain itu, dia juga bertekad membangun perekenomian masyarakat Aceh Timur. “Di sini cocok untuk pertanian, perkebunan, dan nelayan,” katanya. Untuk pertanian yang modern, selain sudah menjalin hubungan dengan Kementerian Pertanian, Rocky juga bakal mendapat bantuan dari sahabatnya seorang pengusaha dari Korea Selatan.
Begitu juga dengan perkebunan dan nelayan. Dia sudah mengontak departemen terkait untuk membantu rakyat Aceh Timur. Selain itu, Rocky akan memfokuskan pada pendidikan dan kesehatan masyarakat.
Sebetulnya, Aceh Timur juga kaya akan hasil tambang. Di sini sudah ada Medco Energy. “Saya sangat mendukung kedatangan perusahaan-perusahaan raksasa ke sini. Dan akan membuka tangan selebar-lebarnya. Bagi saya yang paling utama adalah bagaimana caranya perekonomian masyarakat Aceh Timur bisa bangkit,” katanya.
****
BERKULIT coklat, Rocky berusia 38 tahun. Dia termasuk salah satu bupati termuda di Aceh. Pada dirinya sudah tertanam jiwa entrepreneur yang kuat. Sejak kecil, dia sudah suka berdagang. Dunia bisnis memang cocok dengan karakternya yang ramah dan berbicara santun.
Bahkan untuk biaya sekolah, dia menjual daun pisang, dan membantu ayahnya, Haji M. Thaib, di kebun. Sejak sekolah tingkat pertama, dia sudah beternak lembu dan kerbau. “Saya memandikan sendiri lembu-lembu yang saya miliki ketika itu,” katanya. “Jika ternak sehat, hasilnya juga bagus.”
Namun, jiwa pedagangnya beralih menjadi kombatan usai sekolah MTsN (setara dengan SMP). “Waktu itu saya menjadi simpatisan saja,” katanya. Walau masih belia, dia sudah dipercaya menjadi pengawal Nek Tu, salah seorang pemimpin GAM di Wilayah Peureulak sejak 1990.
Selain itu, dia juga bertugas mengantar makanan untuk kombatan di persembunyian. Belakangan dia ikut terlibat perampasan senjata di Buloh Blang Ara, Lhokseumawe. Aparat kemudian mencium keterlibatan Rocky dalam GAM. Selama pelarian, Rocky masuk pesantren dan mendalami ilmu agama selama 6 tahun.
Pada 1997 dia mulai lagi kembali ke bakat bisnisnya. Dia bisa bekerja sama dengan sebuah perkebunan dan mampu membeli truk. Setahun kemudian Rocky sudah ke Batam. Di sini dia kembali bersentuhan dengan tokoh Gerakan Aceh Merdeka, Ahmad Kandang. “Setiap hari diboncengi Ahmad Kandang, di pinggang kami terselip pistol satu seorang,” katanya.
Setahun di Batam dia kembali ke Idi. “Saya ditangkap militer GAM. Dituduh mafia besar di Pulau Batam,” katanya. Dia pun berada dalam sandera selama tiga hari tiga malam. Rocky ditangkap oleh tentara GAM yang dipimpin Nek Tu. “Saat itu, Nek Tu nggak kenal sama saya lagi. Sebab, ketika mengawal Nek Tu, saya masih kecil. Saat ditangkap, saya sudah beranjak dewasa.”
Di masa penahanan itulah dia bertemu dengan sepupunya, Adnan, seorang pelatih tentara GAM di Libya. “Kenapa di sini,” tanya Adnan. “Mana saya tahu, kan yang menangkap saya adalah orang-orang Abang juga,” jawab Rocky. “Apa masalahnya?” tanya Adnan. “Saya nggak tahu,” jawab Rocky.
Adnan kemudian mempertanyakan penangkapan adiknya itu ke Nek Tu. Adnan pun menjelaskan siapa Rocky sebenarnya. Tentu, Nek Tu terkejut. Dia langsung menjumpai Rocky dan membawa bersamanya.
“Saya hanya mau sementara sama Nek Tu, dan saya tidur dalam kamp Nek Tu,” katanya. Belakangan malah Rocky mencuri tiga pucuk senjata di tempat Nek Tu. Bersama dua temannya, dia ikut dalam sebuah pertempuran melawan TNI yang bertugas di Aceh Timur. Rupanya, Nek Tu senang dengan aksi Rocky.
Akhir 1998, Rocky dibawa Yahya Muadz, salah seorang tokoh GAM yang kini adalah Sekretaris Jenderal Partai Aceh, untuk belajar sejarah Aceh. “Beliau mengajarkan tentang sejarah Aceh sebelum hingga masa Wali Nanggroe Hasan Tiro,” katanya. Rocky menyebarkan ilmu yang diperolehnya dari Yahya Muadz di Aceh Timur.
Lima bulan berselang, Rocky dipercaya Panglima Sagoe Idi pada 1999. Dia dibekali tiga pucuk senjata. “Dua laras panjang, satu pistol. Pistol saya yang pegang,” katanya. Bermodalkan tiga pucuk senjata, dia mampu mengumpulkan 40 pucuk senjata.
Selama menjadi panglima sagoe, Rocky sempat menduduki Idi selama 16 jam pada 2000. Setahun kemudian, Rocky menjadi staf keuangan wilayah Peureulak. Dia merangkap sebagai Panglima Sagoe Idi. Sempat diganti.
Kemudian, dia menjadi Wakil Komandan Operasi Peureulak merangkap staf keuangan. Dalam menjabat komandan operasi, dia sempat ditarik lagi untuk merangkap sebagai Panglima Sagoe Idi. “Saya sampai tujuh kali menjadi pejabat sementara di Idi,” katanya.
Rocky adalah tipikal kombatan yang sangat taat kepada atasannya. Itu sebabnya dia menjadi salah satu anak buah kesayangan Ishak Daud, Panglima Wilayah Peureulak. Bersama Ishak, dia sering mencari obat-obatan di kota, membawa ke kampung-kampung, dan mengobati orang-orang kampung.
“Ketika singgah di rumah orang miskin yang rumahnya reot, kami memperbaikinya bersama-sama. Kami yang mencari kayu, bambu, sampai ke atap,” katanya. “Tiga hari selesai kami buat rumah, itu seperti bedah rumah,” katanya.
Salah satu orang tua itu adalah Po Mi, seorang janda tua yang miskin yang tinggal di Desa Lhok Dalam. “Dia orangnya baik sekali. Kami gerilyawan selalu ditampung di rumah janda itu,” katanya.
Sehari sebelum meninggal, Ishak sempat bicara dengan Rocky. “Tolong jaga Idi baik-baik. Saya mau meninggalkan tempat ini bersama isteri saya. Tolong juga lihat-lihat keluarga saya,” pesan Ishak pada Rocky.
Rocky juga sangat dekat dengan Mualem, sapaan akrab Wakil Gubernur Muzakir Manaf yang juga mantan Panglima GAM. “Saya sangat mematuhi perintah Mualem. Sering menasihati saya,” katanya. “Kalau ada yang bilang saya berselisih paham dengan Mualem, itu yang bicara adalah orang gila.”
****
SETELAH perdamaian, Rocky kembali ke dunia bisnis. Selain masuk ke dunia konstruksi, Rocky juga adalah pemasok pupuk ke Aceh Timur, dan juga memiliki sejumlah boat nelayan. Kendati demikian, dia tetap di Komite Peralihan Aceh.
Sebagai pengusaha, Rocky mengikuti pesan Mualem. “Dalam mencari rezeki jangan melanggar hukum. Masih banyak jalan di jalur yang benar. Begitu kata Mualem,” kata Rocky.
Mualem meminta Rocky untuk tetap tinggal di Idi, Aceh Timur. “Walau saya sudah membeli rumah di Medan (Sumatera Utara), saya tetap bermukim di Idi,” katanya. “Mualem bilang jangan tinggal di luar daerah. Perhatikan nasib saudara-saudaramu di Aceh Timur.” Kata Rocky,
Belakangan, sebagai Ketua Umum Partai Aceh, Mualem, meminta Rocky untuk menjadi calon dari partai. “Sebenarnya, saya hanya ingin membantu Mualem dalam tim suksesnya saja,” katanya. Sebab Mualem sudah memerintahnya, Rocky tak membantah. “Mualem sudah seperti orang tua saya,” katanya.
Kendati demikian, Rocky meminta jajaran Partai Aceh Wilayah Aceh Timur untuk menyelenggarakan konvensi. Ternyata, Rocky memenangkan konvensi secara demokratis.
Bahkan, dia juga terpilih dengan suara terbanyak dalam pemilihan bupati di Aceh Timur. Mualem sendiri percaya Rocky akan berupaya membangkitkan Aceh Timur. “Dia orang yang baik dan pekerja keras,” kata Mualem.
Bahkan, julukan Rocky itu pun muncul karena tipikalnya yang pekerja keras dan pantang menyerah. “Double gardan, seperti Rocky yang dibintangi Silvester Stallone (Film “Rocky”). Tapi gagah juga julukan itu ya,” kata Rocky bergurau.
Setelah terpilih menjadi bupati, dia menargetkan penyelesaian pembangunan pusat pemerintahan. “Saya ingin menjadikan Aceh Timur mampu bersaing dengan kabupaten lain di Aceh,” katanya.
“Saya ingin Aceh Timur mencontoh salah satu kabupaten di Korea Selatan.” Pertengahan September lalu, pengusaha Korea Selatan itu pun telah berkunjung ke Aceh Timur untuk membahas keinginan Rocky.[]
 http://atjehpost.com

Thaliban Berikan Amnesti Menteri Terkait Film Anti-Islam

KABUL - Taliban di Afghanistan mengatakan kelompok itu memberikan amnesti kepada seorang menteri kabinet yang sebelumnya menawarkan hadiah bagi siapa pun yang bisa membunuh pembuat film Innocence of Muslims.
Seorang juru bicara Taliban mengatakan hari Rabu (26/09) bahwa Menteri Urusan Kereta Api Ghulam Ahmad Bilour telah dicabut dari daftar orang-orang yang menjadi sasaran serangan Taliban.
Menurut juru bicara Taliban Ehsanullah Ehsan, pandangan Ghulam Ahmad Bilour mewakili semangat sejati Islam. Oleh karena itu Taliban mencabut namanya dari daftar orang yang diburu.
"Kami benar-benar memaafkan dia dan mencabut namanya dari daftar orang yang diburu oleh kami," kata Ehsanullah Ehsan seperti dikutip oleh beberapa media Pakistan.

Dikecam pemerintah
Dia menambahkan dewan shura, dewan permusyawaratan tinggi Taliban, mengadakan pertemuan sehari sebelumnya dan "memuji Bilour atas pengorbanannya demi Islam".
Namun Ehsan menegaskan pemberian amnesti hanya berlaku bagi Menteri Urusan Kereta Api Ghulam Ahmad Bilour dan tidak berlaku bagi pengurus-pengurus lain di partai Bilour, Partai Nasional Awami. Partai itu dianggap sekuler dan menentang Taliban.
Sebelumnya Bilour menawarkan hadiah sebesar US$100.000 bagi siapa saja yang bisa membunuh pembuat film yang dianggap menghina Nabi Muhammad, Innocence of Muslims yang dibuat di Amerika Serikat.
"Saya akan membayar US$100.000 bagi mereka yang membunuh pembuat film itu," kata Bilour.
Pemerintah Pakistan mengecam keras tindakan Bilour tetapi sejauh ini dia masih menjabat sebagai Menteri Urusan Kereta Api.[] 

Membuat Flashdisk Menjadi RAM

Kalian pasti tahu dengan namanya RAM.
RAM ( RANDOM ACCES MEMORY ) itu adalah sebuah perangkat keras komputer yang berfungsi menyimpan  berbagai data dan instruksi program. jadi termasuk bagian penting dr pc atau laptop. setiap RAM pasti ada kapasitasnya tentunya terbatas. kebayang gak kalok RAM ini penuh, pasti sering hang atau crash.
Hang atau crash itu bagi pengguna pc atau leptop adalah hal yang paling menyebalkan. karena hang semua data atau file yang belum disimpan pasti akan hilang atau rusak. Dan terlebih pula kita harus merestart komputer atau laptop kita karena hang tersebut. merestart komputer dengan cara kasar ini bisa membuat komputer atau laptop anda rusak karena aliran listrik yang mengalir di komponen-komponen yang ada pada dalam laptop terputus secara tiba-tiba
Banyak orang mengantisipasi hal ini dengan membeli ram tambahan tentunya bagi orang yang banyak uang soalnya harga RAM ini lumayan tinggi juga. tapi ada solusi lain yaitu dengan mengubah FLASHDISK menjadi RAM tentunya dengan batuan Software, EBOOSTR namanya!!
Langkah-langkah yang di tempuh
1. Download Software di  situs 1
2. Install seperti biasa
3. setelah itu restar PC atau LAPTOP
4.  jalankan SOFTWARE tadi
5. Klik Add lalu pilih flashdisk yang akan di jadikan sebagai RAM.
6. Tentukan Kapasitas yang akan dijadikan sebagai RAM.
7. Jika sudah maka Ok atau Finish lalu tunggu sebentar karena sedang proses  mengalokasikan file chace pada Flashdisk.
Cara ini sudah saya coba dan hasilnya berhasil dan cara ini berhasil juga menggunakan MMC hp.
 http://teknologi.kompasiana.com

Lawan karikatur Nabi Muhammad dengan karikatur anti Barat

Sebuah harian Mesir meluncurkan kampanye menentang karikatur Nabi Muhammad yang dipublikasikan oleh majalah Prancis Charlie Hebdo.
Al-Watan, sebuah surat kabar sekuler, menerbitkan 13 karikatur di bawah slogan "Lawan karikatur dengan karikatur."
Salah satu diantaranya menggambarkan sepasang kacamata yang sedang memandang gedung World Trade Center di New York, AS terbakar, dengan tulisan, "Kacamata Barat untuk dunia Islam."
Karikatur Charlie Hebdo muncul di tengah keriuhan menyusul beredarnya video yang menghina Islam.
Sekitar 50 orang meninggal dunia dalam berbagai protes yang dimulai dua pekan lalu akibat film amatir, Innocence of Muslims.

Respon beradab

Karikatur satir Charlie Hebdo memicu demonstrasi kecil di depan Kedutaan Besar Prancis di Kairo, Jumat, meski di dunia Muslim lainnya unjuk rasa atas Prancis dan Innocence of Muslims telah menjadi aksi skala besar dan diwarnai kekerasan.
Karikatur al-Watan yang dicetak dua halaman penuh itu merupakan bagian dari edisi khusus 12 halaman sebagai tanggapan atas Charlie Hebdo.
Edisi itu juga memuat artikel oleh penulis sekuler kenamaan seperti mantan direktur riset Pusat Kajian Timur Tengah Carnegie Amr Hamzawi dan ulama Islam Mesir terkemuka seperti Mufti Besar Mesir, Ali Gomaa.
Ada pula karikatur yang menunjukkan seorang pria kulit putih menuduh seorang pria berjanggut sebagai teroris sebelum ia menyadari bahwa pria tersebut berasal dari Israel dan kemudian memberinya bunga.

Pujian pembaca

Karikatur lain menunjukkan dua gambar pria Arab yang diletakkan bersisian.
Seorang pria mengenakan topi, jaket serta memiliki janggut tipis; sedangkan yang satu lagi berjanggut tebal, mengenakan turban di kepala dan menyeringai memperlihatkan gigi geliginya dan membawa sebilah pisau berlumuran darah.
al watan

Sebuah lampu senter bermotif bendera Amerika menyorit gambar pria dengan pisau.
Para pembaca al-Watan yang sangat kritis terhadap gerakan Ikhwanul Muslimin pimpinan Presiden Mohammed Mursi bereaksi positif terhadap suplemen tersebut.
Beberapa diantaranya berkomentar di situs web al-Watan memuji ide melawan "pikiran dengan pikiran" dan berterimakasih atas "respon beradab" harian tersebut.
http://www.bbc.co.uk

Rabu, 19 September 2012

Mijil Wengi Mangsa Kapurnaman


Wengi iku aku cukla-cukli nedya ngetutake jumangkahingsuku saparan-paran,
sineret kareping rasa kepingin dhedhepe nglesot ngresepi tawang
nyawang sunaring Rembulan Kapurnaman. "tinimbang turu sore, kaki"

Ing ereng-erenging pareden kae, sapa tambuh-sapawanuh,
menawa ta ana warih wangi mancur hangambar,
bening satiti wantah satitah, tinata satata sarwa-sarwi prasaja,
kamangka sajatine iku panti ngulir budi nggayuh basuki.
"Menawa kepingin weruh merema,
Kalamun harsa sumurub urubing tirta, kendhalenana talining mega"

Aku banjur ngendhegake jumangkahing suku,
nata ilining sedya, gya antut malebeng karsa, nyawiji ing rasa.
Sawetawis swasana sepi nglangut, angayut tumiyuping maruta anglalir
lelering ilir-ilir sinekar kanthi maneges,
manekung puja nothok kori karahayon,
mbikak ineping gebyog wiyar: Kaluhuran.
"Sepi iku resepana sanajan sepa sapanen suwunen sawabe
dimen kantuk kasusantane sang taya"

Kamangka aku mung udhu klungsu,
pangoting panggraita wus suwe kethul,
apa maneh pancen aku durung tekan undhak-undhakan Tuwa,
tuwangga tuwuh wawasane, bisa tumanggaping wacana, tumuju waluya Nyata.

Pirembagan imbal wacana sansaya dalu ngancik parak enjang,
sansaya regeng gumrenggeng pindha laler mengeng.
Kawedal Pangandikan kang bangkit mbangun rasa manembah
mring GUSTI ALLAH, kapireng pangandikan kang bangkit mbangun rasa Mulya,
kapiarsa pangandikan kang sinung bobot, boboting pangandikan dumunung ing bibiting basa,
kang sinurung ROSO RESEP."kalamun harsa mblebesake rasa, jajag-jajag kedhungebasa"
............ ..dhuh...

...Nun inggih binerkahan, kersaning Hyang Wenang dalu punika kula kiyat njereng soca.
Sampun ngantos wastra lungsit ing sampiran, sigra tut wuri,
sung andherek dhudhah-dhudhah, dhudhuk-dhudhuk, gugah-gugah,
yektining kautaman, NGESTHI SWASTIASTU RUMING NARPATI
Sepuh panwus pantes kalamun pupuse tansah ngidung pepujan jati bisa sepi ing nepsu,
lenggah esepi ing kewuh Sumaruna Sepi ing pamrih Karana wus karenan lereming reh Rahayu

Semanten saparan pangajeng ajeng pepintan suk kapan saget kasebat Tuwa,
tuwuh wawasane, bisa tumanggaping wacana, tumuju waluya nyata
Hawya kongsi wuta ing kawaspadan
haywa kongsi tilar tapak tumpang tindhih semu ing lena
hawya kongsi towong ing paminta dimen dhuhkita lunga tanpa pepoyan.

Lir asuku jaja ateken janggut, ukur-ukur badan sepata
jebul aku isih dumunung ing wengkoning klapa,
durung tekan sari-sarining rasa, apa maneh tekan dununging werda dadi pepadhang !!
pancen lantiping panggraitaiku pangkat-pangkat.
Nanging aku kudu nggedhegake ati,

Tliti, tlaten, Taberi ngudi, sregep neges kinarya pawitane.
Rasa iku satitah, diudi kanthi samadya, aja nganti salah kedaden dadi nefsu,
mugi katrajua kanthi rahayu.

mBadal pasilan saka panti ngulir budi,
Kapurnaman,kanyata dudu sadrema : "tinimbang turu sore", jalaran:
"turune janma arip, kalamun melek darbe melik, melok-melok harsa muluk.
turun-e wara tapa tansah ngupadi wasita adi tetep dadi tepa palupi
"mbuh suk kapan....... .

Hanenggih, katata, katiti tilas-telasing atur,
temtu kemawon anggen kula mbusanani ukara, nata basa kirang besus,
mugi kabesut salwireng lepat, duna dungkap, saha unggah-ungguhing trapsila.
Tumetesing kacuwan, dadia rerentengane kanugrahan.

Nuwun.
Kaliurang, 25 Juli 2002
Kijogogati

Plengkung Gadhing


Plengkung Gadhing

Sauruting margi laksitaning wanci
yen awan kepanggang wengis
yen ratri sepi lamis
lenggahnya kesiku, kesaru
katali godhi mbeguguk ngutho waton
wingi uni wis dadi pesthen,
dina iki dadi pasren,
sesuk mung dadi impen.
Pancen.

Ilang salwiring walat welat
wirid japa mantra gung
sisip sembir kamiseseten.
gawar kentheng rante lawe
ngundha anglong, cinancang
ing wengku pengangen-angen.

Tebane mung alun-alun pengkeran
kumarane kajantur tanpa pocapan.

panggah,
Lengkunge memba lurung
taberi larung-larung
samubarang sing kedlarung,
dadi ilen-ilen tumetesing waspa
wuyung layung-layung.


Plengkung Gadhing, 24 September 2002.
KJG-

Hong Wilaheng......


Hong wilaheng...
 
Binarung pletheking Sang Hyang Pratangga Pati,
sinawung maruta sumaruna kang tumiyup ririh tanpa
pepoyan nggondhol rujiting nala kapang-kapang
saparan-paran mangambar kongas. Mugiya kekidungan
pamuji winantu rahayu tansah konjuk mring pra kadang
sami, miwah j@wa ingkang meh ngancik dasa warsi,
katidha kalingga murda sumrambah sumarah mring pepujan
jati, agesang sejati Hyang Widi Mha Suci.
Sirep reseping sepi ing j@wa mriki, swawi
sinesep-sesep sisaning kandha lan sabda, saha den
rerepa gendhing eling-eling lelangen guyon gumyak
asuka suka kapiarsa linangkung kadya japa mantra wirid
donga, tebih saking raos kacuwan hanamung
pangigit-igit prentuling nala rena, sundhul sawab
berkah suwuk kanugrahan, wimbuh pangangen-angen,
kangen, Oh Jawaku oh Jawamu, Jawa kita kabeh.
Kepareng hambuka biwara saking Ngayoja, sinung kala
sapantha hasta brata awarna gunung suwung wang-wung,
pra sudi hamarapi kinaran redi Merapi, nun inggih ri
kalenggahan puniki jaya-jaya kondhang kaonang
nglangkungi selebriti, kalamangsa nembe gerah- sayah,
rimah-rimah lebda sesorah amarah, susah, lhaadalah!
boten kaduga boten kanyana menawi langkung saking
udakawis sedasa warsa kepengker sinaos rinaos
geter-gemeter suku kula tanpa klamit kumawantun midak
pucuking redi merapi, mrambat-mrambat kebat kliwat
anglelirwa jiwa, mbirat raos ajrih mring wilalating
bilahi, sayektosipun dede kurda nepak jaja,
ngoglengaken jangga umuk kemewat kuwating raga,
ananging hanamung nututi krenteging ati samenir nodhi
pepinginan sagiri, mersudi ngelmi alaming siwi
ndhedhepe aleming gati, ngupadi ayeming pribadi.
Dhaweg wak mami, menawi pikantuk, mugi pikantuka
ngelmi pepanthan hasta brata, megegeg anteng sugih
jeneng, datan menter katrajang bayu bajra, andhaplang
pindha Puncak Garuda, dereng!.
Namung sawetawis pamawas sowang-sowang endahing Merapi
kala semanten benten kaliyan swasana puniki.
Dinten niki, Merapi kaaniaya, geneya sedaya samya
anggege mangsa punapa murih saget lelumban surak mrata
hambata rubuh sinambi ningali kasangsaraning sesami?
sansaya tipis watesipun bencana kaliyan pahargyan,
Hamarapi, Merapi sansaya nyalawadi.
Nuwun,16।5।06. 10.30 wib (Kaserat sedasa dinten saderingipun kadadosan Lindhu ageng
ing Ngayogyakarta, 27 Mei 2006)

SEJARAH KULON PROGO

 
CUPLIKAN SEJARAH KULON PROGO
Wilayah Kulon Progo… sebelum menjadi Kabupaten Kulon Progo pada Tangga 15 Oktober 1951, terbagi atas dua kabupaten yaitu Kabupaten Kulon Progo yang berada di bagian utara sebagai bagian wilayah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kabupaten Adikarta di bagian selatan yang merupakan wilayah kekuasaan Kadipaten Pakualaman.
WILAYAH KASULTANAN NGAYOGYAKARTA HADININGRAT (KABUPATEN KULON PROGO) :Wilayah Utara.
Sebelum Perang Diponegoro di daerah Naragung, termasuk didalamnya wilayah Kulon Progo, merupakan wilayah kosong tanpa kekuasaan atau belum ada pejabat pemerintahan yang menjabat di daerah sebagai penguasa. Pada waktu itu roda pemerintahan dijalankan oleh Pepatih Dalem yang bertempat tinggal di Ibukota negara Kutogoro. Setelah Perang Diponegoro 1825-1830 di wilayah Kulon Progo (kasultanan) terbentuk empat kabupaten kecil yaitu:
1. Kabupaten Pengasih, tahun 1831
2. Kabupaten Sentolo, tahun 1831
3. Kabupaten Nanggulan, tahun 1851
4. Kabupaten Kalibawang, tahun 1855
Masing-masing kabupaten tersebut dipimpin oleh para Tumenggung atau Riyo.
Menurut buku ‘Prodjo Kejawen’ pada tahun 1912, 4 Kabupaten Kecil yakni Kabupaten Pengasih, Sentolo, Nanggulan dan Kalibawang digabung menjadi satu dan diberi nama Kabupaten Kulon Progo, dengan ibukota di Pengasih. Bupati pertama dijabat oleh Raden Tumenggung Poerbowinoto.
Dalam perjalanannya, sejak 16 Februari 1927 Kabupaten Kulon Progo dibagi atas dua Kawedanan (distrik) dengan delapan Kapanewon (onder distrik), sementara itu ibukota kabupaten dipindahkan ke Sentolo. Dua Kawedanan tersebut adalah Kawedanan Pengasih dan Kawedanan Nanggulan, yang masing-masing membawahi 4 Kapanewonan (onder distrik). Kawedanan Pengasih meliputi kepanewonan Lendah, Sentolo, Pengasih dan Kokap/sermo. Sedangkan Kawedanan Nanggulan meliputi kapanewonan Watumurah(Girimulyo ), Kalibawang dan Samigaluh. Adapaun yang menjabat bupati di Kabupaten Kulon Progo sampai dengan tahun 1951 adalah sebagai berikut:
1. RT. Poerbowinoto
2. KRT. Notoprajarto
3. KRT. Harjodiningrat
4. KRT. Djojodiningrat
5. KRT. Pringgodiningrat
6. KRT. Setjodiningrat
7. KRT. Poerwoningrat
WILAYAH KADIPATEN PAKUALAMAN (KABUPATEN ADIKARTA) : Wilayah Selatan
Di daerah selatan Kulon Progo ada suatu wilayah yang masuk Keprajan Kejawen yang bernama Kabupaten Karang Kemuning yang selanjutnya dikenal dengan nama Kabupaten Adikarta. Menurut buku ‘Vorstenlanden’ riwayat Kabupaten Adikarta sebagai berikut : disebutkan bahwa pada tahun 1813 Pangeran Notokusumo diangkat menjadi KGPA Ariyo Paku Alam I dan mendapat palungguh di sebelah barat Sungai Progo, sepanjang pantai selatan yang dikenal dengan nama daerah sebelah utara Pasir Urut Sewu. Oleh karena tanah pelungguh (Pelenggah) itu letaknya berpencaran, maka Sentana Dalem Paku Alam yang bernama Kyai Kawirejo I menasehatkan agar tanah pelungguh tersebut disatukan letaknya. Dengan penyatuan pelungguh tersebut, maka layaklah menjadi satu daerah kesatuan yang (luasnya) setingkat kabupaten. Daerah ini kemudian diberi nama Kabupaten Karang Kemuning dengan ibukota Brosot. Sebagai Bupati yang pertama adalah Tumenggung Sosrodigdojo.
Pada mas pemerintahan Bupati kedua, yang dijabat oleh R. Rio Wasadirdjo, KGPAA Paku Alam V memerintahkan agar mengusahakan pengeringan tanah rawa di Karang Kemuning. Rawa-rawa yang dikeringkan itu kemudian dijadikan tanah persawahan yang sungguh-sungguh elok, Adi (Linuwih) dan Karta (Subur) atau daerah yang sangat subur. Oleh karena itu, maka Sri Paduka Paku Alam V selanjutnya berkenan menggantikan nama Karang Kemuning menjadi Adikarta pada tahun 1877 dengan ibukota di Bendungan. Pada perkembangan selanjutnya pada tahun 1903 Ibukotanya dipindahkan ke Wates.
Kabupaten Adikarta terdiri dua kawedanan (distrik) yaitu kawedanan Sogan dan kawedanan Galur. Kawedanan Sogan meliputi kapanewon (onder distrik) Wates dan Temon, sedangkan Kawedanan Galur meliputi kapanewon Panjatan dan Brosot.
Adapun yang menjabat Bupati di Kabupaten Adikarta sampai dengan tahun 1951 berturut-turut sebagai berikut:
1. Tumenggung Sosrodigdojo
2. R. Rio Wasadirdjo
3. R.T. Surotani
4. R.M.T. Djayengirawan
5. R.M.T. Notosubroto
6. K.R.M.T. Suryaningrat
7. Mr. K.R.T. Brotodiningrat
8. K.R.T. Suryaningrat (Sungkono)
KESATUAN WILAYAH DENGAN JAWA BESAR/INDONESIA: PENGGABUNGAN KABUPATEN KULON PROGO DENGAN KABUPATEN ADIKARTA
Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945, Sri Sultan Hamengu Buwono IX dan Paku Alam VIII Pada 5 September 1945 mengeluarkan amanat yang menyatakan bahwa Wilayah Kekeuasaan Kasultanan dan Pakualaman adalah daerah yang bersifat kerajaan dan Daerah Istimewa sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada tahun 1951, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Pakualam VIII memikirkan perlunya penggabungan antara wilayah Kasultanan yaitu Kabupaten Kulon Progo (wilayah uatara) dengan wilayah Pakualaman yaitu Kabupaten Adikarto( wilayah selatan).
Atas dasar kesepakatan dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Pakualam VIII, maka oleh pemerintah pusat dikeluarkan UU No. 18 tahun 1951 yang ditetapkan pada tanggal 12 Oktober 1951 dan diundangkan tanggal 15 Oktober 1951. Undang-undang ini mengatur tentang perubahan UU No. 15 tahun 1950 untuk penggabungan Daerah Kabupaten Kulon Progo dan Kabupaten Adikarta dalam lingkungan DIY menjadi satu kabupaten dengan nama Kulon Progo yang selanjutnya berhak mengatur dan mengurus rumah-tangganya sendiri. Undang-undang tersebut mulai berlaku mulai tanggal 15 Oktober 1951. Selanjutnya tanggal tersebut secara yuridis formal ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Kulon Progo, yakni 15 Oktober 1951, atau saat diundangkannya UU No. 18 tahun 1951 oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia.
Selanjutnya pada Tanggal 29 Desember 1951 proses administrasi penggabungan telah selesai dan pada tanggal 1 Januari 1952, administrasi pemerintahan baru, mulai dilaksanakan, dengan pusat pemerintahan di Wates.
Nama-nama yang menjabat Bupati Kulon Progo sejak tahun 1951 sampai sekarang adalah sbb:
1. KRT. Suryoningrat (1951 - 1959)
2. R. Prodjo Suparno (1959-1962)
3. KRT. Kertodiningrat (1963-1969)
4. R. Soetedjo (1969-1975)
5. R. Soeparno (1975-1980)
6. Drs. KRT. Wijoyo Hadiningrat ( 1981-1991)
7. Drs, H, Suratidjo (1991-2001)
8. H. Toyo Santosa Dipo (PDIP), Wakil Bupati H. Anwar Hamid (PKB) -
2001-2006
9. H. Toyo Santosa Dipo (PDIP) dan Wakil Drs. H. Mulyono (PAN) -2006-2011
Sumber : DPRD Kulon Progo, (editing KJG 09)

Suluk Plencung

Goro-goro tanpa jejer punakawan wus dumadi ing nagri tanpa tuwan. Lindhu gedhe makaping-kaping esuk, sore, awan lan ing tengahing wengi gugah-gugah urip, uriping manungsa. Elik-elik ing talingan ati murih aririh padha elinga mring Sang Hyang Maha Kawasa. Ujare wara tapa donya iki wis sansaya tuwa, isen-isene weweg kebak memala suker. Mula lumrah manawa bumi obah njaluk banyu suci minangka pangruwating sukerta.

Ora susah was sumelang, dawane urip kena diwilang, abange getih iku nyilih, nyawa sadrema gadhuhan, palungguhan lan rejeki iku potangan, sing utama taberi ngibadah aja nganti belang-belang.

Mugya sesuk isih ana srengenge, supaya aku isih semengka nyaur pundhat utangku marang Gustiku. Ayo ayo aja endha, aja semaya,aja cidra apa maneh sulaya. Etung-etungan ing tembe wuri iku ora wola-wali nanging pesthi lan permati. Sapa lena bakal kapralaya, ilang kapracondhang dadi awu lan intiping nraka, ora ana kang bisa suwala

Suwe ora Jamu, Jamu Ora Suwe

Suwe ora Jamu, Jamu Ora Suwe
Pancen sing jenenge jamu, luwih-luwih jamu jawa wis kondhang rasane ora enak, pahit, pedhes, getir campur adhuk,  kepara njuwarehi lan gawe gebres-gebres, menawa ora kewawa banjur mlukok, malah gawe wutah isen-isening weteng. Nanging yen di udhari mupangate, jeneng jamu pancen duwe tujuwan gawe seger, lan kanggo ngunggahake kasarasan utawa mbalekake awak lungrah lan badan sing sayah. Bab loro mau pancen beda-beda wiradate, nalika ngunjuk,  jamu rasane ora enak, nanging sawise ngrasaake mupangate banjur rumangsa marem lan kepenak. 
Iki kaya lelakon ing wektu-wektu iki kang dak lakoni, ibarate aku iki agi diweleg jamu, gelem-ra gelem jamu iki kudu tak ombe, muga-muga wae iki bener-bener jamu dudu jenu kang mbilaheni. Iya, pancen mung kudu tak dhadhaki, kenangapa aku kudu ngadhepi prastawa kaya ngene, kenangapa aku kudu ana ing undherane perkara iki,  sajake Gusti Hyang Murbeng Manon wus paring pepanci,  pancen iki bageyanku, dadi ya kudu tak trima kanthi sumarah. 
12 Januari 2010 ing nGGirli, lan wektu-wektu sabanjure, akeh lelakon kang banget ngedab-edabi, siji siji wis bisa tak rampungi, jebule ing ngarep kana isih akeh lan bakal sansaya akeh, lelakon lan pakaryan kang kudu dak adhepi. Ora luwung aku mung lothung, akeh kanca kang asung pambiyantu, iki dadi nggedhekake atiku, luwih-luwih ana tangan kukuh kang tansah nganthi lakuku, ana payung agung kang tansah ngeyubi lan mbentengi awakku, Dhuh Gusti Yesus...maturnuwun : kula madhep mantep, estu ndherek dhawuh paduka...

 Kijogogati, 23/2/2010

MAYANG


Mayang Wewayangan

Wis sawetara wektu  iki awakku kecemplung ing kedhung sing satemene dudu papan padusanku. Sakawit pancen aku mung kepingin raup, ambasuh regeting praupan, nanging jebul anan swara sing mrawasa aku, menawa aku kudu nyemplung kedhung mau. Kebacut klebus, kenangapa ora adus sisan, kebacut nyemplung kena ngapa ora kungkum sisan. 

Senajan rasa atis rumasuk ing otot bebayu, nelesi mrembes jroning balung lan sungsum  nanging sejatine iku atis kang agawe seger sumyah, bisa ngilangake lungrah lan sayah.  Saupama aku duwe wektu kang dawa mesthi aku banjur lelumban, ciblon, nglangi, slulup, nyilem utawa ngambang mbathang mekangkang kaya yuyu kangkang. Nanging wektuku pancen ora suwe, kejaba iku aku kudu eling menawa kedhung iki dudu padusanku sing sak mesthine. 
KJG
Kayangan, 28 Mei 2010.

ROSO URIP

Urip iku rasa, rasa iku urip, urip tanpa rasa iku reca.
wira wiri ora rumangsa wirang karana wus ilang rasane
den samudana ora krasa, direrepa ora rumangsa, disendhu ora digugu, dipenggak nyangkal tenggak, digatra sansaya ndadra
Atine tan tanggap, esmune sepi ing sasmita, meguguk mangutha waton, mbondhan tanpa ratu
watake pekok tan kena ginepok alok, sikepe mbedhug boten kinukup ing gludhug..
KGJ

Dursasana Kapralaya

Isih ngocap rasani satriya Kurawa, beda maneh menawa ngandha Raden Dursasana, Satriya Banjarjunut, adhi cer Duryudana kangmase Durmogati, putra Destarata lan Dewi Gendari Suta.

Menawa Durmagati pawakane lemu semu ndhagel, prigel ngolah tembung luwih-luwih menawa nyecenges Sengkuni. Durmogati awake pendeng, uteke rada penceng, gulune mblesek raine ndangak, swarane bindheng, dene Dursasana gagah gedhe dhuwur, brengose sakepel, wok simbar jaja, swarane banter, sora guyune merga sajak kamban cangkeme.

Raden Dursasana duwe sisihan aran Dewi Saltani, lan peputra siji Raden Dursala, sing sektine ngluwihi ramane. Emane Raden Dursala tiwas dening Raden Gatutkaca sadurunge perang brubuh Baratayuda bedhah.

Dursasana utawa Duhsasana (Sansekerta: Duśśāsana), dhapukan Kurawa kang kadunungan sipat adigang adigung adiguna, seneng umuk angedhapruk sundhul ngawiyat, ngilani dayane liyan lan sok murang tata nggonjak saresmi dolanan wanita. Karemane ngombe banyu gendheng, vodka, whyski-cola, elek-eleke anggur cap orang tua kepara menawa ora ana liyane lapen ya kolu. Sumbare kaya mutung-mutungna wesi gligen, dhasare sinisihan bandha turah donya, sugih brahewu, karepe nyawa wae pengin dituku.

Patine Raden Dursasana ing perang Baratayuda, banget nrenyuhake, beda adoh kalayan lelakone kang brasak nyempal tunggak. Sawise lerepe Lesmana Mandrakumara putra Duryudana, sabanjure Dursasana sinengkaake ngaluhur ginadhang nggateake Duryudana ngembani Ngastinadiraja. Dursasana dieman ora oleh maju ayuda, malah Duryudana mapanake Dursasana ing dhampar kaprajan, sinambi ngamping-ampingi njaga Banowati sisihane Duryudana.

Nanging Banowati ora jenjem rasane lan ora tentrem atine, apa maneh ngerti menawa Dursasana watake brangasan, nggonjak cluthak marang sa sapaa wanita. Banowati banjur ngobong atine Dursasana kanthi telahan satriya jiirih wedi getih, Dursasana genten misuhi Banowati minangka mata pitane Pandhawa lan wis tumindak lelemeran slingkuh kalayan Arjuna, buktine Banowati luwih sedhih kelangan patine Abimanyu tinimbang kelangan patine Lesmana, putrane dhewe.

Dursasana saya suwe saya kebrongot atine amerga dicecamah dening Banowati. Kocapa kacarita Dursasana sigra cancut taiwanda sikep maju ngayuda, nggoleki mungsuh pilih tandhing Raden Bima Sena. Ganepe carita Raden Dursasana kalindhih ing yuda, matemah banjur keplayu nggenjrit ndhelik sidheman nyemplung Kali Cing Cing Goling. Bima Sena sedya nyemplung kali Cing-Cing Goling nututi Dursasana, nanging Kresna ngelingake Sena menawa kali Cing- Cing Goling wis di pasangi wirid donga sepata japa mantra ala dening Durna, menawa Pendhawa nyemplung kali Cing-Cing Goling mesthi bakal tumpes kalindhih yudane.

Watak licik Dursasana katon ing crita iki, saben-saben kalah perang kalayan Bima Sena, Dursasana nuli nyemplung kali Cing-Cing Goling, mesthi wae Bima Sena ora wani nututi nyemplung kali wedi kena walat sengker sing dipasang Durna. Ambal-ambalan Dursasana nyemplung kali Cing Cing Goling ngguwang rasa wirang sing penting slamet bisa ngulur nyawa, noya nayu baskara titi mangsa wus tumeka titiwancine sukmane Tarka lan Sarka mbales lara wirang. Tarka lan sarka iku tukang satang paru gethek kali Cing-Cing Goling sing diperjaya Dursasana kango tumbal kurawa. Tarka lan Sarka kaidinan sing murbeng gesang kanggo males lara wirang, utang pati ijol pati, nalika Dursasana diuyak Bima lan arep nyemplung kali Cing-Cing Goling Tarka lan Sarka njegal sikile Dursasana matemah nggeblak dhawah kantaka ing bantala, wurung nyemplung kali. Ing kalodhangan kuwi Bima age-age njambak rambute Dursasana diseret ngedohi kali Cing Cing Goling, banjur didugang, didhupak, dibanting, dicengkiwing, dibuwang persis kaya kesenengane Dursasana nalika nganiaya mungsuhe.


Mirsani adhine kaaniaya dening Bima, Duryudana ora mentala, prasasat tega larane ora tega patine, mula Duryudana ngerih-erih angarih Bima supaya ngeculake Dursasana lan gawe prajanjen menawa Baratayuda dipunggel dina iku uga, sabanjure bakal mbalekake Ngastina lan Indraprasta.

Bima bingung, ewuh aya ing pambudi, nanging Kresna ngelingake supaya Bima aja lena, kaya ngapa kejeme Kurawa duk ing uni, kepara wis wola-wali goroh lan ngapusi, tanpa ngeculake Dursasana, Pendhawa mesthi menang. Bima banjur bangkit kanepsone, Dursasana gya kacandhak, tangane Dursasana dipotheng-potheng, ditugel nganti ucul saka ugel-ugel, ditendhang nganti adoh tiba tebane. Bima Sena sajak ngetok kanepsone, Dursasana sing wis buntung, awake banjur disebit-sebit, getihe diombe nganti tatas telas.

Ing prastawa kuwi dumadakan Dewi Wara Durpadi marak ing tengahing ayuda, gya nyedhaki Bima sing isih gudras ludira. Durpadi nate nadar menawa bakal ngombe getihe Dursasana karana ing lelakon duk ing uni Dursasana wani nggonjak Wara Durpadi. Ngerti menawa getihe wis entek, Bima Sena banjur meres brengos lan jenggote sing isih teles gupak rahe Dursasana banjur diusapake ing rikmane Dewi Durpadi.

Sawise Kurawa tumpes kelor, Ngastina banjur di jeki dening Pandhawa., mesthi wae kasatriyan Banjarjunut bakal ganti critane.

-Tancep kayon-
KJG-

Yu Cangik Wurung Dadi Anggota Dewan


Wis sepasar iki aku ora ketemu Yu Cangik, embuh mblayang nandi, kamangka biasane thungal-thungul, kemlithih dolan nyang omahku, luwih-luwih wingi-wingi wektu mangsa kampanye kae, esuk awan sore bengi telpon lan sms ora ana kendhate. Piye-piye wis dadi kanca, kadhangkala ora mentala, wis ngerti menawa aku kaliyan Yu Cangik beda partai, nanging kanthi majune Yu Cangik dadi caleg, aku pancen kudu melu cawe-cawe. Paribasane tega larane ora tega patine, apa maneh Yu Cangik iku jejere wanita kang amung karibetan ing nyamping kagubet ing rikma, mula menawa aku ora asung pambiyantu mesthi wae akeh sing banjur nyalahake aku. Aku dhewe tiba ewuh aya, kepara malah ana pitenah menawa aku tumindak lelemeran “selingkuh politik” kanthi kampanye kanggo partai liya, ora selak genderaku lawas sing wis suwe tak belani pancen uga mbutuhake tenagaku. Aku mung kudu wasis andum wektu, andum gawe, kareben kabeh lumaku lan ora katon saru,

Bali marang crita ilange Yu Cangik, mendahneya kulawargane banget trenyuh lan prihatin, karana KPUD wis netepake sapa-sapa kang kepilih lan wenang nglenggahi kursi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Entuk-entukane swara pemilih “by name” sing milih Yu Cangik, menawa digunggungsungsun durung nyukupi Bilangan Pembagi Pemilih (BPP) ing Daerah Pemilihan (Dapel) wilayahe Yu Cangik. Menawa dirasa pancen nggrantes, lan cures, wis direwangi keraya-raya ngentekake bandha, tembe mburine mung ngundhuh wirang, ninggal utang lan tuwuh samsara.

Jan-jane wingi-wingi aku ya wis ngelingake, menawa luwih becik Yu Cangik ngurungake anggone nyaleg, nanging sajake krentege ora bisa dipenggak, jarene kanggo neter kadigdayan jajag-jajag ngelmu, nglanggati pra pendukunge. Ana saweneh nom-noman sing saguh dadi cucuk lampah, utawa team sukses lan saguh mlaku golek swara pemilih. Nom-noman iki sing terus ngobong atine Yu Cangik lan kulawargane kanthi aweh palapuran saka lapangan menawa pendukunge Yu Cangik wis kompak lan sansaya akeh. Mesthi wae Yu Cangik banjur kebrongot lan cal-cul, nyah-nyoh ora owol ngucurake redana lan beya. Mbuh saka ngendi olehe redana lan beya mau, kepara apa sing bisa cepet dadi dhuwit banjur dilintirake mlebu gadhen. Wola-wali aku paring pemut supaya metune redana dikendhaleni, katimbang-timbang bobot gedhene kalayan kahanan, nanging Yu Cangik mbok menawa kadhung kadunungan rasa isin, gengsi menawa ora bisa nandhingi kampanyene caleg liya.

Tiba wektu etung-etungan swara jebul njeblug tenan, swara kang milih Yu Cangik mung sethithik, iku ateges ora jumbuh, glethek pethele Yu Cangik kapusan!. Plak kapidara njungkel ing bantala, nangis angraris ngiris ati, tumetesing waspa anjala niti mili satiti siji-siji. Yu Cangik rumangsa lara lan ora trima geneya kaya mangkono piwales sing ditampa. Kanggoku prastawa iki ora nggumunake, donyane politik pancen kaya ngono kuwi, sapa lena bakal cilaka, karana politik mung kebak wong sing licik, silih undhih golek menang kanthi cara apa wae. Wektu-wektu iki wis ora ana unggah-ungguh, suba-sita lan ngregani liyan, kanggo nggayuh kamukten wong tegel mrejaya mungsuhe kanthi wengis, kepara kanca bisa dadi mungsuh, mungsuh bisa dadi kanca.

Menawa dionceki pancen tatacara/system pemilu caleg iki banget ora adil, Pemilu caleg wektu iki mung duweke wong sing sugih bandha, ora ngladeni wong karep lan pinter nanging mlarat. Mula mundhak kedawa-dawa tak pupus crita bab Yu Cangik. Kareben Yu Cangik ngilang lan sesidheman sawetara wektu, Yu Cangik pengin gugat mring Hyang Manon njumenengi ratri, angrasuk weninge ati amrih caket mring Gusti. Mung kanthi cara mangkono bisa meper kanepson lan tata-tata kanggo ngadhepi ombaking urip kang luwih nggegirisi ing tembe wuri.

Risang Durmogati Tuku Bakmi


Nglajo Girimulyo – Wates adikarta wektu-wektu iki asring dilakoni Durmogati. Satriya clingus si Durmogati mau pancen uda wedanane mono mung bocah penyennyengan, ora genep bebudene nanging senajan cah ndesa jarene penemune asring dinut wong akeh. Kamangka Durmogati uga ora nate mangan sekolahan, paribasan nginjik pojokaning tritisan sekolahan wae ora, Mula pantes menawa Si Dur babar blas ora duwe ngelmu pangawikan sing kebak sanepa ngrambyang mblayang sundhul awang-awang malah kepara Durmagati mung kanggonan ngelmu loro yaiku : nakal lan kurang ajar. Ya kanthi agegaman ngelmu loro kuiwi Durmogati srawung, ngrakit tembung pikoleh ing dunung. Pancen antawecanane Si Dur iku thok leh blaka suta mathuk-gathuk tinemu bongkot lan pucuke, cocok cocot lan pratingkahe. mBok menawa kanthi tatacara srawung kang sarwa-sarwi prasaja mau Durmagati malah akeh balane, jembar tebane, mekar pasedulurane, nanging sruwa-sruwi ya akeh mungsuhe.
Peteta-petete sore-sore Durmogati wis jungkatan mlipis, singsot singsot lelagon langam ”Yen Ing Tawang Ana Lintang” semu blero pelog slendro, nanging tetep wae “pede”.“ Arep minggat nyangndi Dur? Pitakone Sengkuni semu ngece. Karo isih usreg ngisik-isik Honda Megapro Durmogati celathu “biasa man, namanya juga anak muda, tinimbang turu sore ajeng golek glibengan, niki kan musim politik, jadi…sebagai cah enom kula kudu melok ndelok kahanan, kulak prungu aja nganti kalimput ing warta, ngoten” Sengkuni njenggureng nggembol kreneng krungu wangsulane Durmogati tumuli ngeculake tembung raras ririh “weeh..ehh..ehk..eh, mempeng temen kowe Dur?, ora kapok-kapok kowe dolanan politik ya? Mungguh kowe iku wasis ing babagan politik mesthine nalika kowe wingi njago caleg kalis lulus bisa kepilih, lha buktine swara sing mlumpuk milih kowe ora punjul seka telung erte? mBok uwis rasah bedhigasan nunjang palang legan golek momongan, nang ngomah wae diperdi anggone among tani, sembulihe pesthi“. Durmogati ganti trataban diungkit babagan pemilu legislative sing wis ambarang wirang lan njomplangake lelakone, banjur wangsulan “ walllaaa..man, jas bukak iket blangkon sami mawon, sampean niku patih ning gak gaul, pantes wae Ngestina niki keok terus mungsuh cah-cah Pendhawa, lha sampean dadi patih ora ngudi, bisane ming mitenah, nglimpe lan adu-adu, prandekuno tumpakane jalukane mobil camry, seneng nglencer luar negri, mlebu-metu café-restoran pesta iwak tanpa eri, sak-sakane kartu kredit elek-eleke ATM BRI, ewwwuuuuiiiidihh patih ki nek ra kalap....kiii”

Katraju kasaru pinunggel ing kandha datan kena sapu dendha luput saru siku anggenira padudon Raden Durmogati kalayan Patih Harya Suman cinupet damar mancung, …kocapa kacarita Raden Durmagati mbrabat madal pasilan tumuwus lumaksana nitih turangga wesi kyai Megapro gya nganglang ngestreni pirembagan ing pasar Gawok, Dipan Wates nagri Adikarta. Hanenggih ingkang cinarita parepatan agung sampun kawiwitan ngrembag menggah rancangan kampanye pilpres. Cukat trampil trengginas ngolah tembung ambesut kandha risang Durmogati, matemah akeh wong alok menawa ta Durmogati iku sanajan bocah gendheng uteke cupet ora genep nanging kapranjingan akal licik rinacik okol julig, cinampur ngeyel tur ora wegahan, mula apa sing dirembug adoh ngayawara kepara mligi bab-bab sing kuwawa lan bisa dicake kewala.
Bubaran saka parepatan agung, Durmogati tumuli bali ndhangkane, “we alllaaaww..lelakon..lelakon..bot-bote anut grubyug ngoglengake negara golek pemimpin sing pro rakyat, sayah ora tak rasa susah, wegah ora tak gawe jenggah, kabeh mau mung kango ngibadah…owalllaahhh gusti…paringana kathok dawa..” mangkono risang Durmagati ngudarasa jroning nala, ambabar rasa anglaling lelimengane lelakon negara.
Jantra lakune si Durmogati kacihna wus tumeka ereng-erenge redi Tanggulangin, penere sak lor PPSJ Paingan Pengasih-asih. Sajak krasa luwe si Durmogati, mak kluwer titihan jaran wesi kyai Megapro banjur dienggokake mandheg latare mBah Tenggok. Mlebu bledheng Durmogati nggloso ing lincak dawa kaya adat sabene, bertek-bertek swarane mbah Tenggok anambut silaning akrami rawuhipun si Durmogati ”koq sonten-sontenan den, saking tindak pundi rak nggih sami wilujeng to? Ngersaaken ngunjuk punapa? Dhahar boten?” Durmogati banjur wangsulan ”biasa mBah, rasah crigis”. Let limang menit mBah Tenggok wis metu nggawa wedang teh gula batu sing kondhang sinebut wedang kebo ndhekem, kampul-kampul kumebul nantang lambe sajak njaluk disrutup sak wadhahe, ujare Durmogati ”whuadalah...bojleng-bojleng belis laknat jeg-jegan ....kangen tenan gue sama wedang kebo ndhekem huiii hiii hiiki ” Mesthi wae Durmogati krasa kangen kepethuk teh nasgithel, lha wong nang kasatriyan Ngastina omben-ombenane saben dina mansion house campur cola elek-eleke lapen je. Ora nganti gantalan suwe bakmi goreng kinyis-kinyis sak piring mundhung nganti kaya gunung jamurdipa sigra kawiwaha. ”monggo den, bakmine, niki wau kula tambahi swiwi karemene den Dur, lomboke mendhet kiyambak ten mbesek” celathune mBah Tenggok semu sengol, ora sengaja pancen lageh lambeyane mBah tenggok kaya mangkono. Ora nganggo wangsulan, banjur thakur sengkut Durmogati lungguh jegang sila tumpang, ngrahapi bakmi goreng kanthi tanpa tidha-tida lan trapsila apa maneh suba sita, niate mbayar kok ngapa ndadak isin-isin, mengkono batine Durmogati.
Rampung nguntal, Durmogati age-age nyengkal nyengklak jaran wesi kyai megapro, bablas bali, mlebu kamar banjur kemul sarung, mesthi wae sing wedok angrarih ukara mendha ” ora dhahar sik po mas?” Durmogati wangsulan cekak ”rak!”
Tancep kayon...
KJG

Caleg Durmogati

Umyeg bab Pemilu Legislatif (pileg) 2009 ing nagri Susuh angin, tumeka tataran wektu iki pancen isih dadi kembang lambe. Luwih-luwih ing giaran tipi lan radio, kepara malah njuwarehi, esuk, awan, sore bengi ora ana pedhote para cangkem-cangkem ngompleh ngonceki bab pemilu legislatif. Semono uga ing pasrawungan lan patembayatan, akeh kang keplok -keplok melu alok adol tombok gawe ulasan pulas-pulas memba wong winasis ing babagan politik. 
Kocapa kacarita padha crita seje papane, para caleg kang wurung akeh sing keduwung, limbung lan bingung, ilang nalar weninge matemah ana sing sangklir pikire lan dadi kenthir uteke, ana uga sing tega nglalu munthes lelakon urip.

Miturut panemuku, pemliu legislatif 2009 ing nagri Susuh angin iki pancen ngeda-edabi. Wragat kanggo "nuku" demokrasi iki ora baen-baen, nganti trilyunan, emane hasile ora setimbang kaliyan beya lan wragat kang akeh mau. Tatacara kanggo ninting lan nanting wakil rakyat sing digawe KPU durung jumbuh kaliyan gegayuhan utawa pepinginan kanggo nukulake anggota dewan sing peng-pengan lan sinengguh ampuh.

Geneya kasunyatane para caleg kang kepilih mau isih akeh sing kedunungan sipat denawa, adoh saka sipat sinatriya. Paling banter memper satriya kurawa, watake wira-wiri ora wirang tan gugup sinengguh ing gludhug. Kurang luwih watak wantune para anggota dewan kira-kira kaya sipate Raden Durmogati kang mangkene = kurawa brandhal cedhal, kementhus clingus, cablaka, cebol, perot, peot, pincang, peyang, penjol, mlincur wani ngawur, rumangsa bisa, ora bisa rumangsa, wani salah wegah seleh, mlubut kendel luput, ming kadangkala tanggungjawab nek cetha sembulehe utawa gedhe dhuwite, nyolongan, ngapusi lan sok dhemenan, boros, ngowos, ndobos tanpa wos, uripe tansah asuka-suka parikena, dhahar kembul bujana andrawina karemane iwak sona. mburu wareg mentah mateng mlebu weteng ora eling barang peteng utawa hasile ngglibeng. Kanggo nggayuh kekarepane ora wigih ancik-ancik ndhase kanca, guyune lakak-lakak nyangkal tenggak, kekarepane angel dipenggak...
KJG

SANGGAR BODRONOYO PELESTARI 3 WARISAN BUDAYA DUNIA


Peneliti UNESCO: KRT Gaura Mancacaritadipura

SANGGAR BODRONOYO PELESTARI 3 WARISAN BUDAYA DUNIA

 
Girimulyo (26/11/09), Keragaman seni budaya asal Indonesia sering menjadi daya pikat bagi warga negara asing. Begitu pula dengan Gaura Mancacaritadipura, Naoko Matsuyama dan Miyata Shigeyuki, para peneliti National Research Institute Cultural Properties, sebuah Lembaga Penelitian yang mensuplai data untuk Bidang Penghargaan Budaya UNESCO.

Gaura, Naoko Matsuyama dan Miyata Shigeyuki beserta rombongan dalam kunjungannya baru-baru ini (26/11/09) ke Sanggar Bodronoyo, Dusun Ngrancah, Pendoworejo, Girimulyo merasa sangat bangga dan menemukan sumber referensi penelitian yang tepat, karena Sanggar Bodronoyo merupakan satu-satunya Sanggar yang sekaligus melestarikan 3 (tiga) Warisan Budaya Dunia yakni: Batik, Keris dan Wayang/Gamelan. “Hal ini sangat istimewa dan saya menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya, karena sanggar semacam ini tidak terdapat di tempat lain” kata Gaura dalam bahasa Indonesia yang cukup fasih.

Sebelumnya, Drs. Bambang Pidekso selaku Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kulon Progo, mewakili Bupati menyampaikan sambutan dan penghormatan yang tinggi atas kunjungan team UNESCO ke Sanggar Bodronoyo. “Meskipun dipelosok pedesaan, namun ternyata UNESCO menaruh perhatian yang besar atas gerak langkah pelestarian budaya, hal ini membuat kami menjadi sangat bangga” kata Bambang Pidekso dalam sambutannya. Lebih lanjut Kepala Dispbudpar Kulon Progo, mengharapkan agar setelah kunjungan ini bisa benar-benar membawa kemajuan bagi perkembangan pariwisata dan kebudayaan Kulon Progo dimasa depan.

Kehadiran Team Unesco yang dipimpin oleh Gaura pria asal Australia yang rela menggadaikan kewarganeraannya dan resmi menjadi warga Negara Indonesia (WNI). sekitar lima tahu silam tersebut, sontak membuat seluruh warga Sanggar terhenyak, apalagi waktu kunjungan hampir seluruh pengurus Sanggar sedang sibuk mempersiapkan Festival Tari Se DIY yang akan digelar 4 Desember yad di Karangrejek, Gunung Kidul. Namun dalam batas kesederhanaan dan suasana yang apa adanya itulah rupanya Gaura, Matsuyama dan Miyata dan rombongan menjadi sangat terkesan. Bahkan Gaura Mancacaritadipura yang mendapat gelar kehormatan dari Kasunanan Surakarta karena keahliannya mendalang sempat memperagakan kepiwaiannya selama hampir 15 menit. Begitu disiplinnya memegang pakem pedalangan Gaura sempat grogi karena pakeliran yang disediakan adalah gagrak Ngayogyakarta sementara Gaura lebih akrab dengan gaya Surakarta. Namun demikian pementasan spontan tersebut benar-benar istimewa dan mendapat aplaus meriah.

Setelah mendalang, Gaura dan rombongan kemudian melihat peragaan tatah sungging wayang, sebuah proses pembuatan wayang kulit dari lembaran kulit mentah hingga menjadi sebuah bentuk tokoh wayang. Tak bisa dipungkiri Naoko Matsuyama putri asal Jepang dan satu-satunya anggota delegasi perempuan begitu serius memperhatikan penjelasan proses pembuatan wayang kulit. Sementara itu, Miyata Shigeyuki yang berpakaian kimono cokelat muda sibuk mendokumentasikan dengan kamera vidionya. Selain melihat proses pembuatan wayang kulit rombongan UNESCO juga mendapat suguhan tatacara pembuatan keris, filosofi dan kajiannya, sementara itu untuk proses batik tidak begitui ditonjolkan karena sebelumnya team Unesco sudh berkunjung ke sentra batik Pekalongan Jawa Tengah.

Dalam kesempatan yang lain, Miyata Shigeyuki menyampaikan bahwa kunjungan ini adalah sebagai rangkaian panjang membuat data tentang seni dan budaya di Indonesia khusunya Jawa. ”kami ingin mengkaji sejarah, mendokumentasikannya melalui wawancara, foto, film dan wawancara, serta mengamati secara langsung upaya-upaya mandiri yang sangat terpuji seperti di Sanggar Bodronoyo ini” ujar Miyata serius.
(Kjg-)

Ngelmu Beja


Alam-alaman lampahing kampuh gesang, sanajan kesandhung kesrimpet karibetan ing panjanging warastra saha rikma, kagubet ing butheking wiriddonga, sumangga samya oncek-oncek tegesing gesangS. aweneh tiyang kagungan pamanggih bilih gesang punka hanamung sadremi nglampahi, dados saget dipun lampahi kanthi ngeli, nrimah ing pandum saha tansah pasrah sumarah dhumateng Ingkang Paring Gesang. Saperangan tiyang gadhah panganggep bilih gesang punika namung “mampir ngombe”, pramila dipun tegesi bilih gesang punika kedah temen, gemi-satiti ngati-ati, weweg isi saha ngemu wos ingkang wigati, karana gesang dipun tegesi namung cumpen kalawancinipun, samangke taksih kedah nglajengaken gesang tumuju griya sejati. Saweneh tiyang malih paring wedharan bilih gesang punika amanah, ngibadah saha manembah, ingkang werdinipun gesang sawau srumuwus wenang tembung, wening srawung, jumeneg anteng meneng murih kasinungan saha dunung.

Eling lan waspada ing pratingkah saha solah bawa, mujudaken oncek-oncekan sanes, ingkang anglari anglaru angluru bilih gesang punika ing pundi wacana, langkung-langkung ing papan andrawina kedah saget mapanaken raga saha jiwa kanthi arih ririh satata, wedaling kandha sampun ngantos karaos supata ingkang mawa wisa, nanging kados dene mangsi ingkang tumetes ing dlancang seta amrebawa pindha sabda pandhita ratu ingkang pratitis kebak japa mantra tebih ing suwala, warataa kangge rahayuning sadaya.

Wekdal puniki, samangke saha wanci ing wuri, tiyang gesang saget kasinungan ngelmu beja menawi sampun lumebet ing undhak-undhakaning alam-alaman gesang ingkang wijang, katiti saking mawarni-warni prekawis ingkang anggraris wisiking nalar budi, sukma saha nala. Lebet cethekipun kedhung gesang saget dipun tjajagi kanthi mardika pangkat-pangkat gumantung kasantayan saha kasantosaning laku batos piyambak-piyambak Sindhunata mrawasa gesang kathi petang ngelmu beja, mekaten :

Kuncung ireng pancal putih,
Swarga durung weruh,
Neraka durung wanuh,
Mung donya sing aku weruh,
Uripku aja nganti duwe mungsuh.


Ribang bumi ribang nyawa,
Ana beja ana cilaka,
Ana urip ana mati,
Precil mijet wohing ranti,
Seneng mesti susah,
Susah mesti seneng,
Aja seneng nek duwe,
Aja susah nek ora duwe.


Senenge saklentheng susahe sarendheng,
Susah jebule seneng,
Seneng jebule susah,
Sugih durung karuan seneng,
Ora duwe durung karuan susah,
Susah seneng ora bisa disawang,
Bisane mung dirasakake dhewe.


Kapiran kapirun sapi ora nuntun,
Urip aja mung nenuwun,
Yen sapimu masuk angin tambanana,
Jamune ulekan lombok,

Bawang uyah lan kecap,
Wetenge wedhakana parutan jahe,
Urip kudu nyambut gawe.


Pipi ngempong bokong,
Iki dhapur sampurnaning wong,
Yen ngelak ngombea,
Yen ngelih mangana,
Yen kesel ngasoa,
Yen ngantuk turua.


Pipi padha pipi,
Bokong padha bokong,
Pipi dudu bokong,
Onde-onde jemblem bakwan,
Urip iku pindha wong njajan,
Kabeh ora bisa dipangan,
Miliha sing bisa kepangan,
Mula elinga dhandhanggulane jajan.


Pipis kopyor sanggupira lunga ngaji,
Le ngaji nyang be jadah,
Gedang goreng iku rewange,
Kepethuk si alu-alu,
Nunggang dangglem nyengkelit lopis,
Utusane tuwan jenang,
Arso mbedhah ing mendhut,
Rame nggennya bandayudha,
Silih ungkih tan ana ngalah sawiji,
Patinira kecucuran.


Ki Daruna Ni Daruni,
Wis ya, aku bali menyang Giri,
Aku iki Kyai Petruk ratuning Merapi,
Lho ratu kok kadi pak tani?,


Sanggar Pamarta Jawa, 14 Juni 2009.

TENTANG SAYA

Istono Girimulyo (Ki Jogogati)

 

Salam.... 

Srumuwus ngrantos jawah dhawah sonten ing mangsa ketiga ngglanthang, klapa sansaya isi santen, sak sintena kasuwun mendha ing nala, supados boten lingsem menawi tuwuh bebanten. 

Kurawa mati ora rugi, pendhawa mukti ora methik bathi,ana kraman munggeng wuwungan becike baris pendhem nyimpang dalan, duwe mungsuh siji wis kakean, meneng anteng aja nggembol kreneng, tamtu bakal sugih jeneng. ee..jarene urip iku mung mampir ngombe, nanging genea uripku nglambrang lan tansah kebak panandhang?? 

Aku ngenteni padhang sumilaking tawang....
KGJ

Selasa, 18 September 2012

Daftar 100 Universitas Terbaik di Indonesia Tahun 2012

Inilah daftar 100 Universitas Terbaik di Indonesia Tahun 2012, simak selengkapnya:

Peringkat Indonesia
Peringkat Dunia
Nama Universitas

 
 
1
323
Institut Teknologi Bandung
2
331
Universitas Gadjah Mada
3
433
Universitas Indonesia
4
1292
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
5
1329
Universitas Pendidikan Indonesia 
6
1400
Institut Pertanian Bogor
7
1497
Universitas Sebelas Maret
8
1578
Universitas Gunadarma
9
1602
Universitas Sriwijaya
10
1619
Universitas Airlangga
11
1640
Petra Christian University
12
1642
Universitas Diponegoro
13
1650
Universitas Islam Indonesia
14
1686
Universitas Mercu Buana
15
1687
Universitas Negeri Semarang
16
1705
Universitas Negeri Malang
17
1749
Universitas Padjadjaran
18
1759
Universitas Hasanuddin
19
1768
Universitas Muhammadiyah Malang
20
1825
Universitas Sumatera Utara
21
1835
Poltek Surabaya
22
1842
Universitas Muhammadiyah Surakarta
23
1863
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
24
1999
Universitas Brawijaya
25
2068
STMIK AMIKOM
26
2096
Universitas Negeri Yogyakarta
27
2171
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
28
2216
Unikom
29
2226
Universitas Tarumanagara
30
2237
Universitas Surabaya
31
2254
Universitas Ahmad Dahlan
32
2269
Universitas Udayana
33
2359
Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
34
2430
Universitas Lampung
35
2496
ISI Denpasar
36
2638
STMIK Jakarta
37
2721
Universitas Trisakti
38
2769
Universitas Andalas
39
3033
Universitas Terbuka
40
3232
Maranatha Christian University
41
3456
Universitas Jember
42
3527
Universitas Dian Nuswantoro
43
3582
Universitas Bina Nusantara
44
3719
Sekolah Tinggi Informatika dan Komputer Indonesia
45
3757
Universitas Sam Ratulangi
46
3842
Duta Wacana Christian University
47
3905
Universitas Pancasila
48
3936
Institut Teknologi Telkom (STT Telkom)
49
3945
Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel
50
3983
Universitas Negeri Surabaya
51
4031
Universitas Atma Jaya Yogyakarta
52
4063
Institut Sains & Teknologi Akprind
53
4151
Universitas Katolik Parahyangan
54
4202
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
55
4302
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta
56
4337
Universitas Esa Unggul (Universitas Indonusa)
57
4435
Universitas Widyatama
58
4525
Universitas Jenderal Soedirman
59
4557
Universitas Riau Beranda
60
4604
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur
61
4779
STIKOM Surabaya
62
4811
Universitas Negeri Padang
63
4930
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
64
4959
Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya
65
4969
Universitas Kristen Satya Wacana
66
4977
Universitas Sanata Dharma
67
5000
Universitas Bengkulu
68
5202
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta
69
5457
Universitas Darma Persada
70
5469
Universitas Paramadina
71
5543
Politeknik Negeri Sriwijaya
72
5561
Universitas Lambung Mangkurat
73
5674
Universitas Pendidikan Ganesha
74
5815
Universitas Bina Darma
75
5987
Universitas Negeri Gorontalo
76
5994
Prasetiya Mulya Business School
77
6224
Universitas Narotama
78
6485
Politeknik Negeri Malang
79
6601
Universitas Islam Bandung
80
6743
Universitas Katolik Soegijapranata
81
6793
Widya Gama University Malang
82
6832
Universitas Pelita Harapan
83
6939
Universitas Islam Sultan Agung
84
6976
Universitas Syiah Kuala
85
6982
Universitas Negeri Makassar
86
7064
ABFI Institute Perbanas
87
7292
Universitas Trunojoyo
88
7303
Universitas Mataram
89
7416
STIE YKPN Yogyakarta
90
7455
STIE Perbanas Surabaya
91
7482
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
92
7661
Universitas Negeri Jakarta
93
7725
Universitas Budi Luhur
94
7777
Universitas Negeri Medan
95
7804
Universitas Mulawarman
96
7804
Widya Manadala Catholic University
97
7814
Universitas Islam Nusantara
98
7940
Universitas Al Azhar
99
8024
STMIK Akakom Yogyakarta
100
8132
Sekolah Tinggi Teknik Surabaya

Semoga bermanfaat. Peringkat ini didasarkan pada pertimbangan tertentu berdasarkan kriteria webometrics. (http://www.webometrics.info/)