Selasa, 28 Februari 2012

Hasan Tiro, Sang Ideolog Aceh Merdeka Dan Pimpinan GAM

hasanTiroSaya tak pernah bertemu dan bertatap muka langsung dengan Teungku Hasan di Tiro (selanjutnya disingkat Tiro saja). Tapi saya cukup menikmati menelaah pemikiran sosok yang dikenal dengan Wali Nanggroe itu, baik melalui buku-buku, pidato maupun surat-surat dia. Bagi saya, Tiro adalah penulis revolusioner Aceh. Dia juga seorang ideolog dengan pengetahuan yang cukup luas.
Maka, kematian arsitek nasionalisme Aceh modern ini tentu saja sebuah kehilangan besar bagi bangsa Aceh (mungkin juga bagi Indonesia dan Negara-negara beradab). Jujur kita katakan, Tiro bukan hanya aset Aceh dan Indonesia, melainkan bagi dunia-dunia beradab lainnya.
Dalam pengantar buku Hasan Tiro; Dari Imajinasi Negara Islam ke Imajinasi Etno-Nasionalis (Ahmad Taufan Damanik, 2011), staf FES Indonesia menceritakan bagaimana seorang sopir taxi asal Kurdistan di Jerman sangat bergembira begitu tahu bahwa penumpangnya dari Aceh. “Tiro, Ja Tiro aus Aceh” (Tiro dari Aceh). Menurut dia, bangsa Kurdistan sangat terispirasi dengan ide seorang Hasan Tiro. Hasilnya, sang sopir itu menolak menerima bayaran ketika tiba di  tempat tujuan (rumah makan Turki) sebagai penghormatan dia terhadap Hasan Tiro.
Untuk konteks Aceh belakangan ini, saya berani bertaruh, tak ada sosok yang patut disepadankan dengan dia, termasuk dari internal GAM sendiri. Tiro sangat karismatik, teguh pendirian, pintar, pekerja keras dan tentu saja pejuang sejati. Dalam rentang 50 tahun, belum tentu Aceh bisa melahirkan sosok seperti dia (semoga saja anggapan saya salah).
Jauh sebelum mengobarkan perang total dengan Indonesia, Tiro sebenarnya seorang pemikir kebangsaan Indonesia. Sosok dia dapat kita sandingkan dengan Tan Malaka, perintis kemerdekaan Indonesia, yang kemudian coba dihilangkan dari sejarah Indonesia. Tan Malaka sangat terkenal dengan visinya yang menembusi sekat-sekat nasionalisme sempit, tak sekedar mencita-citakan kemerdekaan teritorial, tapi juga manusia yang bernaung di bawahnya. Tan Malaka menyerukan kemerdekaan Indonesia seratus persen. Sebuah tujuan yang sulit dicapai (setidaknya hingga hari ini).
Sementara Tiro, sejak 1958 sudah menawarkan konsep pemerintahan federal untuk Indonesia. Tiro sangat yakin, bahwa masing-masing wilayah tak mungkin disatukan dan kemudian dipimpin oleh sebuah suku dominan. Negara harus menghormati kekhasan wilayah seperti Papua, Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera dan Aceh (sebagian wilayah itu malah perlu diizinkan menjadi Negara sendiri).
Tiro mengusulkan ide tersebut setelah melihat perlawanan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) dan Permesta/PRRI di Sumatera dan Sulawesi. Namun, ide itu sama sekali tak mendapat tanggapan positif dari pemerintah pusat di Jakarta. Malah, Tiro dipandang sebagai musuh yang diharamkan menginjak kaki di Indonesia.
Tiro sudah sejak dulu ingin mengubah Indonesia dari Negara kesatuan menjadi Negara federal. Namun, keinginan tersebut tak tercapai. Dia pun kemudian menawarkan solusi yang jauh lebih radikal dengan memperjuangkan kemerdekaan Aceh, lepas dari Indonesia.
Terus terang, sejak membaca buku Demokrasi untuk Indonesia, rasa kagum saya kepada cucu Teungku Chik di Tiro ini memuncak. Tiro dapat ditempatkan sejajar dengan pemikir sekaliber Muhammad Hatta, Syahrir, Soekarno atau Marx dan Lenin sekalipun. Semangat patriotisme Tiro bisa menempatkan dia sebanding dengan Fidel Castro, Nelson Mandela atau George Washington.
Kenapa saya begitu terkagum-kagum dengan Tiro? Ini pertanyaan sulit dijawab. Saya ingin sampaikan, rasa kagum saya bukan karena sosok dia digambarkan secara militan, karismatis atau seorang pejuang Aceh, oleh para pengikutnya atau dari buku-buku. Rasa kagum itu bukan datang karena membaca buku-buku yang ditulis para penulis tentang dia. Malah, buku-buku itu bagi saya belum begitu mampu menggambarkan sosok dia sesungguhnya.
Rasa kagum saya sepenuhnya justru karena pemikiran-pemikiran dia yang terhimpun dalam sejumlah tulisan, utamanya The Price of the Freedom (The Unfinished History of Teungku Hasan di Tiro), Aceh di Mata Donya atau Perkara dan Alasan Aceh Merdeka atau bahkan Demokrasi untuk Indonesia. Empat buku (sebagian tulisan) ini menurut saya sudah mewakili buku atau tulisan-tulisan lain untuk mengetahui pemikiran-pemikiran dia secara utuh.
Sebagai anak yang besar di tengah suasana konflik dan perang, nama Tiro tak asing di telinga saya saat itu. Nama Tiro sering disandingkan dengan Husaini Hasan, Daud Paneuk, Robert atau Arjuna. TNI atau Brimob yang sempat bermukim di kampung saya juga sering menyebut nama-nama itu dan melabelnya dengan penjahat atau pengacau. Saat itu para Camat (termasuk Keuchik) juga ikut-ikutan mengikuti sikap TNI itu.
Sejak itu, saya makin bertanya-tanya soal nama-nama ‘pemberontak’ atau ‘pengacau’ versi pemerintah tersebut. Beruntung, saya hidup di lingkungan orang-orang yang bersimpati pada perjuangan orang ini. Sehingga, informasi yang saya peroleh cenderung balance dan tak terpengaruh dengan stigma yang dilabelkan sepihak oleh TNI.
Saya masih ingat, bagaimana orang-orang tua berbicara setengah berbisik jika menyangkut Tiro atau pengikutnya yang sering disebut ‘awak ateuh’. Mereka seperti ingin menyembunyikan pembicaraan itu dari kami yang masih kecil. Dari guru sejarah saya di bangku MTs, saya mendengar Tiro sudah meninggal. (Belakangan saya jadi tahu bahwa guru saya terpengaruh dengan propaganda pemerintah). Saya tentu sedih sekali. Saya sempat berpikir, jika Tiro masih hidup, dia tentu bisa mengembalikan kejayaan Aceh.
Memori itu pula menuntun saya memburu tulisan Tiro. Saat duduk di bangku Aliyah (MA), saya beruntung mendapat foto kopi tulisan “Perkara dan Alasan Angkatan Gerakan Aceh Merdeka.” Anehnya, di sampul itu tercetak penulisnya dengan nama Jean Hara. Buku ini masih sangat rahasia dan beredar di kalangan terbatas. Saya beruntung seorang teman memberi izin untuk memfoto copy. Dalam semalam saya lahap habis isinya.
Buku stensilan tersebut benar-benar mempengaruhi saya. Saya mulai yakin bahwa perjuangan AM (dulu saya mendengar sebuah untuk pejuang GAM dengan sebutan AM atau awak ateuh) berada di pihak yang benar. Saya pun tak pernah absen menghadiri ceramah-ceramah GAM yang mulai digelar secara diam-diam di seluruh Aceh. Ceramah ini biasanya dilakukan tanpa pengumuman terlebih dulu, melainkan beredar dari mulut ke mulut.
Itulah sekelumit kisah pertemuan saya dengan Tiro (tapi bukan dalam artian pertemuan fisik). ‘Pertemuan’ ini pula membuat saya tertarik mempelajari lebih jauh pemikiran pendiri Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ini. Sebagiannya justru memengaruhi saya untuk memikirkan kembali soal identitas kebangsaan saya.
Lalu, bagaimana Tiro mendoktrin pengikutnya? Dalam Aceh Bak Mata Donja (Aceh di Mata Dunia), saya membaca pikiran-pikiran Tiro soal Nanggroe Aceh. Saya yakin pengikut beliau yang pernah berlatih di Libya pernah mendapatkan pelajaran ini secara langsung dari beliau.
Tiro cukup fasih berbicara soal Neugara Aceh. Aceh, sebutnya, salah satu bangsa yang tegak di atas bumi ini. Bangsa selalu hidup meski satu persatu anggotanya meninggal. Satu bangsa selalu tak berubah, meski keturunannya terus berganti.
“Saboh bansa hana tuha, sabé muda, bah that pih sidroë-droë angèëta djeuët keu tuha.”
Karena itu, simpulnya, bangsa Aceh hari ini masih sama dengan bangsa Aceh pada masa 100 atau 1000 tahun yang lalu atau pada masa mendatang. Keturunan tersebut terus bersambung-sambung dan tak pernah putus.
“Endatu geutanjoë njang ka maté ka ta gantoë lé geutanjoë; geutanjoë akan djigantoë lé aneuk-tjutjo njang akan lahé, meunankeuh trôk'an akhé dônja.”
Menurut Tiro, darah para indatu Aceh yang sudah meninggal mengalir dalam tubuh generasi Aceh yang masih hidup ini. Generasi sekarang juga masih berbicara dengan bahasa yang sudah diajarkan oleh para indatu tersebut.
Tiro memulai pendidikan Aceh (Acehnese Education) kepada dengan para pengikutnya dengan neuduk (kedudukan) Aceh dalam sejarah dunia. Tiro berharap, melalui pendidikan tersebut, pengikutnya merasa lebih percaya diri seperti ditunjukkan para endatu sebelumnya. Terlihat, betapa cerdik Tiro merekonstruksi kembali imaji nasionalisme Aceh yang telah koyak.  [bersambung]
Keterangan:
1. Awak ateuh: sebutan untuk pengikut Hasan Tiro yang bergerilya di hutan-hutan Aceh.
2. “Saboh bansa hana tuha, sabé muda, bah that pih sidroë-droë angèëta djeuët keu tuha.” (satu bangsa tidak pernah tua, tapi selalu muda, meski satu persatu keturunannya jadi tua).
3. “Endatu geutanjoë njang ka maté ka ta gantoë lé geutanjoë; geutanjoë akan djigantoë lé aneuk-tjutjo njang akan lahé, meunankeuh trôk'an akhé dônja.” (Indatu kita yang sudah meninggal sudah kita gantikan. Kita nantinya akan digantikan oleh anak-cucu yang akan lahir, selalu begitu  hingga akhir zaman).
sember:
 http://www.jumpueng.blogspot.com
 http://www.aceh.info/

Senin, 27 Februari 2012

MeunaSAH-->ASNLF: PENJUALAN BENDERA ACEH MERDEKA

Precedence: bulk


PENJUALAN BENDERA ACEH MERDEKA

Date: Tue, 16 Nov 1999 23:37:08 EST
From: ASNLF@aol.com

Assalamualaikum wr. wb.

Kami, Biro Penerangan ASNLF di USA, telah menerima beberapa laporan berupa
email dan surat lainnya mengenai kegiatan penjualan bendera Acheh Merdeka
yang sedang berlangsung saat ini.

Untuk diketahui, bahwa penjualan bendera Acheh Merdeka tersebut harus
diselidiki dengan sebenar-benarnya. Sebab menurut yang kami ketahui, kegiatan
tersebut sangat memudharatkan masyarakat, apa lagi masyarakat kita yang
miskin, sehingga sangat tidak mampu mengeluarkan Rp. 25.000 hanya untuk
membeli bendera. Apa lagi kita bangsa Acheh akan menyambut bulan ramadhan
yang memerlukan biaya extra.

Yang kita takuti, penjualan bendera tersebut dilakukan oleh pihak-pihak
tertentu untuk memburuk-burukkan AGAM. Ini harus kita waspadai, ada
sesetengah orang ingin mengadu domba kita sesama bangsa Acheh.

Bendera Acheh Merdeka adalah bukan tempat mencari keuntungan. Bangsa Acheh
sekarang sudah menyimpan bendera Acheh Merdeka dalam hati masing-masing,
sudah menunjukkan sikap yang berani dan menunjukkan kekuatan rakyat dengan
berkumpul di depan Mesjid Baiturrahman di Kuta Radja (Banda Acheh) beberapa
minggu lalu. Ini bermakna bangsa Acheh sudah Merdeka.

Jika berkeinginan membeli bendera Acheh Merdeka, biarlah dengan harga yang
mampu diraih, bukan dengan pemaksaan. Apa lagi dengan penipuan.

Jika masih ada pihak-pihak lain yang ingin mencari keuntungan atas nama AGAM,
dengan cara apapun harus ditegah dengan cara apapun. Demi untuk kepentingan
kita bersama.

Salam Kemerdekaan,

Musanna Tengku Abdul Wahab
Ketua Biro Penerangan ASNLF di USA

-------------
SiaR WEBSITE: 
http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Komnas HAM Desak Pembebasan Ismuhadi Cs

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) akan mengupayakan pembebasan narapidana politik Aceh T Ismuhadi Jafar, Ibrahim Hasan, dan Ilyas bin Abdullah. Pihak Komnas HAM mendesak pemerintah dapat membebaskan ketiga tahanan politik Aceh yang saat ini masih menjalani hukuman seumur hidup di LP Cipinang Jakarta Timur.

“Pemerintah sudah memiliki dasar pijakan yang kuat untuk memutuskan hal ini, karena sebelumnya sudah ada surat permintaan pembebasan dari gubernur Aceh Irwandi Yusuf, DPRA, DPD, Komisi III DPR, dan lain-lain,” kata Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim. Menurutnya, Ismuhadi dkk. harus dibebaskan berdasarkan perspektif rekonsiliasi dan juga hukum.

Ifdhal menyampaikan hal itu dalam pertemuan dengan tim advokasi tapol/napol Aceh, serta istri dan anak Ismuhadi di Kantor Komnas HAM, di  ruang sidang Pleno Utama Komnas HAM, Jakarta, Senin (27/2). “Dalam waktu dekat kami akan mengupayakan kembali penuntasan kasus Ismuhadi dkk ini. Kami akan membicarakan masalah ini dengan Menteri Hukum dan HAM serta Menko Polhukam,” kata Ifdhal Kasim.

Ifdhal juga mempertanyakan, kenapa Ismuhadi tidak mendapat fasilitas remisi atau pengurangan hukuman, selama menjalani hukuman. “Rasanya tidak adil, kok yang kasus narkoba dapat fasilitas tersebut,” tambah Ifdhal.

Teuku Ismuhadi divonis bersalah dengan ganjaran hukuman penjara seumur hidup oleh putusan kasasi Mahkamah Agung karena keterlibatannya pada pemboman Bursa Efek Jakarta pada 2000. Selain Ismuhadi, masih ada dua rekannya sesama aktivis GAM di LP Cipinang, yakni Ibrahim Hasan, dan Irwan bin Ilyas.

Nama Ismuhadi dan dua tahanan lain sempat masuk daftar Amnesti Umum, yakni barisan nama yang diajukan oleh GAM yang sedang menjalani masa hukuman pemerintah RI, sebagai syarat ditekennya perjanjian Helsinki.

Namun pembebasan ketiganya ditolak, dengan alasan kejahatan mereka bukanlah jenis bentuk pidana biasa terkait makar Aceh, namun merupakan bentuk kasus terorisme.

“Yang jadi kendala kenapa pemerintah belum membebaskan mereka adalah pandangan (pelaku terorisme) itu,” kata Ifdhal Kasim.(fik)

Editor : bakri
 
http://aceh.tribunnews.com/

Irwandi Yusuf Jeguk Korban Banjir Tangse

Mantan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf bersama relawan Seuramoe Irwandi-Muhyan menjeguk serta menyerahkan sejumlah bantuan tanggap darurat pada korban banjir Tangse, Senin (27/2). Bantuan yang diserahkan berupa, beras, mie instan, minyak goreng, air mineral dan sayur-sayuran.
Iskandar Koordinator Relawan Regional 1 Seuramoe Irwandi-Muhyan menuturkan, Irwandi tiba di Tangse sekitar pukul 11 siang, langsung menjeguk dan berinteraksi dengan korban banjir di Blang Malo dan Krueng Suekuek.
“Rencananya Irwandi juga akan menjeguk korban banjir di titik-titik pengungsian lainnya, tapi harus menunggu air yang menggenangi jalan surut dulu,” kata Iskandar.
Menurutnya, sejak kemarin Seuramoe Irwandi-Muhyan telah mengirim bantuan sembako ke Tangse dengan menggunakan 3 unit truck colt. “Bantuan tersebut sebagian telah dibagikan pada pengungsi, malah untuk daerah yang belum bisa dilewati kendaraan kami pikul ke titik-titik pengungsi,” jelas Iskandar.
Seperti diketahui akibat hujan deras yang mengguyur Tangse Pidie, Sabtu (25/2) menyebabkan banjir bandang dikawasan tersebut. Belasan rumah hanyut dan rusak, beberapa titik jalan putus diterjang banjir. Akibatnya ratusan warga dari dua kemukiman di Tangse terpaksa harus mengungsi dan mendirikan tenda darurat.

http://irwandi.info

Jumat, 24 Februari 2012

Kenapa Hasan Tiro Berontak Oleh Dr. Phil. H. Munawar A. Djalil

UNTUK kedua kalinya “Wali Nanggroe” Tgk, Hasan Tiro kembali ke Aceh setelah oktober 2008 lalu. Kepulangannya kali ini sekedar bersilaturrahmi pasca MoU. Begitu pun menarik dikaji meskipun pertikaian antara GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dengan Pemerintah Republik Indonesia, sudah damai ditandai penandatangan Memorandum of Understanding pada tanggal 15 Agustus 2005 di Helsinki Finlandia.

Tentang motivasi penyebab pemberontakan yang digagas oleh Hasan Tiro tersebut, tentu masih layak diketahui umum. Dokumen tentang berkait dengan pemberontakan GAM sendiri masih sangat sedikit. Dan setelah saya analisis, dari beberapa dokumen, setidaknya ada tiga alasan yang melatari Hasan Tiro berontak. Sebelumnya saya urai secara singkat satu perkembangan amat penting dalam sejarah Aceh yang merupakan punca utama kesalahfahaman dalam menafsirkan sejarah Aceh, yaitu penandatanganan “Traktat London” antara Belanda dengan Inggris. Dalam perjanjian itu kedaulatan Inggris di Sumatera diserahkan kepada Belanda, dan sebaliknya Belanda menyerahkan tanah jajahannya di India dan Singapura kepada Inggris.

Bagaimanapun pada masa itu Belanda setuju mengakui Aceh sebagai sebuah negara merdeka. Pengakuan Belanda itu tidak diinginkan oleh Inggris. Maka pada tahun 1871 Inggris memberi restu kepada Belanda untuk mengadakan penjajahan terhadap Aceh. Hal itu menyebabkan Belanda mengumumkan perang terhadap Aceh pada 26 Maret 1873. (Lihat buku R.O. Winstedt ( 1935), A History of Malaya).

Perang antara Aceh dengan Belanda sebagai riwayat peperangan yang panjang dan menelan korban paling banyak. Pihak Belanda meminta bantuan tentera dari Amerika Serikat untuk menggempur Aceh, namun ketika pemerintah AS menolak karena menganggap Aceh adalah satu bangsa merdeka. Aceh sejak dulu telah ada hubungan baik dengan AS, baik bidang perdagangan maupun hubungan diplomatik. Sedangkan Turki telah mengirimkan bala tenteranya untuk membantu peperangan Aceh. Fakta sejarah ini menunjukkan bahwa Aceh adalah sebagai sebuah negara merdeka dan berdaulat.

Ada tiga alasan kenapa Tgk. Hasan Tiro berontak. Pertama, menurut Hasan Tiro ketika Hindia Belanda berubah menjadi Indonesia, Aceh tidak secara otomatis menjadi wilayah yang diserahkan Belanda kepada Republik Indonesia Serikat (RIS). RIS adalah negara-negara federasi yang dibentuk Gubernur Jenderal Hindia Belanda Hubertus. J. Van Mook yaitu wilayah-wilayah yang telah takluk kepada Pemerintah Belanda, dan wilayah Aceh ketika itu tidak bisa dikuasai Belanda. RIS terbentuk hasil kesepakatan tiga pihak dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag yaitu Republik Indonesia, Bijeekomst Voor Federaal Overleg (BFO) dan Belanda yang disaksikan oleh United Nations Commission For Indonesia (UNCI). Aceh tidak pernah disebut dalam Undang-Undang Dasar Negara RIS (Republik Indonesia Serikat) 14 Desember 1949. Dalam pasal 2 Undang-undang Dasar RIS tidak menyebutkan Aceh sebagai bagian dari RIS ataupun negara bagian Indonesia. Menurut pasal 65 UUD RIS, suatu wilayah dianggap sebagai bagian daripada suatu negara mesti ada kontrak antara keduanya.

Aceh tidak pernah ada kontrak yang sah dengan negara bagian Indonesia. Berbeda dengan Kesultanan Yogjakarta dan Paku Alam. Pecahan kerajaan Jawa Mataram itu, pada tanggal 19 Agustus 1945 yang mengadakan sidang Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang ketika itu bernama Yogjakarta Kooti Kokootai. Di situlah diputuskan bahwa wilayah Yokjakarta dan Paku Alam sebagai bagian daripada Negara Indonesia. Bagaimanapun pada 27 Desember 1949, pihak Belanda yang tidak pernah menaklukan Aceh telah menandatangani “satu perjanjian” yaitu memberi hak kepada Indonesia untuk menguasai Aceh dan wilayah-wilayah lain di luar pulau Jawa.

Menurut pemikiran politik Teungku Hasan Tiro, perjanjian antara Belanda dan Jawa inilah yang menjadi alat pemindahan kekuasaan Belanda kepada RIS, dan yang menjadi sumber kekuasaan RIS terhadap Aceh. Menurut hukum internasional pemindahan kekuasaan itu tidak sah karena Belanda sebagai penjajah tidak mempunyai apa-apa hak legal atas tanah-tanah yang dirampas, maka Indonesia pun tidak punya hak legal atas tanah Aceh. Karena Aceh secara sejarah tidak pernah menyerahkan kedaulatannya kepada Hindia Belanda sehingga Aceh sampai kini masih berdaulat.

Kedua, alasan yang didasarkan kepada konvensi PBB. Artikel 1, bagian 2 dan 55, Piagam Hak Bangsa-bangsa (Universal Declaration of The Rights of The People), pasal 5,6 dan 11, Piagam Hak-hak Asasi manusia, Piagam Hak Ekonomi, Kemasyarakatan dan Kebudayaan (International Covenant of Economic, Social and Cultural Rights), dan menurut Piagam Hak Umum dan Politik (International Covenant on Civil and Political Rights), disebutkan “semua bangsa di dunia mempunyai hak menentukan nasib diri sendiri dan hak kemerdekaan” Menurut Hasan Tiro pula, Aceh beradasarkan resolusi PBB No: 1514 - XV yang dihasilkan pada 14 Desember 1960 mengenai: “Declaration of the Granting of Independence to Colonial Countries and Peoples”.

Ada tiga perkara penting dalam resolusi itu; Kedaulatan atas tanah jajahan tidak berada ditangan penjajah, melainkan berada di tangan bangsa asli dari jajahannya. Kedaulatan suatu negara tidak dapat dipindah / diserahkan oleh penjajah kepada penjajah yang lain. Semua kekuasaan wajib dikembalikan oleh penjajah kepada bangsa asli dari tanah jajahannya. Negara Aceh yang didekralasi oleh Teungku Hasan Tiro pada 4 Desember 1976 adalah gagasannya sejak Januari 1965. Sejak itu beliau berpendapat bahwa negara Aceh adalah negara yang telah ada sejak dulu dengan keluasan wilayah yang sama, menjalankan dasar hukum yang sama, dengan sistem negara yang sama, yaitu Islam.

Itulah hakikat ideologi perjuangan GAM sejak digagas Hasan Tiro. Malah ketika dekade 50-an Hasan Tiro pernah menggegerkan Indonesia dengan satu ide dalam buku Demokrasi Untuk Indonesia, bahwa Pancasila sebagai asas negara Indonesia bukanlah falsafah, ia hanya sebagai lambang yang hidup dalam masyarakat Indonesia. Oleh karena itu ia berpendapat bahwa Islamlah yang dijadikan falsafah hidup dan ideologi negara karena ia hidup dan berakar dalam masyarakat Indonesia. Dengan mengakui Islam sebagai asas persatuan Indonesia, tidaklah berarti menafikan golongan rakyat Indonesia yang beragama non-muslim.

Idiologi Islam Hasan Tiro tersebut menjadi sisi penting di tengah mainstream penolakan asas Islam bagi mantan kombatan GAM yang mendeklarasikan partai politik lokal (Partai Aceh) beberapa waktu lalu sebagai transformasi perjuangan dari gerakan bersenjata ke perjuangan politik. Meski ada juga pihak yang tidak kaget atas sikap “anak buah” Hasan Tiro, karena dianggap pandangan politik Hasan Tiro itu adalah sikapnya pada masa awal pemberontakan guna mendapat dukungan tokoh-tokoh ulama, khususnya mantan pejuang DI/TII pimpinan Abu Beureu-eh.

Ketiga, alasan realitas sosial orang Aceh. Sejumlah pengamat mengatakan, pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di Aceh disebabkan oleh tidak adanya keadilan yang dirasakan oleh orang Aceh. Perkara inilah yang menjadi alasan utama Hasan Tiro untuk memerdekakan Aceh (berontak). Jadi bukan semata-mata aspek sejarah dan hukum. Bagi pihak yang kontra dengan Hasan Tiro menyebutkan bahwa keinginan Teungku Hasan Tiro untuk memproklamirkan kembali kemerdekaan Aceh sangat bersifat pribadi. Hasan Tiro disebut kecewa terhadap pemerintah Muzakir Walad (Gubernur Aceh) yang tidak memberikan kesempatan menjadi kontraktor pembangunan proyek tambang gas Arun kepadanya di Aceh pertengahan 1974 lalu. Tentu saja alasan ini dibantah oleh para petinggi GAM, dan menyebutnya sebagai propaganda pemerintah Indonesia untuk menjatuhkan reputasi Hasan Tiro dan GAM di mata rakyat Aceh dan masyarakat dunia.

Syahdan, pemberontakan GAM selama 30 tahun hakikatnya adalah manifestasi dari pemikiran Hasan Tiro. Bahwa perjuangan GAM untuk mewujudkan negara bersambung (successor state). Aceh sebagai satu Kerajaan yang pernah ada dalam catatan sejarah negara-negara di dunia. Namun apa nyana, lahirnya MoU Helsinki untuk damai di Aceh dan UUPA sebagai peraturan organik telah menguburkan semua doktrin sejarah dan hukum bahwa Aceh sebagai negara berdaulat. Sebab dalam alinia kedua mukaddimah MoU Helsinki, disebutkan bahwa Aceh adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dan masyarakat Aceh adalah Warga Negara Republik Indonesia. Hanya saja sebagai satu peristiwa sejarah dan politik, gagasan Hasan Tiro yang berwujud dalam sebuah Gerakan Aceh Merdeka patut terus didiskusikan. Allahu ‘Alam

* Penulis adalah penulis buku Hasan Tiro Berontak; Antara Alasan Historis, Yuridis dan Realitas Sosial

sember :
http://www.gsfaceh.com

Kamis, 23 Februari 2012

Hasan TiroThe Drama Of Acehnese History 1873-1878

The Drama Of Acehnese History 1873-1878, begitulah judul drama yang ditulis oleh Alm Hasan Tiro.

Naskan ini tersimpan di sebuah perpustakaan di eropa, lengkap dengan berbagai surat politik yang ada di dalamnya. saya sendiri lebih menikmati drama ini sebagai sebuah karya seni yang bermuatan, sejarah. walau belum seluruhnya saya baca, namun beberapa diantaranya cukup menarik.
Berikut merupakan bagian dari Act I
ACT I
Scene 1
Music: Johan Sebastian Bach, Brandenburg Concerto
At Kuta Radja, 1873. The Council of State in session. Prominent display of the flag of Acheh, large framed paintings of Iskandar Muda, Aly Mughayat Shah, Safiatuddin and other Achehnese historic figures. The wall map of Acheh covering Sumatra, the Malay Peninsula, V/est Borneo and Banten, West Java. Members are busy talking to each other – all wearing splendid Achehnese costume.
Guard :
“His Majesty Sultan Alaeddin Mahraud Shah I”
(All members stand up in a solemn ovation. Behind the King walk owe inspiring guards wearing colorful uniform and heavily armed. After his Majesty has been seated all members take their peats, and the
guards discreetly line themselves up along the walls of the hallways).
Prime Minister (Teuku Panglima Polem Radja Kuala):
” Your Majesty,the Council of State welcomes Your Majesty1R gracious presence among us today,
and …”
(interruption from a loud banging on the grand door:”Bang, bang, hang!” The door swung open, On the floor a messenger kneels with the sound of his breathing heard very loud, signifying that he had just been running very fast to bring his message.) ‘
Messenger:
“Your most gracious Majesty, Your Imperial Majesty, my Great Lord »>
(He keeps repeating these incoherently without being able to say his message,)
Prime Minister:
“Calm down, my boy. Take a rest….Now, tell us What you have to say?”
Messenger:
“Your Excellency, the Dutch Armada has entered our port! Their sails have blackened the sea. Twenty big warships in all with their big cannons all aimed at our fair city!”
(Before the boy has withdrawn, another “bang” is heard on the grand door. The door is being re-opened.A tall impressive Achehnese guard walk in ushering a small, short, skinny and awkward-looking old
creature in Javanese costume, carrying an envelope in his hand, standing there embarrassingly.)
Guard :
“Your Excellency, this is the Dutch messenger who had just been landed from the Dutch Armada bringing a message to OUT Government, He said his name was Mas Sumo. He is of Javanese race, and a servant of the Dutchmen. ••
Prime Minister (to Sumo):
“Sumo, why are you here?”
Mae Sumo :
“Your Excellemcy, 1 am a servant of the Dutch East Indian Govvernment. I am ordered by mine Master to deliwer this letter to Your Excellemcy.”
(He speaks in broken Malay with ridiculous accent-Javanese style . A page comes by to take the letter, puts it in a silver tray, and brings it to the Prime Minister.)
*********

Salah satu yang kusukai adalah act V, ketika saat itu Teuku umar masih berpura2 berkawan dengan belanda, Cut nyak dhien protes; bahkan mengancam cerai Tgk Umar!

Tjut Njak Dien:
(while knitting, to her husband, Teuku Umar)
:”Now, it has been three years since you took the Dutch side. You started with the idea of exploiting them. Now, you ended up with the fact of their exploiting you! They have made you conquered for them the IV Districts and the XXV Districts without any lost of Dutch lives and with very little expenses for them: very cheap indeed but with a lot of Achehnese lives lost! The Dutch have built 11 new Forts over the territories you had conquered for them from our own people.
“Our people no longer trust us and begin to look at us as a traitorous couple. The Dutch had given you a grand title. But I am an Achehnese woman! I do not feel proud to be the wife of a ‘Grand Marshall of the Dutch East Indies Army’.”
(She stands up, vehemently tosses all her knitting materials to the air, approaches her husband, and loudly shouts):
“If you do not want to rejoin our people, I beg you to divorce me, now! I must clear my family name. I do not want to die as a traitor to our country. I was not born to dishonor my family before God and men!”
Dan ketika mereka merencanakan apa yg harus dilakukan…Teuku Umar saja mengakui kalau Cut nyak dhien lebih cerdas darinya…D
Teuku Umar :
“Now, then, Tjut Njak Dien, how do we proceed? You are the Boss! Henceforth I will follow your policy. You are right all along. I must admit: women are smarter than men.”
Tjut Njak Dien:
“First, we should arrange the marriage of our daughter. Tjut Gambang, with Tengku Mahyeddin di Tiro, the younger brother of Tengku Muhammad Amin di Tiro, and his most likely successor. Our son, Teuku Geudong, should, be sent to Tiro to accompany his sister, and to stay there with the di Tiro Family.
“Second, you should try to recover the Fort Kuta Aneuk Galong from the Dutch. You should now assume command to oust the Dutch and their Javanese mercenaries from Great Acheh. especially from the XXV Districts and the IV Districts which you had conquered. . for them. You must repent,
“Third, if we had to retreat, then you can retreat to Pidie and join forces with the Family of the Tengku di Tiro with whom now we form an eternal alliance.”


http://moersalins.wordpress.com/

Bapak Irwandi Yusuf Konsolidasi dengan Eks Pejuang GAM di Pidie

Calon Gubernur Aceh Irwandi Yusuf melakukan konsolidasi dan silaturrahmi dengan Bekas Tentara Negara Aceh (TNA) dan pejuang GAM angkatan 76 serta keluarga Almarhum Teungku Hasan Muhammad di Tiro di Kabupaten Pidie, Rabu (22/2).

Selain Irwandi, hadir juga Muhyan Yunan (pasangan cawagub Irwandi) dan sejumlah mantan panglima wilayah GAM pada acara yang dipusatkan di Gedung Olah Raga, Alun-Alun kota Sigli tersebut dihadiri sekitar 708 orang.

Pada acara tersebut perwakilan ulama, GAM angkatan 76, dan keluarga almarhum Wali Nagroe Teungku Hasan Tiro masing-masing turut memberikan sambutannya.

Mantan GAM angkatan 76, Teungku Hanafiah Pasi Lhok mengingatkan apabila terpilih nantinya, Irwandi haruslah meneruskan program yang berpihak kepada rakyat.

Menurut Hanafiah, pendidikan rakyat harus mendapat perhatian khusus untuk ditingkatkan. "Kami juga berharap Irwandi dapat meneruskan perjuangan, untuk rakyat Aceh."

Dalam sambutannya Irwandi mengajak mantan kombatan untuk terus bersatu dan tidak mau dipecah belah oleh alasan politik.

"Politik ini hanya sesaat, jangan gara-gara politik kesatuan dan kekompakan  kita pecah, apapun pilihan politik yang terpenting mantan kombatan tetap bersatu, kita tetap bersaudara," ajak Irwandi yang disambut tepuk tangan hadirin.

Dia juga  meminta para mantan kombatan untuk melawan semua intimidasi dan teror yang dilakukan orang-orang yang hendak memecah-belah kekompakan.

Mantan kombatan juga harus menjadi pemberi rasa aman dan nyaman bagi masyarakat Aceh dalam pilihan politiknya.

Irwandi menegaskan,dirinya naik kembali sebagai calon pemimpin Aceh bukan karena keinginannya, tapi karena keadaan dan atas dukungan rakyat serta mantan panglima wilayah dan mantan kombatan GAM.

"Dari tahun 2006 saya juga tidak berambisi jadi Gubernur, namun karena izin Allah dan keadaan yang mengatarkan saya jadi pemimpin di Aceh," sebut Irwandi yang mantan representatif senior GAM di Aceh Monitoring Mission (AMM).

Menurut Irwandi, kalau kedepan terpilih lagi, maka akan melanjutkan program-program yang sudah berjalan seperti pengobatan gratis Jaminan Kesehatan Aceh (JKA), beasiswa untuk anak yatim, beasiswa pendidikan bagi putra/putri terbaik Aceh, pemberian dana pembangunan Gampong, pembangunan infrastruktur penunjang ekonomi, pembangunan rumah bagi kaum duafa dan lainnya.

selain itu ia bertekad memberlakukan pendidikan gratis sampai tingkat SMA (Selama ini baru sampai SMP-red), dan juga mewujudkan program stimulus perbaikan ekonomi bagi masyarakat malalui program gratis abonemen listrik 2 amper bagi masyarakat miskin.

"Program itu adalah bagian dari amanah wali negara Teungku Hasan Tiro," kata Irwandi.

Menurutnya ada tiga hal yang diamanahkan Hasan Tiro sebagai hak rakyat Aceh. Ketiga hal tersebut adalah hak atas pendidikan, kesehatan, dan rumah.

Lima tahun memimpin Aceh, tercatat Irwandi sudah memberikan fasilitas pengobatan gratis kepada seluruh rakyat Aceh, membangun lebih 13 ribu unit rumah untuk kaum duafa atau kurang mampu serta mengratiskan biaya sekolah dari SD hingga SMP.

Disamping itu, ribuan putra-putri terbaik Aceh ikut diberi beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi di dalam maupun luar negeri.


http://irwandi.info

Rabu, 22 Februari 2012

Hasan Tiro dan Pemikirannya

Hasan Tiro Baru beberapa tahun kemerdekaan diproklamasikan, perang saudara melanda Indonesia. Pemimpin tertinggi Darul Islam/Tentara Islam Indonesia, SM Kartosoewirjo, menolak mengakui keberadaan RI. Sementara Soekarno menuding Kartosoewirjo membentuk negara dalam negara.

Atas perintah PM Ali Sastroamidjojo yang nasionalis sekuler, tahun 1954 angkatan udara mulai melancarkan pengeboman secara membabi buta atas desa-desa yang dikuasai Tentara Islam Indonesia (TII). Pasukan dari Pulau Jawa kemudian diterjunkan dari udara dan membakari rumah-rumah penduduk.

Ribuan penduduk tewas dan ribuan lainnya cedera. Isak tangis terdengar di sana-sini. Pada saat itulah seorang mahasiswa Indonesia asal Aceh yang belajar ilmu hukum internasional di University of Colombia (AS) dan bekerja sebagai staf perwakilan Indonesia di PBB, New York, mengirim surat kepada PM Ali Sastroamidjojo.

New York, 1 September 1954 Kepada Tuan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo Jakarta Dengan hormat,

Sampai hari ini sudah lebih setahun lamanya Tuan memegang kendali pemerintahan atas tanah air dan bangsa kita. … Tuan tidak mempergunakan kekuasaan yang telah diletakkan di tangan Tuan itu untuk membawa kemakmuran, ketertiban, keamanan, keadilan dan persatuan di kalangan bangsa Indonesia. Sebaliknya Tuan telah dan sedang terus menyeret bangsa Indonesia ke lembah keruntuhan ekonomi dan politik, kemelaratan, perpecahan, dan perang saudara.

Belum pernah selama dunia berkembang, tidak walaupun di masa penjajahan, rakyat Indonesia dipaksa bunuh membunuh antara sesama saudaranya secara yang begitu meluas sekali sebagaimana sekarang sedang Tuan paksakan di Aceh, di Jawa Barat, di Jawa Tengah, di Sulawesi Selatan, di Sulawesi Tengah dan Kalimantan.

...........................

Dan Tuan mengatakan bahwa Tuan telah memperbuat semua ini atas nama persatuan nasional dan patriotisme. Rasanya tidak ada suatu contoh yang lebih tepat dari pepatah yang mengatakan bahwa patriotisme itu adalah tempat perlindungan yang terakhir bagi seorang penjahat.

Sampai hari ini sembilan tahun sesudah tercapainya kemerdekaan bangsa, sebagian besar bumi Indonesia masih terus digenangi darah dan air mata… yang kesemuanya terjadi karena Tuan ingin melakukan pembunuhan terhadap lawan-lawan politik Tuan. Seluruh rakyat Indonesia menghendaki penghentian pertumpahan darah yang maha kejam ini....

Persoalan yang dihadapi Indonesia bukan tidak bisa dipecahkan, tetapi Tuanlah yang mencoba membuatnya menjadi sukar. Sebenarnya jika Tuan mengambil keputusan buat menyelesaikan pertikaian politik ini dengan jalan semestinya, yakni perundingan, maka besok hari juga keamanan dan ketenteraman akan meliputi seluruh tanah air kita.

Oleh karena itu, demi kepentingan rakyat Indonesia, saya menganjurkan Tuan mengambil tindakan berikut:

1. Hentikan agresi terhadap rakyat Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Kalimantan.

2. Lepaskan semua tawanan-tawanan politik dari Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Kalimantan.

3. Berunding dengan Teungku Muhammad Daud Beureuh, SM Kartosoewirjo, Abdul Kahar Muzakar, dan Ibnu Hajar.

Jika sampai tanggal 20 September 1954, anjuran-anjuran ke arah penghentian pertumpahan darah ini tidak mendapat perhatian Tuan, …. saya dan putra-putri Indonesia yang setia, akan mengambil tindakan-tindakan.....

Saya

Hasan Muhammad di Tiro

Saat itu Hasan di Tiro bukanlah sosok yang dikenal di kalangan pemimpin Indonesia. Tadinya ia hanyalah seorang mahasiswa hukum di Universitas Islam Yogyakarta, yang memperoleh beasiswa melanjutkan pendidikan di AS, tahun 1950.

Pada bagian akhir suratnya, pemuda Hasan yang lahir tahun 1925 di Desa Tanjong Bungong, Kecamatan Kuta Bakti, Kabupaten Pidie (NAD), mengancam akan mengobarkan kampanye internasional untuk membeberkan kebrutalan tersebut, dan ”kami akan mengusahakan bantuan moral dan materiel bagi Republik Islam Indonesia dalam perjuangannya menghapus rezim teroris Indonesia.”

Bangsa yang semu

Hasan Tiro memberi batas waktu bagi PM Ali untuk menghentikan agresi militernya selambat-lambatnya 20 September 1954. Pemerintah Indonesia menjawab dengan mengultimatum Hasan Tiro kembali ke Indonesia selambat-lambatnya tanggal yang sama.

Keduanya ternyata tidak memenuhi batas waktu yang ditetapkan. Hasan Tiro segera menyatakan dirinya sebagai duta keliling dan wakil tetap NII di AS serta PBB. Sementara Pemerintah RI mengambil tindakan dengan membatalkan paspor Hasan Tiro dan meminta AS mengusirnya.

Pihak Imigrasi AS di New York sempat menahan Hasan Tiro. Ia dibebaskan dengan uang jaminan 500 dolar AS. Belakangan, Pemerintah AS memberinya izin tinggal dan kewarganegaraan.

Sejak itu Hasan Tiro aktif berkampanye di forum-forum internasional. Mendesak negara-negara Islam agar memboikot Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung. Alasannya, Pemerintah RI telah membunuh para ulama di Aceh, Jabar, Jateng, Sulsel, Sulteng, dan Kalsel. Hasan Tiro juga membuat laporan ke PBB.

Perwakilan Indonesia di PBB membantahnya dan menyebut Republik Islam Indonesia yang diwakili Hasan Tiro hanya sebuah imajinasi. Republik tersebut belum pernah ada, kecuali gerombolan bersenjata yang menimbulkan gangguan keamanan.

Tahun 1957, Hasan Tiro menulis buku, Demokrasi untuk Indonesia, dalam bahasa Melayu dan Inggris. Buku tersebut mengupas konsep kebangsaan dan mengkritik pemahaman Bung Karno mengenai bangsa, demokrasi, dan Pancasila.

Menurut Hasan Tiro, Indonesia adalah nama yang muncul pada abad XIX. Jauh sebelumnya di Nusantara sudah lahir kerajaan-kerajaan berdaulat. Tetapi, Soekarno menganggap apa yang ada dalam angan-angannya mengenai suatu bangsa bernama Indonesia adalah kenyataan.

Maka bukan hal mengejutkan jika Pemerintah RI begitu gampangnya melakukan bumi hangus. Bahkan tidak ada orang yang peduli. Padahal jika bangsa Indonesia merupakan sesuatu yang nyata, peristiwa ini akan membangkitkan solidaritas. Lagi pula tidak ada pemerintah di dunia ini yang tega membantai bangsanya sendiri, kecuali terhadap bangsa lain.

Ironisnya, Soekarno mengira penderitaan yang sama di bawah penjajahan kolonial dapat mengikat berbagai suku bangsa menjadi suatu bangsa yang bersatu. Ia lupa bahwa kolonial Belanda menguasai luar Jawa baru pada abad XIX. Sementara Jawa dijajah belanda pada abad XVII. Dengan sendirinya, derajat penderitaannya juga berbeda.

Menurut Hasan Tiro, pemikiran Soekarno mewakili apa yang disebut sinkretisme Jawa. Salah satu produknya adalah Pancasila, yang diklaim Soekarno digali dari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.

Hasan Tiro berkesimpulan, satu-satunya yang bisa mengikat penduduk Nusantara dan melahirkan rasa kebersamaan sebagai suatu bangsa adalah agama Islam. Agama yang dianut mayoritas penduduk sejak ratusan tahun silam.

Membangun basis gerilya

Dalam perjalanan waktu, pemikiran Hasan Tiro ikut mengalami perubahan. Ia kecewa setelah berakhirnya perlawanan DI/TII. Para pemimpin DI/TII lebih banyak memilih menyerah ketimbang memperjuangkan cita-citanya sampai titik darah terakhir.

Ia kemudian membandingkan perjuangan bersenjata di berbagai negara dan menyimpulkan, stamina separatisme ternyata jauh lebih kuat ketimbang sekadar mengganti ideologi negara. Secara historis dan kultural hal ini terbukti dalam perlawanan rakyat Aceh terhadap kekuasaan kolonial Belanda.

Sosok Hasan Tiro sendiri tahun 1970-an berubah menjadi pengusaha sukses di New York, AS. Hubungannya yang dekat dengan pemimpin Timur Tengah ikut memperlancar bisnisnya. Ia pernah menjadi penasihat Raja Faisal dari Arab Saudi dalam konferensi Islam internasional, tahun 1974. Berkat hubungannya dengan Khadafy, pemimpin Libya, ia dapat mendatangkan pemuda Aceh mengikuti latihan militer di negara tersebut.

Pada usia 51 tahun, Hasan Tiro akhirnya memutuskan kembali ke Aceh untuk mengawali suatu bentuk perjuangan baru, yakni Aceh merdeka. Dalam bukunya Price of Freedom: Unfinished Diary of Hasan Di Tiro (1984), ia menulis, dalam usia seperti ini sungguh tidak mudah meninggalkan bisnis yang sukses, kemewahan New York, serta anak dan istri yang cantik. Apalagi harus bergerilya di hutan belantara.

Hasan Tiro akhirnya berangkat ke Malaysia dan menyeberang Selat Malaka dengan menumpang perahu nelayan. Dengan berbekal tiga pistol dan dua senjata berburu, doublelope, Hasan Tiro bersama belasan orang membangun basis gerilya di kawasan hutan gunung Halimun.

Tokoh masyarakat dan ulama datang silih berganti dan menanyakan, mana senjatanya? Hasan Tiro menjawab, senjata bukan hal segalanya. Pada masa lalu banyak senjata peninggalan Jepang, tetapi tidak membawa hasil apa-apa. Hal yang lebih penting dari senjata adalah membangkitkan kesadaran melalui pendidikan dan propaganda.

Hasan Tiro mendeklarasikan kembali kemerdekaan Aceh, 4 Desember 1976, serta mendirikan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sebagai bentuk pemerintahan darurat. Deklarasi ini disebarluaskan ke berbagai media internasional.

Akibatnya, rezim Soeharto murka dan mengirim ribuan algojo ke Aceh. Banjir darah kembali terjadi. Tetapi kali ini bersinergi dengan cita-cita perjuangan Aceh merdeka. Dengan kata lain, kebiadaban tersebut membuktikan bahwa mereka ditindas oleh kolonial Indonesia-Jawa. Maka perlawanan justru makin marak dari tahun ke tahun.

Hasan Tiro sendiri akhirnya tertembak dalam suatu pernyergapan TNI, tahun 1979. Pada tahun itu juga ia meninggalkan Aceh melalui jalur laut. Menurut Zakaria Saman, saat itu kaki Hasan Tiro keserempet peluru. Tetapi TNI mengumumkan ia tewas tertembak dan pengikutnya sempat melarikan mayatnya. Rezim Orde Baru beberapa kali mengumumkan Hasan Tiro meninggal.
kutipan dari Guahira Community

Selasa, 21 Februari 2012

Partai Lokal Baru Lawan PA?

Senin, 20 Februari 2012 13:38 WIB
SYARDANI M. SYARIF 
Jika pembentukan Partai Lokal Baru bukan sekedar "peusak hop" dan gertak politik untuk keperluan merawat konstituen di ajang Pilkada 2012 agar tidak berlarian ke kubu lain, akankah sanggup melawan Partai Aceh (PA)?

Dari berita berbagai media, terkabarkan bahwa pada Kamis, 16 Februari 2012, Irwandi Yusuf dan Sofyan Dawod bersama sejumlah mantan panglima GAM mengadakan pertemuan di hotel Hermes Palace Banda Aceh dan telah memutuskan untuk membentuk partai lokal baru di Aceh.
Masih menurut media, disebutkan ada 12 nama mantan panglima GAM yang mendukung Irwandi-Muhyan sebagai calon Gubernur/Wakil Gubernur Aceh ke depan juga ikut mendukung ide pembentukan Partai Lokal Baru. 
Meski tidak ada yang luar biasa dari barisan pendukung yang ada namun ada dua hal yang menarik perhatian, yaitu; munculnya nama  Saiful Cagee dan Abu Sanusi. Cagee kita ketahui bersama telah almarhum, sedangkan Abu Sanusi telah membantahnya.  Lewat  Syahrul, Ketua PA Aceh Timur, Abu Sanusi bilang, "saya tak pernah dihubungi. Itu politik. Saya tak tahu menahu hal tersebut.” Apakah ini disengaja atau sebuah keteledoran karena gabuek dan tidak teliti? Wallahualam.
Kembali ke ide pembentukan partai lokal baru. Menarik untuk mengulas beberapa hal, yakni semangat pembentukan partai untuk melawan atau bersaing dengan PA, klaim awal bahwa partai lokal baru lebih baik dari partai nasional, hasrat untuk menyelamatkan MoU Helsinki karena PA ibarat perahu bocor, dan partai lokal baru yang tidak akan menerima orang-orang PA. Sebuah pernyataan yang kelihatan bagus untuk ilustrasi namun akan segera terkesan dangkal dari sisi logika politik.
Betapa tidak, secara logika, pernyataan yang disampaikan Sofyan Dawod itu, sebagaimana bisa dibaca di media, secara langsung berpotensi menciptakan rasa permusuhan dengan PA dan juga dengan semua partai nasional. Ketika telah bermusuhan dengan partai, artinya telah bermusuhan dengan pendukungnya dan juga telah menciptakan musuh masa depan bagi mereka sendiri.
Jika niatnya ingin melawan PA, Sofyan Dawod seharusnya mengajak dan merangkul semua partai lain selain PA, baik partai lokal maupun partai nasional untuk bergabung dan bermitra dengan partainya yang akan dibentuk. Semakin banyak partai yang menjadi mitra, maka akan semakin kuat posisi partainya untuk melawan PA, bukan malah mencari permusuhan dengan partai lainnya. Dalam langkah politik, bukankah kita memerlukan banyak mitra untuk memperebutkan hati konstituen.
Langkah yang dilakukan oleh Sofyan Dawod dan Irwandi Yusuf itu tentu sangat berbeda dengan langkah politik yang ditempuh oleh PA.  PA walaupun telah terbukti sebagai partai lokal terkuat di Aceh, namun masih tetap berusaha mencari dan bermitra dengan partai lokal lainnya dan juga partai nasional.
Hal itu terlihat pada saat Deklarasi Kandidat Gubernur/Wakil Gubernur bersama 15 pasangan calon Bupati/Wakil Bupati dan calon Walikota/Wakil Walikota di Banda Aceh. Partai Amanat Nasional (PAN) dan Forum Lintas Partai Politik Aceh (FLP2A) menyatakan dukungannya terhadap pasangan Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf sebagai calon gubernur dan wakil gubernur yang diusung Partai Aceh.
Langkah itu, tentu akan memperkuat dukungan untuk PA dan juga mengecilkan perlawanan terhadap PA. Mestinya, penggagas partai lokal baru mau belajar dari PA jika memang berhasrat menjadi yang terbaik. Tak ada salah untuk belajar meski dari pihak yang kini kita benci.
Kendala Partai Lokal Baru
Sebagai pembelajaran saja, membentuk partai lokal baru akan memerlukan energi dan finansial yang sangat besar, juga akan menghadapi banyak kendala. Pertama, harus menyediakan kantor perwakilan, kelengkapan serta pengurus di setiap Kabupaten/Kota hingga kecamatan di seluruh Aceh.
Kedua, jika hasrat membentuk “partai lokal baru” untuk melawan PA, maka akan ada penentangan dari pendukung PA di lapangan, baik pada saat pembentukan kantor, kepengurusan, perekrutan kader dan sosialisasi. Hal ini tentu akan menghabiskan energi yang banyak.
Ketiga, KPA di lapangan dan masyarakat telah mengetahui bahwa kader  “partai lokal baru” tersebut adalah mereka yang telah “dipecat” dari organisasi KPA/PA, dan mungkin di lapangan ada yang mengambil sikap berlawanan dengan mereka. Ini akan menjadi isu yang sangat sensitif dan image negatif bagi mereka. Akibatnya, akan menguras banyak energi untuk menjelaskannya di lapangan.
Kendala besar lainnya untuk diingatkan pada penggagas partai baru ini adalah mereka belum teruji kekuatannya dalam pemilihan baik legislatif maupun eksekutif. Ini seperti membentuk sebuah club bola baru yang belum pernah melakukan pertandingan, bahkan latihan sajapun belum pernah dilakukan, lalu bagaimana kita bisa mengukur ataupun berani mengklaim bahwa club tersebut akan lebih tangguh dari club yang sudah ada?
Sebagai orang yang pernah bersama dan sangat dekat dengan Sofyan Dawod dan Irwandi Yusuf, dengan menganalisa beberapa pernyataan mereka di sejumlah media, Saya berpendapat bahwa pembentukan “partai lokal baru” ini lebih terlihat sebagai wadah “peusak ‘hop” melawan pemimpin dan hanya akan menciptakan permusuhan antar anggota KPA dan juga sesama rakyat Aceh, apalagi Sofyan Dawod telah menyatakan bahwa Partai baru ini tidak akan menerima orang-orang PA. Ini jelas telah menebarkan kebencian dan menciptakan permusuhan.
Sebaiknya seorang petinggi seperti Sofyan Dawod dan Irwandi Yusuf, walau bagaimanapun juga mereka telah berjasa dalam perjuangan GAM dapat berpikir dengan bijak, tidak mengeluarkan pernyataan yang dapat menciptakan instabilitas politik dan keamanan di Aceh.
Seharusnya pembentukan “partai lokal baru” sebagai wadah mempersatukan rakyat Aceh, bukan malah menebarkan kebencian dan menciptakan permusuhan sesama rakyat Aceh, sehingga akan dapat mencerai-beraikan rakyat Aceh.
Kita boleh berbeda misi tetapi visi semua harus sama yaitu untuk membangun Aceh yang lebih baik, memakmurkan, mensejahterakan dan meningkatkan harga diri serta martabat seluruh rakyat Aceh di muka bumi ini.
Seharusnya jika Sofyan Dawod dan Irwandi Yusuf "gentlement" dapat kembali dengan PA. Bukankah lebih mudah memperbaiki perahu yang bocor daripada membuat perahu baru? Karena perahu itu telah pernah berlayar sekali dan sukses mengarungi ombak besar di lautan dan juga telah teruji kekuatannya serta tercatat dalam sejarah Aceh menjadi perahu yang terkuat diantara perahu-perahu lainnya. Jangan mudah dikendalikan oleh mereka yang hanya meminjam sekaligus mencoba mengecilkan politik PA.
Untuk diingatkan kembali, bahwa Pemilu legislatif 2009 PA berhasil memperoleh sebanyak 1,007,173 suara atau 46,91 persen dari total 2.266.713 orang Aceh yang menggunakan hak pilihnya. Dari 69 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), sebanyak 33 kursi dikuasai oleh PA dan 36 kursi terdistrubusi ke 11 partai lainnya. Ini merupakan bukti nyata bahwa PA merupakan partai lokal yang terkuat di Aceh.
Dalam Pilkada 2012 ini PA secara resmi mengusung kadernya sebagai calon Gubernur/Wakil Gubernur bersama 15 pasangan calon Bupati/Wakil Bupati dan calon Walikota/Wakil Walikota di seluruh Aceh.
Sudah cukup Aceh terlibat konflik selama 30 tahun, biarkan rakyat Aceh saat ini menghirup udara segar dalam perdamaian yang telah dicapai dengan sangat mahal ini, tanpa ada rasa permusuhan, tanpa ada rasa ketakutan, tanpa merasa dicurigai dan juga tanpa merasa dimusuhi.
Sungguh, membangun Aceh tidak mesti melalui partai, semua orang Aceh mempunyai kelebihan dan juga kekurangannya masing-masing. Mari kita satukan kelebihan kita untuk membangun Aceh ini yang lebih baik dan kekurangannya mari sama-sama kita perbaiki.
Syardani M.Syarief (Teungku Jamaica) adalah mantan jurubicara militer GAM Wilayah Samudra Pase/mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala.

 http://www.atjehpost.com/

Senin, 20 Februari 2012

Muksalmina : Mantan Juru Bicara Komando Pusat,Siapa Sebenarnya Yang Berkhianat ?

Pemecatan yang dilakukan terhadap beberapa Ketua KPA wilayah oleh pimpinan KPA adalah imbas daripada penolakan KPA Wilayah terhadap pencalonan pimpinan GAM sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur dalam pilkada Aceh 2012.
Dalam rapat khusus pimpinan KPA bersama pimpinan GAM dengan agenda pembahasan cagub yang akan diusung oleh PA di Mess Mentroe pada bulan februari 2011, dimana pimpinan GAM Malik Mahmud langsung menunjuk calon gubernur dan wakil gubernur yaitu dr. Zaini dan Muzakkir Manaf tanpa memberi ruang kepada KPA wilayah untuk berdiskusi terhadap agenda yang akan dibahas.
Saat itu, KPA wilayah bersikeras memberi masukan dan mempertanyakan kenapa kedua pimpinan GAM diputuskan untuk menjadi calon gubernur yang merupakan  wakil pemerintah Republik Indonesia di Aceh. Diantara wilayah tersebut adalah, Batee iliek yang dipimpin oleh Alm. Saiful alias Cagee. Saiful kemudian ditembak dalam masa pembelajaran demokrasi di Aceh. Pengorbanan beliau akan menjadi ukiran sejarah demokrasi di Aceh. Semoga pengorbanan tersebut juga dikenang oleh para pelaku yang tidak menginginkan demokrasi di Aceh terwujud. Selain itu juga wilayah Aceh Reyeuk yang dihadiri Muharram, Sabang Izil Azhar, Aceh Jaya Syarbaini dan Tapak Tuan yang diwakili oleh Kartiwi Dawood.
Tujuan daripada mantan pimpinan KPA Wilayah tersebut untuk mengingatkan pimpinan GAM Malik Mahmud terhadap keputusan itu, karena kedua pimpinan yang dicalonkan yaitu Dr. Zaini Abdullah yang bertugas sebagai menteri luar negeri GAM dan Muzakkir Manaf sebagai ketua KPA pusat, yang mana mereka berdua sebagai simbolnya perjuangan GAM dan pimpinan tertinggi dari GAM yang sangat tidak layak dicalonkan sebagai gubernur dan wakil gubernur.
Dalam pandangan ketua KPA dan GAM di wilayah, yang dimaksud dengan citra perjuangan  yaitu menyelamatkan pimpinan dan misi perjuangan yang belum selesai, bukan pimpinan menjadi calon gub dan wagub. Sebagai bukti, butir-butir MoU Helsinki masih banyak yang belum terakomodir dalam UUPA. Pimpinan GAM seharusnya tetap berada dalam posisi setara dengan pemerintah indonesia, bukan malah menjadi wakil dari pemerintah indonesia di Aceh. Hal ini penting agar para pihak tetap dapat berunding untuk memperbaiki implementasi MoU Helsinki yang termasuk dalam kategori dispute (yang belum diamandemen/revisi oleh pemerintah RI kedalam UUPA).
Nah, ketika masukan daripada wilayah tidak diakomodir oleh pimpinan, kami merasa sangat kecewa, karena disaat perang kami selalu berprinsip, suksesnya diplomasi politik pimpinan GAM di swedia adalah karena adanya GAM dan TNA di hutan. Bertahannya TNA dan GAM di hutan, karena adanya bantuan dari masyarakat. Jika ketiga sistem itu tidak berjalan, mungkin perdamaian tidak akan lahir seperti yang kita rasakan saat ini.
Kami yang bergerilya di hutan sudah terbukti sanggup mempertahankan perjuangan.  Milad yang sudah dilakukan sampai seterusnya merupakan bukti bahwa GAM dan TNA tidak kalah dalam berperang. Kalau kalah dalam berperang, sudah pasti GAM dan TNA tidak dapat melaksanakan milad tersebut.
Disaat perang, segala kebutuhan logistik seperti tidak adanya senjata, kami membeli sendiri, tidak adanya peluru kami membeli sendiri, tidak adanya beras kami membeli sendiri. Syahidnya militer TNA dan sipil GAM, kami pun menguburkannya sendiri. Segalanya menjadi tanggungan kami sendiri tanpa bantuan dari pimpinan GAM. Yang kami kecewakan, kenapa tidak sedikitpun sikap murah hatinya dari pimpinan GAM untuk menghargai segala yang telah kami lakukan. Maksud daripada keinginan kami untuk dihargai adalah mengapa tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan politik praktis yaitu untuk mencalonkan gub dan wagub. Keputusan itu diambil tanpa musawarah.
Yang kami tau, dalam sumpah (bai’at), tidak pernah tersebut GAM akan membuat partai, mencalonkan diri untuk menjadi anggota legislatif dan eksekutif baik di provinsi maupun kab/kota. Karena tidak ada dalam bai’at tersebutlah kami merasa hal itu harus diputuskan dalam musyawarah bersama yang melibatkan semua wilayah.
Semua pihak GAM dan TNA tau jelas ketika mereka dituntut untuk perduli terhadap penderitaan rakyat saat itu, hingga mereka menjadi gerilyawan, tidak ada satupun tempat pendaftaran diterimanya GAM dan TNA. Sangatlah Aneh ketika perdamaian, lahir kategori pemecatan. Tapi kami tidak merisaukan terhadap bahasa pemecatan atau pengkhianat, karena yang kami lakukan saat perang bukanlah untuk pimpinan tetapi untuk rakyat Aceh.
Kami tetap berkeyakinan masyarakat membantu kami saat perang karena kami memperjuangkan aspirasi rakyat. Sejauh kami masih memikirkan aspirasi rakyat, kami akan dihargai oleh rakyat. Ketika kami tidak lagi memikirkan rakyat, dengan sendirinya rakyat akan melupakan kami. Dalam artian yang kami takutkan adalah ketika kami dipecat oleh rakyat.
Kami yang dipecat selalu ingat amanat Yang Mulia Wali Negara Tgk. Sjiek Di Tiro Hasan bin Muhammad, Hana peunawa bak musoh.

Wassalam, 
Muksalmina
Mantan Juru Bicara Komando Pusat

sember :
http://irwandi.info
 

Kamis, 16 Februari 2012

Muharram Bekas Kombatan Aceh Rayeuk Konsolidasi Untuk Memenangkan Irwandi-Muhyan

Sedikitnya 130 bekas kombatan Tentara Neugara Aceh, sayap militer Gerakan Aceh Merdeka), wilayah Aceh Rayeuk berkumpul di Asrama Haji Banda Aceh, Senin (13/2). Mereka berkonsolidasi untuk memenanangkan pasangan Irwandi Yusuf dan Muhyan Yunan sebagai kepala pemerintahan Aceh periode 2012-2017.
Konsolidasi itu dipimpin oleh bekas Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Aceh Rayeuk Muharram. Hadir juga Abu Badawi (bekas kepala polisi GAM), Darmuda (anggota DPRA), dan juga Irwandi Yusuf.
Selain menyatakan kesiapan untuk memenangkan kubu Irwandi, bekas kombatan GAM ini juga akan mengkonsolidasikan diri di tiap sagoe dan desa yang ada di Aceh Besar. “Mereka akan merapatkan barisan dalam menjaga agar pilkada dapat berlangsung dalam keadaan damai dan bebas dari intimidasi,” kata Thamren Ananda dari Tim Pemenangan Irwandi Yusuf, Senin sore.
Menurut Thamren, bekas kombatan Aceh Rayeuk ini akan menjadi tim khusus untuk memenangkan Irwandi-Muhyan.
“Sehingga apabila ada intimidasi di desa-desa maka eks TNA ini akan bekerjasama dengan pihak kepolisian untuk menghentikan intimidasi dan memberikan rasa aman bagi masyarakat dalam menyalurkan aspirasinya,” ujar sekretaris Partai Rakyat Aceh itu.
Menjelang pemilihan kepala daerah, suara bekas kombatan GAM terbelah. Komite Peralihan Aceh yang diketuai Muzakir Manaf memberhentikan sejumlah panglima dari tampuk KPA, seperti Muharram (Aceh Rayeuk), Saiful Cagee (Bireuen), Irwansyah alias Mukhsalmina (Aceh Rayeuk).
Dalam sebuah rapat, 14 bekas panglima menolak pencalonan Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf sebagai kepala pemerintahan Aceh. Hanya wilayah Pidie dan Aceh Utara saja yang menyatakan dukungan terhadap calon yang diusung petinggi GAM itu.
Para bekas panglima yang dipecat inilah yang menyatakan dukungannya terhadap pasangan Irwandi dan Muhyan Yunan. [atjehkita.com]
sumber:
 http://www.irwandi.info

Apa Alasan Mantan Pejuang GAM Bentuk Partai Baru

Rapat konsolidasi yang diikuti ratusan bekas kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) hari ini kembali mewacanakan untuk membentuk sebuah partai lokal baru. Lalu, apa alasan mereka berkeinginan untuk mendirikan partai baru?

Irwandi Yusuf, bekas gubernur Aceh, merupakan salah seorang yang berada di belakang pembentukan partai politik baru. Ada juga nama Muharram Idris (bekas panglima wilayah Aceh Rayeuk), Amni bin Ahmad Marzuki (bekas juru runding GAM di masa Joint Security Council), Ligadinsyah (GAM Linge), dan Sofyan Dawood (bekas juru bicara militer GAM).

Irwandi menyebutkan, pembentukan partai lokal baru dimaksudkan sebagai wadah baru bagi bekas panglima wilayah yang sebelumnya menjadi petinggi di tubuh Partai Aceh yang didirikan bekas pentolan Gerakan Aceh Merdeka, dan Komite Peralihan Aceh.

“Mereka sudah dipecat oleh partai dan KPA. Mayoritas mereka dipecat,” kata Irwandi Yusuf saat ditemui di sela-sela rapat konsolidasi eks Tentara Neugara Aceh, sayap militer GAM, di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, Kamis (16/2).

Irwandi menyebutkan, mereka dipecat karena menolak mendukung pasangan calon gubernur dan wakil gubernur yang ditentukan petinggi GAM. Saat itu, petinggi GAM mengusung Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf yang akan dimajukan sebagai calon kepala daerah dari Partai Aceh.

Menurut Irwandi, bekas panglima wilayah dan pengikutnya kemudian tidak lagi mempunyai wadah untuk menyalurkan aspirasi politik. “Hana meuho dong, makanya kita bicarakan sebuah wadah,” kata dia.

Untuk menjamin demokrasi di Aceh berlangsung dengan baik, sebut Irwandi, partai lokal di Aceh tak bisa hanya tunggal. “Tidak cukup satu partai lokal, dibutuhkan dua atau tiga partai lokal agar terbangun komunikasi demokrasi yang baik,” ujar bekas juru propaganda GAM ini. “Kalau satu saja yang mendominasi, tidak jalan demokrasi di Aceh.”

Irwandi bercita-cita agar partai politik baru ini nantinya tak hanya dimiliki oleh bekas kombatan dan GAM saja. “Kita ingin partai ini inklusif, bukan hanya untuk bekas kombatan,” sebut Irwandi.

Keinginan mendirikan partai lokal baru juga disuarakan Muharram dan Sofyan Dawood. Muharram malah bilang mereka tengah menyusun dan mematangkan statuta serta anggaran dasar dan anggaran rumah tangga partai lokal yang tengah diinisiasi.

Muharram dulunya berada di pucuk pimpinan Komite Peralihan (KPA) dan Partai Aceh wilayah Aceh Besar. Ia berada di barisan bekas panglima yang diberhentikan oleh petinggi KPA/GAM.

“Ibarat orang yang sudah bercerai, ia akan mencari pendamping baru,” ujar Muharram bertamsil.

sumber:
http://www.irwandi.info

Rabu, 15 Februari 2012

Irwandi Tak Akui Pimpinan GAM Selain Hasan Tiro

Gubernur Aceh Irwandi Yusuf menyatakan dirinya hanya mengakui Tengku Hasan Muhammad Di Tiro sebagai satu-satunya pemimpin GAM. Selebihnya, menurut Irwandi, hanya pimpinan yang kerjanya tidur-tiduran di luar negeri. 
Sebagai orang dalam yang berperan dalam konflik, saya tahu persis siapa pemimpin saya. Tengku Muhammad Hasan Di Tiro adalah pemimpin GAM dan rakyat Aceh, saya akui itu. Sedangkan yang lain, tidak,kata Irwandi saat berbicara dalam Raker Partai Rakyat Aceh (PRA) di Hotel Hermes Palace, Kamis (30/6).
Irwandi juga sempat berkisah. Menurut dia, semasa berperang di Aceh melawan penindasan pemerintah pusat, semua kebutuhan disiapkan GAM secara mandiri.Kami bertempur di sini, kami juga membeli senjata, amunisi, dan kami juga yang menjadi korbanya,kata Irwandi.
Tak hanya itu, menurut Irwandi, GAM di Aceh juga yang membiayai orang-orang yang mengatakan sebagai pemimpin untuk melakukan diplomasi internasional, tapi sayangnya kerjanya hanya tidur. Kami punya perdana menteri, yang kerjanya hanya tidur. Kami punya menteri luar negeri yang alamat kedutaan besar negara sahabat saja tak tahu. Maka tak salah jika saya mengatakan hanya ada satu pemimpin GAM di Aceh, yaitu Tengku Hasan Muhammad Di Tiro,katanya.
Di Aceh, kata Irwandi, tugas yang diberikan pada anggota GAM dilaksanakan 120 persen.Tapi apa yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku pemimpin-pemimpin GAM di luar negeri, tak mencapai 50 persen,bebernya.Itulah sebabnya, menjadi sia-sia banyak tokoh masyarakat Aceh yang diperintahkan untuk dihilangkan di massa konflik, jika pada akhirnya seperti ini.
Dia mencontohkan, Muhammad Jafar Sidiq adalah korban yang dihilangkan secara sia-sia. Kemudian, Tengku Muhammad Nazrudin Daud, Ismail Saputra.Ini pun dilenyapkan,katanya. Lalu ada nama Profesor Safwan Idris, Profesor Dayan Dawood, Teuku Johan (mantan Pangdam).Ini juga dikorbankan karena perintah pimpinan,kata Irwandi.
Kecuali itu, soal tapol-napol yang masih ditahan di Jakarta, seperti Ismuhadi, Ibrahim, dan Irwan. Mereka menjalankan tugas karena diperintah atasan. Tapi sekarang atasan mangkir dan tak mau memperjuangkan mereka,katanya.
Menurut Irwandi, saat dirinya masih di AMM pada 2005-2006 dulu, selalu menempatkan tiga nama tadi diurutkan teratas untuk diberi amnesti.Tapi kemudian, pimpinan GAM, yakni Malik Mahmud, Zaini Abdullah dan Zakaria Saman, nama-nama itu dihapus, karena dianggap teroris,jelasnya.
Kira-kira beberapa bulan lalu, lanjut dia, ada pula pertemuan antara pimpinan GAM dan jajaran Menkopolkam. Di situ, para pimpinan kembali berupaya membebaskan para tapol-napol.Tapi, oleh unsur Menkopolkam mengingatkan bahwa para tapol-napol itu telah masuk dalam daftar terorisme, dan para pimpinan GAM menjawab benar,kata Irwandi.
Itulah sebabnya, semakin tipis peluang membabaskan para tapol-napol itu.Tapi, saya sebagai Gubernur Aceh akan tetap berusaha meminta pada pemerintah pusat untuk berbaik hati membebaskan tokoh-tokoh ini, bisa dengan cara memberi amnesti atau grasi,katanya.
Di beberapa kesempatan, lanjut dia, pada jajaran Menkopolkam dirinya mengaku sudah menyampaikan bahwa ketiga orang itu adalah GAM.Jajaran Menkopolkam menjawab, bahwa pimpinan GAM sudah mengatakan mereka itu teroris,katanya.
Haramkan Raqan Pemilukda
Sementara itu, usai pidato, menanggapi pertanyaan wartawan, Irwandi tegas mengatakan dirinya mengharamkan raqan Pemilukada Aceh 2011 hasil paripurna DPRA Selasa lalu, singgah di mejanya. Kalau sudah sepakat,tapi saya tak teken karena ada halangan, maka itu berlaku secara otomatis setelah 30 hari.Tapi, inikan masih belum ada kesepakatan. Artinya itu masih rancangan qanun. Jadi haram kalau dibawa ke meja saya,katanya.
Irwandi juga menyerukan bagi semua masyarakat yang berminat menjadi pimpinan daerah melalui jalur independen, bisa tetap mendaftar.Putusan Mahkamah Konstitusi berlaku seluruhnya di Indonesia, tak ada peraturan daerah yang mampu menganulir putusan MK,katanya.(dad)

http://harian-aceh.com

Selasa, 14 Februari 2012

Bapak Irwandi Yusuf Akan Buat Partai Baru

Bekas kombatan Gerakan Aceh Merdeka dikabarkan akan segera membuat partai lokal baru yang terlepas dari Partai Aceh, yang didirikan pentolan Gerakan Aceh Merdeka. Tak hanya mendirikan partai politik lokal, mereka juga disebut-sebut akan melepaskan diri dari organisasi Komite Peralihan Aceh.

Bekas Gubernur Aceh Irwandi Yusuf dan bekas Panglima GAM Aceh Rayeuk Muharram yang berada di belakang ide pembentukan organisasi dan partai politik lokal baru sebagai wadah berkumpulnya bekas kombatan.
Irwandi menyebutkan, pembentukan partai dan organisasi baru sebagai tempat bernaungnya bekas kombatan yang memilih keluar atau dipecat dari KPA.
Rencana pembentukan partai dan organisasi baru bagi kombatan GAM itu muncul dalam rapat konsolidasi yang diikuti oleh 130 bekas kombatan GAM wilayah Aceh Rayeuk di Asrama Haji Banda Aceh, Senin (13/2).
Ide untuk membentuk organisasi dan partai politik baru ini, kata Humas Tim Pemenangan Irwandi Thamren Ananda, karena sejumlah bekas petinggi kombatan GAM merasa tidak punya tempat bernaung lagi.
“Mereka tidak lagi berada di bawah KPA, karena sudah dipecat. Mereka tidak diakui lagi, karena tidak mau menerima keputusan pimpinan,” kata Thamren kepada acehkita.com yang mengikuti pertemuan tersebut. “Wadah ini sebagai tempat mereka membicarakan langkah ke depan.”
Menurut Thamren, partai politik lokal akan segera dibentuk begitu sudah ada petunjuk teknis pembentukan partai politik baru dari Departemen Kementerian Hukum dan HAM.
Ide ini akan dimatangkan lagi dalam pertemuan di 17 wilayah dalam waktu dekat ini. “Nanti akan berkumpul seluruh panglima dari 17 wilayah. Direncanakan sebelum pilkada,” ujarnya. [acehkita.com]
http://irwandi.info
 

Sabtu, 11 Februari 2012

Penghargaan Bapak Irwandi Yusuf Selama Menjabat sebagai Gubernor Aceh

NAMA :
  •  Irwandi Yusuf 
LAHIR :
  •  Bireuen, Aceh, 2 Agustus 1960 
AGAMA :
  • Islam

PENDIDIKAN:
  • Sekolah Penyuluhan Pertanian di Saree
  • Sarjana Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, 1987
  • S2 Fakultas Kedokteran Hewan, Oregon State University, 1993
PENGALAMAN:
  • Dosen Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh sejak 1988
  • Pendiri dan pengurus lembaga swadaya Fauna dan Flora Internasional, 1999-2001
  • Palang Merah Internasional
  • Gerakan Aceh Merdeka atau GAM sebagai Staf Khusus Komando Pusat Tentara GAM selama 1998-2001
  • Tim Perunding GAM di Helsinki, Finlandia
  • Kepala Perwakilan GAM untuk Aceh Monitoring Mission (AMM)
  • Gubernur Provinsi Aceh Periode 2007-2012

APRESIASI DAN PENGHARGAAN :

Tahun 2011
  • Penghargaan Dari Ulama Dayah atas kepeduliannya kepada pendidikan dayah di Aceh
  • Penghargaan Sebagai Warga Kehormatan Raider Kodam Iskandar Muda Aceh

Tahun 2010 
  • Penghargaan Ketahanan Pangan dan Peningkatan Produksi Beras dari Presiden RI
  • Penghargaan Ksatria Bhakti Husada dari Menteri Kesehatan (Menkes)
  • Penghargaan Adiupaya Puritama dari Menneg Perumahan Rakyat
  • Penghargaan khusus dari Polri dalam mendukung pemberantasan Terorisme
  • Penghargaan dalam penyusunan Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) dari Menteri Negera Lingkungan Hidup
  • Penghargaan Citra Pelopor Inovasi Pelayanan Prima Tahun 2009 dari Kementerian Negara Pemberdayaan Aparatur Negara (PAN)


Tahun 2009
  • Penghargaan dari Menteri Dalam Negeri atas inisiatif, konsistensi dan peningkatan pelayanan terpadu satu pintu (PTSP)
  • Penghargaan dari majalah Birokrat Profesional Sebagai Gubernur Paling Visioner 2009 dalam Bidang Pengembangan Demokrasi dan Perdamaian
  • Piagam penghargaan dari Presiden RI atas peraturan daerah yang diterbitkan tentang pelayanan anak
  • Penghargaan dari Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) sebagai pembina olahraga sepakbola terbaik


Tahun 2008
  • Penghargaan dari Kadin Indonesia atas pemikiran dan dukungannya terhadap berbagai program Kadinda Aceh dalam pengembangan dunia usaha di Aceh
  • Penghargaan dari Presiden RI atas partisipasi aktif dalam upaya pemberantasan narkoba  di Aceh
  • Penghargaan Open Source Software dari Menkominfo dan Menristek

Tahun 2007
  • Penghargaan Widyakrama dari Presiden, Penghargaan atas prestasi dalam melaksanakan pendidikan dasar menengah dan wajib belajar sembilan tahun.
 http://irwandi.info

Gubernur Aceh Irwandi Yusuf Diarak Massa Pendukungnya

Gubernur Aceh Irwandi Yusuf resmi menyerahkan jabatannya sebagai gubernur kepada Tarmizi A Karim. Masa jabatan Irwandi berakhir pada 8 Februari 2012.
Tarmizi Abdul Karim merupakan sosok  terpilih memimpin Aceh untuk beberapa waktu kedepan. Tarmizi pernah menjabat sebagai Bupati Aceh Utara periode 1998-2004 dan juga pernah menjadi Penjabat (Pj) Gubernur Kalimantan Timur periode 3 Juli 2008 - 17 Desember 2008.
Saat kembali ke Aceh, Irwandi sudah ditunggu oleh massa pendukungnya di Bandara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Aceh Besar. Irwandi meletakkan jabatannya secara terhormat dan maju dalam Pemilihan Gubernur Aceh 2012 dari jalur perseorangan. 
Seturunnya dari pesawat, Irwandi beserta massa pendukung yang sudah menunggu melakukan konvoi dari Bandara mengelilingi Kota Banda Aceh.
Seratusan mobil dan sepeda motor yang berstempel gambar-gambar Irwandi bersama pasangannya Muhyan Yunan mengekor mengikuti mobil yang disetir sendiri Irwandi. Jalan yang dilalui kendaraan sempat mengalami kemacetan beberapa saat.
Konvoi itu berakhir di rumah Irwandi di kawasan Lamprit Banda Aceh. Di sini, bekas juru propaganda Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu menjamu massanya.
Pengurus Pusat Tim sukses pasangan Irwandi Yusuf-Muhyan Yunan, Oki Rahmatna Tiba mengatakan, penyambutan ini adalah bentuk antusiasme masyarakat terhadap kepemimpinan Irwandi selama lima tahun di Aceh. "Bagi kami Irwandi masih Gubernur dan akan lagi menjadi Gubernur," ujarnya di Aceh, Jumat (10/2/2012).
Di hadapan massa pendukungnya, Irwandi mengaku tidak pernah berambisi menjadi pemimpin, karena dari kecil sama sekali tidak pernah punya pengalaman memimpin. "Waktu sekolah, saya tidak pernah menjadi ketua kelas, juga tidak pernah terlibat dalam organisasi-organisasi," terangnya.
Dia mengaku, mencalonkan diri karena desakan rakyat dan ingin mempertahankan perdamaian Aceh yang masih rapuh. "Kalau semua bisa mempertahankan damai ini, saya tentu tidak akan mau lagi memimpin," terangnya.
Dia berpesan kepada tim suksesnya, agar mewujudkan Pilkada damai, jangan menghalalkan segala cara untuk meraih dukungan masyarakat. Bentuk kezaliman dalam Pilkada harus dicegah dan dilawan.

Sumber: www.sindonews.com
 http://irwandi.info

Minggu, 05 Februari 2012

Surat "Terakhir" dari Darwati Irwandi Yusuf,Ibu Gubernur Aceh

Tiga hari lagi, masa jabatan Irwandi Yusuf akan berakhir, tepatnya 8 Februari 2012. Lima tahun menjabat gubernur Aceh, ia didampingi seorang wanita murah senyum yang tak segan-segan turun ke daerah, bahkan ke lokasi bencana sekalipun. Darwati A. Gani, perempuan itu, adalah first lady Aceh sejak 8 Februari 2006. 
Hari ini, 5 Pebruari 2011, redaksi The Atjeh Post menerima sepucuk surat istimewa yang dikirimkan lewat surat elektronik (email). Pengirimnya, tak lain adalah first lady itu, Darwati. Menggunakan email pribadinya, Darwati mengatakan, surat ini dibacakan sebagai pidatonya di Mesjid Raya Baiturrahman untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Berikut adalah isi surat  first lady Aceh ini 
Banda Aceh, 5 Pebruari 2012

Ibu dan bapak serta saudaraku sekalian
Tak terasa sudah lima tahun saya mendampingi Bapak Irwandi Yusuf sebagai Gubernur Aceh. Dalam masa-masa itu, banyak hal yang telah kami lewati. Tantangan demi tantangan datang silih berganti. Tetapi, kami menikmatinya sebagai bagian dari tugas mulia. Selama itu pula kami mendapat hal-hal baru yang belum pernah ada sebelumnya.Ada empat hal yang ingin saya katakan. Pertama, saya ingin sekali mengatakan rasa terharu saya atas jalinan persaudaraan yang sudah kita jalin selama, lebih kurang lima tahun ini. Buat saya, persaudaraan itu rahmat besar. Satu saja bertambah saudara itu sudah membahagiakan. Apalagi jika lebih dari satu. Menjalin persaudaraan dengan seluruh masyarakat Aceh sungguh membahagiakan hati. Jika pun ada yang saya sedihkan itu karena saya belum bisa menjangkau secara langsung semua saudara saya yang ada di Aceh. Saya sudah berusaha masuk kampung ke luar kampung untuk bertemu semuanya. Tapi apa daya, luasnya wilayah Aceh tidak membuat saya bisa menjangkau seluruhnya. Tapi, saya yakin, jarak bukan penghalang, bertemu bukan segalanya,  jalinan hati kita yang saling terhubung dalam rasa keacehan dan keindonesiaan adalah segalanya.
Jika satu saja bertambah saudara sudah membuat bahagia tentu sebaliknya, akan sedih sekali jika harus kehilangan saudara. Karena itu, jika mungkin, saya berharap jalinan persaudaraan yang sudah terbangun selama ini tidak berakhir meski masa tugas kami selama lima tahun akan segera berakhir tanggal 8 Februari 2012 ini.
Bagi saya, persaudaraan adalah jalinan hubungan hati untuk selamanya. Jadi saya ingin persaudaraan diantara kita sepenuhnya persaudaraan yang didasari pada hati. Itu harapan saya dan tentu saja saya menghormati harapan dan sikap semua.
Buat saya, ini persaudaraan yang amat indah. Saya tidak akan mengganti keindahan ini dengan memutus jalinan persaudaraan. Saya ingin terus menambah dan memperkuat kualitas persaudaraan baik selama bertugas maupun saat menjadi rakyat biasa.
Kedua, saya ingin menyampaikan terimakasih yang tak terhingga atas semua bentuk dukungan yang telah diberikan oleh segenap rakyat Aceh selama lima tahun ini. Sungguh, semua bentuk dukungan, sekecil apapun sangat berarti. Saya sangat menyadari, tanpa dukungan tidak ada yang bisa diwujudkan dalam kerja-kerja sosial, kerja-kerja kemanusiaan, kerja-kerja pendidikan dan kerja-kerja pembangunan lainnya.
Saya juga ingin mengatakan betapa terharunya saya setiap kali melihat dukungan yang datang dari semua masyarakat Aceh. Sungguh, itu dukungan yang amat tulus. Saya bisa merasakan dari lubuk hati saya sehingga setiap dukungan menjadi sangat berarti dan membekas hingga saat ini. Ibarat matahari, dukungan itu memberi penerangan. Ibarat air, dukungan itu memberi kesejukan. Ibarat tanah, dukungan itu memberi kelapangan. Maka, izinkanlah saya membawa dukungan ini ke dalam kenangan hidup saya. Saya ingin menjadikannya sebagai catatan sejarah yang membanggakan.
Ketiga, hari ini adalah Maulid Nabi Muhammad. Saya berharap zikir maulid ini dapat menjadi angin yang menyejukkan suasana politik yang agak memanas belakangan ini, dengan harapan Aceh akan selalu aman, damai, dan Pilkada juga bisa melahirkan pemimpin yg terbaik untuk Aceh ke depan. Lebih dari itu, melalui zikir akbar maulid nabi, diharapkan ada pencerahan oleh ibu Eli Risman terkait keteladanan Rasulullah agar kita bisa merajut ukhwah Islamiyah dalam menyiapkan generasi yang tangguh di era digital.
Keempat, izinkan saya memohon maaf atas segala kekhilafan, kekurangan dan kesalahan saya selama lima tahun ini. Saya sadar tidak mungkin menjadi sosok sempurna. Jika tidak ada gading yang tidak retak maka tentu saja saya juga tidak luput dari kekhilafan, kekurangan dan kesalahan. Untuk itu, sekali lagi saya memohon sudi kiranya dimaafkan.
Sungguh, banyak sekali yang masih ingin dimaksimalkan dari apa yang sudah diperbuat dengan dukungan semua. Juga masih banyak yang ingin dibuat lagi bagi masyarakat dan Aceh. Tapi apa daya, waktu membatasi niat, gagasan dan rencana yang ada.
Terakhir, izinkan saya mengatakan tidak ada yang perlu ditangisi. Jabatan, tugas dan kesempatan itu hanya amanah sesaat aja. Jika pun ada yang harus ditangisi adalah karena saya belum maksimal berbuat. 
Demikianlah, wabillahitaufik wal hidayah, wassalamu'alaikum Wr. Wb.
[atjehpost.com]/
Situs Web Resmi drh. Irwandi Yusuf M.Sc