Jumat, 06 April 2012

Keluarga Protes Penempatan Foto Abdullah Syafii di Atribut Kampanye

Banda Aceh—Keluarga Teungku Abdullah Syafii memrotes penempatan foto mantan panglima Gerakan Aceh Merdeka itu pada atribut partai demi kelancaran kampanye kandidat kepala daerah, seperti terlihat di atribut beberapa partai belakangan ini.
Teugku Beulawan, sepupu Teungku Abdullah Syafii menyatakan, seandainya Abdullah Syafii masih hidup, ia tak ingin gambarnya ditempel di atribut partai. Bahkan tak mau menjadi ketua partai.
“Bila masih hidup (seperti semasa hidupnya), dia selalu condong hatinya kepada yang terbaik, bukan jadi ketua partai. Bila ada dugaan orang demikian, itu sangat mustahil,” sebut Teungku Beulawan kepadaPikiran Merdeka, Jumat (6/4), melalui pesan pendek.
Beulawan paham betul gerak-gerik panglima sayap militer yang akrab disapa Teungku Lah itu. Kata dia, semasa hidup, Abdullah Syafii selalu memberi amanah atau pesan padanya agar berbakti pada masyarakat Aceh dan berperadaban baik.
“Dia merincikan satu-persatu cara berbakti kepada masyarakat Aceh, yaitu rohaniah kepada masyarakat Aceh, kasih sayang kepada masyarakat Aceh, dan bersifat pelihara kepada masyarakat Aceh,” sebutnya.
Dari amanah itu, Beulawan menyimpulkan, Abdullah Syafii panglima GAM yang sangat miskin. “Ini wajar-wajar saja, karena dia lahir dari keturunan miskin. (Harusnya) ini menjadi teladan bagi pemimpin Aceh ke depan,” sebutnya.
Teungku Abdullah Syafii turut merintis dan mendampingi Hasan Tiro saat pendeklarasian GAM pada 4 Desember 1976. Ia juga panglima komando pusat yang mengkoordinir seluruh sayap militer GAM ketika konflik Aceh mencapai puncak pada akhir 1990-an hingga 2002.
Ia meninggal bersama istrinya dalam kontak tembak dengan TNI di Desa Blang Sukon, Cubo, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya, 22 Januari 2002. Dimakamkan di desa yang sama.
Tengku Lah di mata tokoh dipandang sebagai seorang berkepribadian sederhana dan antikekerasan. Ia dilahirkan di Desa Seuneubok Rawa, Kecamatan Peusangan, Bireuen. Pendidikan terakhirnya hanya sampai kelas tiga di Madrasah Aliyah Negeri Peusangan.




 http://pikiranmerdeka.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar